Roti Gambang, Roti Legendaris

Roti Gambang, Roti Jadul yang Legendaris 

Roti gambang


Sejujurnya tidak  kepikiran ingin makan roti gampang apalagi membuatnya sendiri, sampai komunitas Indonesia Food Blogger  ngadain challenge blog dengan tema roti gambang. Tema yang bikin flash back ke masa kecil, jajan roti gambang di warung tetangga. Oh kalau di Bandung  roti gambang disebut roti/kue bangket dengan lapisan putih ditengahnya yang katanya keju tapi karena kami biasa membeli roti angket versi warung yang harganya murah pasti isinya cuma keju hanya serupa keju heuheu. Roti gambang/bangket biasanya ditempatkan dalam toples plastik, disusun secara  vertikal karena bentuknya lonjong. Warna coklat dari gula merah, wangi kayu manis dan taburan wijennya, jadi kekhasan roti gambang. Bapak saya biasanya menikmati roti gambang dengan cara dicelupkan ke dalam kopi , bagian yang kecelup ini yang dimakan. Tekstur roti gambang agak padat dibanding roti pada umumnya sehingga sebagian orang menikmatinya dengan cara dimasukan ke dalam minuman, kopi atau teh.

Dinikmati dengan kopi atau teh

Penampakan roti banget Bandung yang semilar dengan roti gambang. 

Roti bangket premium di jual di toko roti legendaris di Bandung, toko roti Sidodadi. 



Ingatan masa kecil itu membuat saya ingin makan  roti gampang, cari-cari di toko roti sekitar gunung sindur-pamulang tidak ketemu. Dapat rekomendasi di grup, kalau merk roti Tan Ek Tjoan ada varian roti gambangnya. Sayangnya tukang roti keliling Tan ek Tjoan  tidak lewat tempat saya tinggal, pernah lihat beberapa kali di pasar reni baru, giliran sengaja ke pasar untuk cari kang roti keliling  Tan Ek Tjoan, eh tukang rotinya tidak ada.  Intip di marketplace banyak, sayangnya ongkir lebih mahal dari harga rotinya.

Coba browsing resepnya di internet, kelihatannya sih ga susah, akhirnya coba bikin setengah resep. Alhamdulillah ga gagal, cukup enak walaupun kurang sempurna. 

Sebelum intip resep roti gampang, boleh baca dulu asal muasal roti gampang si roti jadul dan legendaris.

Roti Gambang,  Roti jadul jaman kolonial

Menurut artikel yang saya baca roti gampang ada sejak jaman Belanda. Pada jamannya, roti gambang menjadi menu sarapan. Kabarnya pabrik roti ini ada di Batavia (sekarang Jakarta), penamaan gambang berasal dari alat musik betawi gambang kromong, karena bentuknya dibuat seperti alat musik gambang.

Roti serupa di Semarang, disebut roti ganjel rel. Kenapa ya disebut roti ganjel rel? Apa karena bentuknya seperti kayu yang jadi ganjel kereta api, atau karena padatnya tekstur roti ini sehingga bisa buat ganjel rel heuheuheu. Yang pasti roti ini cukup untuk mengganjal perut dari rasa lapar. Roti ganjel rel di Semarang berasal dari roti Belanda yang dinamakan ontbijtkoek.

Dari artikel yang saya baca juga, roti gambang merupakan roti yang dibuat dengan penyesuaian bahan dan citarasa  orang Indonesia pada jaman itu, seperti penggunaan gula merah, rempah kayu manis dan wijen. Ketiga bahan ini yang sekaligus jadi kekhasan roti gampang, selain teksturnya yang lebih padat dan mengenyangkan.

3 bahan yang menjadi kekhasan roti gambang
Gula merah, kayu manis dan wijen


Gula merah

Gula merah adalah sebutan umum untuk gula yang berwarna coklat, yaitu gula jawa, gula aren dan brown sugar. Yap warnanya bukan merah tapi coklat  tapi entah kenapa dari jaman nenek moyang gula-gula berwarna coklat itu disebutnya gula merah.

Walaupun berwarna dan berasa sama manisnya, sebenarnya berbeda lho antara gula jawa,  gula aren, dan brown sugar baik dari bahan pembuatnya, aroma dan penampilannya (kalau diperhatikan dengan seksama).

Gula jawa dibuat dari nira pohon kelapa, sagu, kurma atau aren. Disebut gula jawa karena umumnya gula ini diproduksi di pulau jawa. Umumnya dijual dalam  berbentuk potongan bukan serbuk.

Gula aren terbuat dari nira pohon aren. Gula aren dijual dalam beragam bentuk; potongan, serbuk dan cairan hingga praktis jika dijadikan campuran resep kue atau pelengkap hidangan. Dari segi harga gula aren sedikit lebih mahal dari gula jawa. Gula aren biasanya diterjemahkan dengan palm sugar.

Brown sugar adalah gula pasir yang ditambahkan molase sari tebu yang membuatnya berwarna coklat. Serbuknya bening mengkilat seperti kristal.  

Dari segi pembuatan, brown sugar diolah dengan mesin/pabrikan. Gula jawa dan gula aren dari tetesan nira pohon yang ditampung lalu difermentasi. Gula jawa dan gula aren banyak yang masih diproduksi secara tradisional dalam skala rumahan (umkm) tapi ada juga yang sudah diproduksi di pabrik.

Oh ya satu lagi nih kelebihan gula aren, aroma dan citarasa manisnya memberikan sensasi rasa lezat yang khas  jika dicampur pada makanan/masakan dan minuman.

Kebanyakan makanan/minuman tradisional Indonesia menggunakan gula aren seperti cendol, roti gampang, awug atau dongkal dsb.  Kini kopi dengan campuran gula aren banyak digemari di Indonesia dan sangat populer.

Gula Aren Organik

Ada yang pernah dengar istilah gula aren organik? Apa bedanya dengan gula aren biasa? Gula aren organik pada proses pembuatannya tidak ditambahkan pengawet sintesis yang berasal dari bahan kimia tapi menggunakan pengawet dari bahan alami yang berasal dari tumbuhan. Gula aren yang asli organik, biasanya sudah tersertifikasi organik, artinya tidak sekedar mencantumkan nama organik tapi sudah tersertifikasi. Salah satu gula aren organik yang sudah tersertifikasi adalah gula aren organik Arenga.

Gula aren organik tentunya lebih sehat, untuk membuat roti gambang, lebih bagus menggunakan gula aren organik agar manisnya lebih sehat. 

Gula aren Arenga, bisa intip websitenya ya


Kayu manis

Kayu manis atau cinnamon salah satu rempah yang sangat familiar di masyarakat Indonesia. Rempah ini berasal dari kulit kayu manis, pohon dari genus cinnamon. Rempah ini beraroma manis, seperti namanya, tidak hanya dijadikan ingredients pada masakan seperti sop padang, gulai dan rendang,  juga aneka cake, kue basah, kue kering dan minuman tradisional.

Kayu manis memberi rasa dan aroma yang khas pada makanan atau minuman. Selain itu kayu manis juga memiliki banyak khasiat yang sudah dikenal masyarakat Indonesia, tak heran banyak minuman tradisonal dan jamu menggunakan rempah ini. Salah satu khasiat kayu manis menurut dr. Zaidul Akbar menurunkan gula darah dan detox, resepnya bisa teman-teman googling sendiri ya heuheu.

Wijen

Wijen adalah biji kecil yang kaya minyak. Teman-teman yang rajin ke dapur pasti kenal minyak wijen, minyak yang biasa digunakan untuk tumisan dan harganya lumayan. Minyak ini berasal dari biji wijen. Biji wijen sendiri berasal dari tanaman bernama sesamum indicum.

Wijen memiliki banyak khasiat salah satunya untuk kesehatan pencernaan karena kandungan seratnya.

Resep Roti Gampang 

Resepnya saya ambil dari websiteb EndeusTV dengan takaran 1/2 resep

Video cara pembuatannya bisa intip di reel ini Video resep roti gambang

Bahan

150 gram tepung terigu

60 gram tepung roti

90 gula aren cair atau bubuk

1 butir telur

25 gram gula pasir

½ sdt soda kue

¾ sdt baking powder

25 gram margarine

air untuk olesan

wijen untuk taburan

Cara membuat

Jika menggunakan gula aren halus, larutkan dulu dengan air hingga larut

Larutkan gula

Campur bahan kering; terigu, tepung roti, soda kue, baking soda, gula pasir, aduk rata.

campur bahan kering 

Campur bahan kering


Tambahkan telur dan gula


Masukkan telur, gula aren dan margarine, uleni. diamkan selama 20 menit.


Diamkan 20 menit, tutup dengan lap


Bentuk adonan, basahi dengan air atasnya baru taburi wijen.

Siap dipanggang

Panggang di oven pada suhu 170 derajat selama kurang lebih 15- 20 menit.

Berani mencoba bikin roti gambang?

Beberapa hari sebelum tulisan ini di posting sepulang antar anak sekolah ketemu kang roti keliling Tan Ek Tjoan di pasar reni baru Pamulang, langsung beli roti gambang heuheu. 

Setelah dicoba, bedanya roti gambang buatan sendiri dan Tan Ek Tjoan, roti gambang Tan Ek Tjoan lumer dimulut kalau diemut, enaknya sih sama heheheh. 

Ga penasaran lagi sama roti gambang
Merk Tan Ek Tjoan :) 



Blog post ini diikutsertakan dalam IDFB Blog Challenge


Referensi tulisan

https://www.merdeka.com/gaya/sejarah-roti-gambang-tiruan-sarapan-orang-belanda-hingga-jadi-kuliner-kekinian.html

https://arengaindonesia.com/

Aktivitas Kreatif Tak Terbatas Remaja Gen Z dengan IndiHome, Internetnya Indonesia

Manfaat Internet bagi remaja generasi Z

Memanfaatkan blog sebagai media kreatif


Liburan sekolah akhirnya berakhir, anak-anak semangat kembali ke Sekolah. Yap setelah dua tahun sekolah daring, moment pergi ke sekolah sangat ditunggu-tunggu. Bahkan saat menjelang liburan semester kemarin si sulung mengeluh,”Aku ga mau libur sekolah. Sebel libur sekolah terus.” 

Si sulung (kelas 2 smp)  ga suka libur sekolah bukan karena hobi belajar, kutu buku atau rangking 1 dapat beasiswa,  ikut olimpiade science, itu sih harapan Mamanya heuheu. Sesekali dia ikut perlombaan mewakili sekolahnya tapi bukan bidang akademis.  Nilai akademisnya sampai saat ini alhamdulillah cukup baik. Si anak gadis pernah bilang sebel sama matematika  tapi saya selalu bilang mengerjakan soal matematika itu asik kayak main game. Jadi kenapa si anak gadis ga mau libur sekolah?

Si sulung  tipe anak supel dan senang berorganisasi, punya inisiatif jadi seksi sibuk kalau ada acara di sekolah sejak sekolah dasar. Kalau ada lomba antar kelas dia paling sibuk mengatur dan membuat rencana ini itu. Saya pernah menuliskan cerita masa sekolah dasarnya  tentang aktivitas di ekskul dan organisasi kepanduan di Masa-masa Indah di Sekolah Dasar.

Dua tahun pandemi menuntutnya belajar daring dan tidak berinteraksi dengan temannya secara langsung sempat membuatnya stress, murung dan uring-uringan sampai menemukan sesuatu lewat internet dan media sosial, ‘teman’ dan ‘mentor’ nya menggambar, dengan memfollow ilustrator-ilustrator senior. Dia memang suka menggambar sejak sekolah Taman Kanak-kanak.

"Ma, aku ikut webinar digital art ya, Mama bayar ya, aku kirim ke wa Mama form isiannya."

"Ma, ada webinar animasi, aku pengen ikutan, Mama bayarin ya. "

"Ma, kayaknya aku harus punya laptop sendiri, laptop Mama jadul tiap aku pake gambar  hang melulu ga bisa  ngerender," Laptop saya memang jadul, spesifikasi rendah karena peruntukan hanya untuk menulis, ngeblog.  Akhirnya laptop bapaknya dilungsurkan karena speknya cukup tinggi. 

"Memangnya dia bisa mengoperasikannya, kan beda, aplikasinya gambarnya juga beda,"tanya saya pada Suami. Beradaptasi pada sistem operasional baru kan agak ruwet, pikir saya. 

"Bisalah emang Mamanya," cibir suami.

Ternyata memang hanya butuh waktu satu hari si sulung beradaptasi dengan sistem operasional dan aplikasi baru di laptop barunya. 

Beberapa hari berikutnya, dia bertanya pada saya cara membuat blog. "Aku mau simpan gambar di blog Mah, bukan nulis kayak Mama, buat open commision gitu. Mama ngerti kan open commision?"

Moment-moment  yang menghentak kesadaran saya jika si sulung bukan anak kecil lagi. Inisiatif, keluwesannya beradaptasi dengan teknologi, caranya menentukan pilihan,  kemampuannya menerapkan atm  (amati, tiru dan modifikasi) dan menangkap peluang,  mengingatkan saya pada istilah generasi Z, generasi yang sejak kecil kenal dan akrab dengan gawai yang canggih. Internet menjadi bagian dari gaya hidup yang bermanfaat. 

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan tahun 2020, disebutkan bahwa generasi Z atau Gen Z merupakan penduduk yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012 atau generasi yang berada pada rentang usia 10-25 tahun.  Sebuah generasi peralihan dari generasi millennial dengan teknologi-teknologi yang makin berkembang. 

Generasi Z yang akrab dengan teknologi digital dan menjadikannya bagian dari keseharian. Belajar tidak hanya dari bangku sekolah juga dari internet.

Selama pandemi si sulung ikut beberapa kali webinar tentang digital art, ikut lomba desain dan gambar walaupun belum sempat menang, saya senang karena wajah murungnya berangsur hilang. 

Ada saatnya dia bosan menggambar dan merasa tidak ada ide seperti saat menjelang liburan kemarin. “Terus aku ngapain di rumah? Liburannya lama lagi.”


Remaja generasi Z fasih dengan beragam aplikasi 
Boleh intip koleksi gambarnya di www.zahrayes.blogspot.com


"Ya, bantuin Mama aja beresin rumah,"saran saya, selama liburan sekolah otomatis porsi bantu pekerjaan rumah bertambah. 

Boleh intip animasi sederhana hasil si sulung, menggabungkan gambar dengan photoshop dan after effect



Suatu hari tanpa diduga  si anak gadis minta dibelikan ayam fillet katanya mau praktik masak. Dan jadilah masakan di foto ini, resepnya dia dapat dari  browsing di Google dan media sosial (instagram dan pinterest). Selang beberapa hari praktik masak  lagi. Berikut hasil masakannya, yang foto Mamanya karena memang suka motret makanan. Si sulung belum tertarik belajar memotret.

Praktikum anak gadis, resep browsing di internet


Kepribadian generasi Z

Keakraban Gen Z dengan teknologi membuat mereka mudah beradaptasi dengan perubahan di dunia digital. Gaya hidup yang banyak tergantung pada akses internet, belajar, bekerja dan aktivitas sehari-hari. Wawasan mereka lebih maju, lebih mampu menerima perbedaan. 

Selain itu kedekatan mereka dengan internet juga secara tidak langsung mempengaruhi kepribadiannya. Sering kita dengar anak jaman sekarang, kurang sopan-santun dan etikanya,  tak sabar dengan proses, tingkat kepedulian pada lingkungan sekitar yang rendah, sibuk dengan dunianya.

Menurut pakar perkembangan anak ini terjadi karena orangtua tidak mempersiapkan mental anak sebelum anak kenal teknologi internet. 

Kalau dalam agama yang saya anut, islam, ada istilah adab dulu baru ilmu, ibu/rumah adalah madrasah (tempat belajar) anak pertama. Artinya orang tua tidak bisa lepas tangan, menjadi pendamping anak mengenal internet dan membekalinya dengan ilmu kehidupan bermasyarakat (budi pekerti, norma dsb).

Tiga gaya hidup ini bisa membuat generasi Z, tidak hanya melek teknologi tapi punya kepedulian yang tinggi pada lingkungan sekitar;

1. Aktif di kegiatan sekolah seperti ekskul dan organisasi kesiswaan. 

2. Bergabung di komunitas hobi yang positif. 

3. Terlibat dalam isu/kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan, agar mereka aware terhadap isu lingkungan yang terjadi di bumi ini. 

Ketiga kegiatan diatas membuat generasi Z berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya, sekaligus melatih kemampuan emosi dan sosialnya. 

Tidak ada kata terlambat mengenalkan anak pada teknologi internet 

Bagi saya bukan hal mudah menunda  anak  kenal  internet karena interaksi saya dengan internet dan media sosial sudah menjadi kebutuhan (karena saya pedagang  online dan Blogger),  interaksi anak dengan teman-temannya yang sudah akrab dengan internet dan media sosial  juga tak bisa dihindari. Ketika saya membatasi akses internet, mereka  ikut menonton youtube atau media sosial saat temannya nonton. Terlebih saya bukan tipe Mamah yang suka mengurung anaknya di rumah. Saya percaya saat anak bermain/berinteraksi dengan orang lain, kecerdasan sosial dan emosionalnya  terasah.  Resikonya, anak cepat kenal hal negatif. Sisi positifnya, hal negatif tersebut jadi bahan diskusi saya dan anak-anak.

Jika dulu, saat saya masih kuliah (1998-2003) bisa mengakses internet dan memiliki gawai itu sebuah previlage mungkin saat ini sebaliknya,  orangtua yang bisa menunda mengenalkan anaknya dari internet dan media social di  usia dini sebuah previlage.

Banyak Ibu termasuk saya (sering) menyerah pada tingkah laku anak lalu memberi gadget dengan alasan biar  anteng. Agar anak  mau makan, si anak dikasih tontonan youtube. Ya daripada  stress toh tidak bisa  jadi ibu sempurna – mencari pembenaran. It’s oke ceunah kalau sesekali karena kalau berkali-kali bisa jadi kebiasaan.

Siapa yang nonton tingkah menggemaskannya Prince Louis dan Princess Charlotte (Putra dan putri Pangeran Inggris Raya) yang beberapa waktu lalu wara-wiri di timeline IG saat mereka menghadiri perayaan  Latinum Jubilee- Perayaan 70 tahun Ratu Elizabeth naik tahta. Tingkah mereka menghadapi kebosanan saat acara itu, Pincess Charlotte beberapa kali tertangkap kamera membuka buku. Pince Louis mulai tantrum tapi Kate, William bahkan Kakeknya Charles, kompak menghadapinya dengan tenang dan berusaha menenangkan tanpa iming-iming gadget. Sungguh saya iri!

Dari artikel atau berita kita juga tahu jika  Bill Gates    memberikan anaknya gadget saat usia remaja. Mark  Zuckkerberg  pendiri facebook dan pemilik media sosial  tidak membiarkan anaknya gadget-an di usia dini.

Mungkin sebagian kita berpikir, apa anaknya ga akan gaptek?

Menurut pakar perkembangan anak,  teknologi adalah hal yang mudah dipelajari sehingga tidak masalah mengenalkan anak pada teknologi internet di atas 3 atau 5 tahun. Jangan merasa ‘berdosa’ karena tidak mengenalkan tonton youtube pada anak usia dini. Anak-anak bisa memahami teknologi dalam hitungan hari tapi butuh waktu lama mengajarkan adab, sopan santun, sikap empati, rasa tanggung jawab, memahami value dalam keluarga, agama dan masyarakat, memahami konsekuensi suatu perbuatan,  toleransi pada perbedaan, punya pendirian  dst.

Terus kita kudu piye yang sudah terlanjur mengenalkan anak pada internet dan media sosial lebih dini?

Paparan internet dan media sosial pada generasi Z di Indonesia

Berdasarkan data BPS tahun 2018,  90% anak muda Indonesia menggunakan internet untuk media social, untuk mengerjakan tugas hanya 31,12%.  Pada masa pandemi, penggunaan internet untuk belajar/mengerjakan tugas mungkin bertambah namun tidak lantas menurunkan menggunaan media sosial, dari pengamatan anak sendiri dan tetangga, anak-anak jadi mengenal media sosial lebih cepat, terutama Tiktok dan Youtube. Anak-anak jadi memiliki handphone sendiri pada usia lebih cepat untuk mengakses internet.

Berdasarkan riset yang digagas perusahaan independent berbasis kecerdasan buatan (AI) Neurosensum Neurosensum yang bertajuk Neorosensum Indonesia consumers Trend 2021: Social Media Impact on Kids  . Rata-rata anak Indonesia mengenal media sosial sebelum usia 7 tahun.  92% nak yang berasal dari kalangan ekonomi bawah  54% diperkenalkan media sosial sebelum usia 6 tahun. Survey ini dilakukan di empat kota besar di Indonesia Jakarta, Medan, Bandung dan Surabaya.

Yap, bicara soal internet pada generasi Z atau generasi yang berada pada rentang usia 10-25 tahun, tidak bisa dipisahkan dari media sosial. Internet membuat anak dan remaja mudah mengakses informasi yang mendukung pendidikan dan ilmu pengetahuan di saat yang sama mereka mengenal lalu mengakses media sosial, sengaja atau tidak sengaja. Seperti pengalaman anak terkecil saya dua tahun lalu, yang tiba-tiba membicarakan Tiktok padahal di gawai kami (saya, suami dan si sulung) tidak ada yang memiliki aplikasi Tiktok, ternyata dia ikut nonton saat temannya (tetangga) nonton. Begitupun awal mulanya si Anak Gadis kenal instagram. Walaupun saya punya akun instagram sejak 2012 untuk mendukung aktivitas ngeblog, saya tidak pernah memperlihatkan atau membicarakan soal instagram pada anak-anak. Usianya 10 tahun , saat dia bertanya,”Apa sih Mah Instagram? Teman-teman aku ngobrolin itu di sekolah.” Saat bertanya itulah saya menunjukkan akun instagram saya dan ngobrol kalau ‘pekerjaan’ Mamahnya ini yang keliatan cuma di rumah aja masak, nyuci dan beres-beres juga bikin konten.

Beberapa waktu kemudian si sulung bilang,”Ma, teman-teman aku punya instagram, memang boleh anak-anak punya?”

Suatu hari si Bungsu pun pernah bertanya,”Mama punya facebook?” Bingung donk karena saya tidak pernah memperlihatkan/membicarakan facebook. “Mamanya ALS punya facebook tahu Ma?”

“Iya biarin aja,” kata saya sambil tertawa. Tapi rupanya dia penasaran, dengan wajah lugu bertanya lagi,”Memangnya Mamah ga punya?” 

Dampak internet terhadap generasi Z

Manfaat internet banyak sekali, tapi kita bisa menutup mata pada dampak negatifnya. Kenal internet otomatis kenal media sosial, dampak negatif ekstrim media sosial pada  remaja, kasusnya sudah sering jadi headline berita,  seperti membuat konten dengan menghalangi truk hingga memakan korban tapi nyatanya tidak membuat kapok. Konten merusak fasilitas umum, seperti remaja yang menendangi pagar kayu di pinggir sungai sebuah taman kota.

Merasa harus eksis sehingga sibuk ngonten, malas sekolah. Ingin viral hingga nekad membuat konten berbahaya atau merugikan orang lain atau dirinya.

Dampak negatif lain termasuk yang tak kasat mata seperti menimbulkan kecemasan  sering juga dibahas para pakar psikolog perkembangan dan bagaimana mengatasinya, tulisan para ahli ini  bisa dengan mudah kita cari di google.  

Kita mungkin tidak dapat menunda anak mengenal Internet dan media sosial tapi bisa menjadi pendamping, partner dan penasehat, agar mereka bisa dengan bijak memanfaatkan internet dan media sosial.

Kita mungkin tidak dapat membatasi akses mereka pada internet dan media sosial tapi kita dapat menetapkan waktu screen time dan membatasi quota agar mereka bisa menentukan prioritas, paham mana yang penting dan tidak untuk kehidupannya kelak.

Kita mungkin tidak dapat memegang kendali sepenuhnya,  apa yang tidak boleh dan boleh mereka akses di inernet tapi kita bisa menanamkan value, norma kesusilaan dan pemahaman agama yang baik  agar mereka memiliki batasan sesuai norma agama dan etika. 

 

Gaya hidup dengan internet membuat Generasi Z bisa berkarya dan lebih kreatif sejak dini

Internet membawa dampak yang luar biasa pada perubahan jaman, teknologi, gaya hidup, kebiasaan bahkan cara pandang. Anak-anak dan remaja diperkotaan tumbuh lebih cepat secara kognitif. Anak-anak sekarang sudah kenal dan paham coding, jaman saya kayaknya kudu kuliah komputer buat paham percodingan. Begitupun dengan beragam aplikasi seperti photoshop, dulu hanya anak desain yang mahir photoshop sekarang anak smp bahkan sd sudah mahir gambar dengan aplikasi ini.

Beberapa remaja membuat konten di media sosial untuk mencari penghasilan, ada yang memang kontennya positif ada yang sekedar hahahihi. Harapannya semoga remaja pembuat konten ini membuat konten positif agar vibes positifnya menular pada remaja lain.

Salah satu contoh kesuksesan berkarya saat usia dini dengan bantuan internet adalah Rich Brayn, berawal dari membuat konten musik rap di Youtube hingga akhirnya berkarir musik di Amerika secara profesional pada usia muda. 

Remaja saat ini banyak yang sudah mahir membuat game dan animasi sederhana. Tak sedikit dari  mereka bisa secara otodidak, tanpa les tapi belajar secara mandiri dari internet (youtube).

Ya pilihannya ada pada orangtua, bagaimana mengarahkan anak-anak dan remaja, agar memanfaatkan internet sebaik mungkin dengan positif.

Saya selalu menanamkan pesan pada kedua anak saya, internet itu pake kuota, kuota itu tidak gratis alias harus dibeli, kalau dibeli tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya rugi dan mubajir. Jangan buat nonton yang tidak ada manfaatnya, konten tidak jelas.  Budget Mamah untuk membeli kuota terbatas karena kebutuhan tidak hanya internet/kuota.

Suka diledekin Mamah pelit kuota tapi akhirnya mereka paham maksudnya. Dan agar penggunaan internet di rumah maksimal manfaatnya saya menerapkan ini pada anak-anak;

Pendidikan adalah prioritas

Salah satu yang saya tanamkan pada anak-anak adalah pentingnya pendidikan termasuk pendidikan agama dan sosial.  Sekolah dengan bertanggung jawab. Karena  pendidikan adalah modal masa depan. Apapun cita-cita mereka, ingin jadi apapun mereka kelak saat dewasa, sekolah /menuntut ilmu dulu. Karena ilmu yang membuat mereka bisa beradaptasi dengan perkembangan jaman.

Menetapkan waktu screen time

Jangankan anak-anak, saya pun kalau udah buka gawai, scrool mendsos, baca berita yang lagi hangat, lihat-lihat aplikasi resep masakan,  suka lupa waktu. Tapi karena saya sudah dewasa, sudah memiliki alarm yang namanya kewajiban. Yap ada kewajiban  yang harus ditunaikan selain terus-terusan mantengin gawai. Memasak, ngeblog, membuat konten, menemani anak belajar dsb. Saya tahu kapan waktunya mengakses internet, kapan harus berhenti.

Anak-anakpun punya kewajiban tapi karena rasa tanggung jawab mereka masih bertumbuh-belum sebesar orang dewasa, orang tua harus mengingatkan. Untuk itulah perlu menetapkan waktu screen time atau membatasi waktu anak mengakses internet. 

Pagi bangun tidur, sekolah tanpa gawai. Kecuali si Anak Gadis yang sudah bawa gawai ke sekolah. Walaupun pihak sekolah menetapkan aturan tidak membuka gawai saat pelajaran sekolah berlangsung, saya kerap mengingatkan kembali aturan itu.

Saat libur sekolah dibatasi juga. Saya lebih banyak mendorong si anak  bungsu main dengan teman-temannya. Keuntungan rumah di perkampungan pinggiran kota, anak-anak masih senang main sepeda, ke sawah, empang dan layangan. Si Anak Gadis sudah tidak main seperti adiknya lagi tapi waktu screen time tetap dibatasi dan dia sudah paham tanpa saya cereweti.

Merekomendasikan akun media sosial inspiratif 

Walaupun Si Anak Gadis tidak menunjukkan tanda-tanda betah di dapur (selalu manyun kalau diminta bantuin Mamah masak), saat dia punya akun IG  saya memintanya  mengikuti beberapa akun masak dan food photography yang kontennya tidak sekedar masak dan moto tapi ada sentuhan seninya. Bukan hanya akun masak saya pun merekomendasikan si anak gadis mengikuti  akun milik photographer kenamaan Indonesia, mengikuti akun pablik pigure seperti  gubenur Jabar Ridwan Kamil karena inspirasi jejak karya arsitekturnya, kepemimpian dan gaya humorisnya. Merekomendasika untuk mengikuti akun DIY, akun media massa, akun pecinta/aktivis  lingkungan.

Saya pikir ini salah satu cara mengajak anak ‘membaca’ lingkungan sekitarnya, membuka  wawasan dan terinspirasi untuk berkarya. Dulu media saya ‘belajar’  majalah atau acara tv, sekarang majalah jadi barang langka, acara tv banyak gimmick atau gossip artis.

Membatasi kuota

Saya bilang ke anak-anak bahwa kemampuan kami untuk internet sekian ratus ribu, jadi mengusahan kuota senilai itu cukup selama satu bulan. Keterbukaan ini membuat anak-anak aware terhadap akses internet alias tidak boros untuk menonton tontonan konten yang tidak penting. 

Mendorong anak untuk aktif dan kreatif

Totte bag desain si sulung
Salah satu dampak internet terhadap generasi Z adalah sikap lebih senang/anteng dengan gadget, kurang bisa bersosialisasi yang lebih parah, tidak peduli pada sekitar. Saya mendorong anak-anak untuk aktif di kegiatan sekolah dan lingkungan rumah, saya percaya saat mereka berinteraksi dengan orang lain, kemampuan emosi dan sosialnya terasah. 

Si sulung saya sarankan membuat IG untuk menyimpan gambar-gambarnya, sampai saat ini konsisten isinya gambar hasil karyanya, tanpa foto diri. Mulai merambah membuat blog isinya gambar karyanya sekaligus tempat jualannya, yap dia mulai menerima pesanan. Selama ini hanya teman sekolahnya yang suka pesan gambar untuk ucapan selamat ulang tahun.

Dia juga ada inisiatif mendesain barang dengan gambarnya seperti tote bag ini. Tentu saja Mamah yang diminta pertama kali order hahaha.

Sebagai orang tua saya masih tertatih-tatih membersamai anak dijaman teknologi ini, belajar dari pengalaman dan mengamati. Pada dasarnya, kita dibekali insting melakukan hal baik, orang tua

Internet adalah hak setiap warga negara Indonesia

Ketersediaan akses  internet menjadi kebutuhan penting, banyak aspek kehidupan terhubung dengan internet,  bekerja, sekolah dan aktivitas sehari-hari seperti belanja, membayar tagihan dll.

Karena pentingnya akses internet,  pemerintah menetapkan akses internet adalah hak setiap warga Negara Indonesia. Pernyataan ini didukung dengan dibuatnya layanan digital dari Telkom dengan teknologi terbaik yang dapat menjangkau banyak daerah. Jika dulu hanya orang perkotaan yang dapat mengakses internet dengan lancar tapi gangguan karena hujan atau petir, kini masyarakat pinggiran kota bahkan daerah sudah bisa mengakses internet dengan lancar. Termasuk saya yang tinggal di kota kabupaten pinggiran kota, 5 tahun lalu saat pertama kali pindah ke tempat ini, jika hujan atau petir, koneksi internet lelet.

Memasuki masa transisi seperti saat ini, saat sekolah dan bekerja kembali offline, kebutuhan internet tidak otomatis berkurang. Beberapa kebiasaan baru selama pandemi tetap diterapkan seperti konsep paperless. Tugas sekolah anak-anak kita dalam bentuk Gform dan dikumpulkan di Google Class. Komunikasi antara sekolah, guru dan wali murid, jika dulu berupa lembaran surat kini hanya scan surat dan disebarkan di grup. Sehingga koneksi internet diperlukan setiap saat. 

Anak-anak pun banyak memiliki kegiatan kreatif  yang membutuhkan akses internet. Ketersediaan internet yang cepat dan stabil tetap dibutuhkan untuk mendukung anak-anak belajar dan berkreativitas.

IndiHome, Internetnya Indonesia dengan teknologi terbaik jaminan kualitas internet terbaik

Sumber gambar twitter IndiHome


Salah satu layanan digital dari Telkom Indonesia dengan teknologi fiber optik adalah IndiHome, Internetnya Indonesia. Jaringan IndiHome sudah tersebar  di seluruh wilayah Indonesia dan terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan internet terbaik bagi masyarakat Indonesia. Ekosistem layanan digital yang dibangun ini tentu untuk kemajuan seluruh masyarakat  Indonesia dan mencapai kedaulatan digital.

Sumber gambar twitter IndiHome 


Dengan teknologi penggunaan jaringan optik yang dikenal dengan Fiber To The Home (FTTH) memungkinkan sebagain besar masyarakat Indonesia termasuk di daerah bisa menikmati layanan internet dari IndiHome. Teknologi Fiber ini juga memiliki 4 keunggulan:



Untuk  teman-teman konten kreator, terutama yang suka membuat konten dalam bentuk video untuk youtube atau reel instagram penting banget lho memiliki akses internet yang cepat dan stabil agar kualitas video tidak berkurang saat di upload.  Mungkin teman-teman ada yang pernah mengalami, video sudah ok kualitasnya tapi setelah di upload kok pecah? Ini karena jaringan internet yang teman-teman gunakan tidak stabil dan cepat. Bisa intip video reel masak saya di instagram, di sini, alhamdulillah tidak pecah karena internet yang saya gunakan stabil dan cepat. 

Selain saya,  si Sulung  di rumah juga membutuhkan internet yang cepat dan stabil agar waktu merender gambar cepat. Untuk diketahui   merender bisa memakan waktu berjam-jam, jika jaringan tidak stabil dan tidak cepat, bisa 4 jam lebih.

Layanan internet dari IndiHome bisa mengatasi ini karena kecepatannya 100 Mbps. Zoom meeting atau webinar pun lancar dengan IndiHome. 

Layanan  tanpa batas dengan IndiHome

IndiHome tidak hanya menawarkan layanan internet untuk browsing tapi tiga layanan sekaligus atau Triple Play yang terdiri dari Internet Fiber (internet cepat), telepon rumah (Fixed Phone) dan IndiHome TV (TV Interaktif). 

Mungkin teman-teman ada yang berpikir, memangnya telepon rumah masih perlu? Dengan menjadi pelanggan IndiHome telepon rumah dari layanan IndiHome bisa digunakan untuk melakukan panggilan ke semua nomor telkomsel dimanapun dan kapanpun dengan tarif murah karena ada penawaran khusus.

Butuh hiburan untuk santai dan melepas penat? Pelanggan IndiHome dimanjakan dengan IndiHome TV, TV Interaktif dengan banyak keunggulan.  Tidak perlu khawatir melewatkan film kesayangan karena sibuk karena ada fitur untuk merekam. Ada puluhan channel yang bisa dinikmati. 

Tapi untuk anak remaja, dampingi dan batasi  waktu menonton. Tonton film yang sesuai usianya. Jangan karena banyak pilihan orang tua jadi lost control. 

Keunggulan IndiHome TV;

  • TV on demand tayang ulang acara live sampai dengan 7 hari kebelakang 
  • Playback, pause and rewind, mundur, pause atau putar ulang tayangan TV dengan bebas
  • TV Storage rekam tayangan TV ke dalam hard drive s/d 600 menit untuk ditonton lagi 
  • Video on Demand  kontrol penuh video yang diputar di IndiHome
  • UseeTV GO Tayangan IndoHome TV dan konten premium bisa otomatis ditonton juga melalui aplikasi UseeTV GO
  • Karaoke, tersedia fitur karaoke di IndiHome TV
  • Streaming dan Browsing dengan  set-up-bos (STB) dapat memberikan 2 jenis layanan sekaligus yaitu iPTV dan layanan OTT, dapat mengakses berbagai tayangan IndiHome TV dan layanan OOT video streaming sampai browsing internet 

Akses Wifi.id dimanapun berada 

Keuntungan berlangganan IndiHome lain adalah dapat menikmati akses Wifi.id dimanapun berada di seluruh Indonesia hanya dengan biaya 10.000 perbulan. Ini cocok buat generasi Z yang mobile, dimanapun kapanpun perlu akses internet. Pelanggan IndoHome dapat tersambung langsut dengan ribuan titik Wifi.id di seluruh Indonesia. Caranya, pelanggan IndiHome tinggal daftar di website IndiHome, pilih menu add-on Wifi.id 

Paket IndiHome dan Netflix

Sumber gambar IndiHome.co.id

Ini lagi yang seru ya buat yang suka nonton film terutama di Netflik, karena kini ada streaming semua tayangan di Netflik sepuasnya dengan internet cepat IndiHome. Pilih paket IndiHome dengan akses Netflik dan nikmati seseruan nonton Netflik dan akses internet cepat hanya dengan satu tagihan. 

Tapi untuk anak remaja jangan lupa ya pilihkan mana yang bisa mereka tonton mana yang tidak. Tontonan harus disesuaikan dengan usia. 

MyIndiHome

Dengan aplikasi myIndiHome yang bisa diunduh gratis, transaksi berbagai layanan IndiHome makin mudah. Aktivasi OTT  video streaming, langganan berbagai add-on, cek dan bayar tagihan, cek poin myIndiHome, info pemakaian serta berbagai layanan menarik lainnya.

IndiHome akses internet dan hiburan tanpa batas.

Referensi tulisan

Karakteristik Generasi Z, https://www.gramedia.com/best-seller/gen-z/amp/

https://www.merdeka.com/peristiwa/90-persen-anak-muda-di-indonesia-gunakan-internet-untuk-media-sosial.html

https://www.alodokter.com/orangtua-waspadai-media-sosial-pada-anak-dan-remaja

https://www.indihome.co.id

Empat Kiat Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi

Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi

Tumbuh kembang anak

Melewati dua tahun pandemi dengan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah saja menumbuhkan kebiasaan baru, bukan hanya bagi orang dewasa juga anak-anak. Kini, memasuki masa transisi menuju kehidupan normal (Aamiin), kembali pada rutinitas di luar rumah seperti sekolah, bekerja dan bersosialisasi. Bagi orang dewasa atau remaja, mungkin perubahan ini tidak terlalu membuat ‘kaget’ secara sosial dan emosional, tapi bagaimana dengan anak usia dini yang dua tahun sosialisasinya terbatas di rumah dan hanya keluarga lalu bersekolah, berinteraksi dengan lingkungan baru? Mereka kehilangan tingkat interaksi yang merupakan tonggak penting bagi perkembangan sosial emosionalnya.  Pertanyaan yang mungkin ada juga di benak para mama yang memiliki anak usia dini atau baru masuk Sekolah Dasar. Melalui masa taman kanak-kanak tanpa bertemu langsung (sangat jarang) temannya lalu langsung masuk SD bertemu teman dan lingkungan  baru.


Webinar Hari Keluarga Nasional


Dalam merayakan kehangatan Hari Keluarga Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Juni lalu, Danone Indonesia menyelenggarakan kegiatan webinar dengan tema Kiat Keluarga Indonesia Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Masa Transisi dengan pembicara dr. Irma Ardiana, MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, dokter spesialis tumbuh kembang anak Dr.dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH dan ibu inspiratif Founder Joyful Parenting 101 Cici Desri.

Narasumber 


Peran keluarga untuk tumbuh kembang anak optimal  di masa transisi



Dalam kata sambutannya Arif Mujahidin sebagai Corporate Communication Director Danone Indonesia mengatakan; Masa transisi jadi kesempatan baik bagi orangtua mengoptimalkan tumbuh kembang anak terutama sosial emosionalnya. Dukungan orangtua melalui pola asuh yang tepat menjadi sangat penting karena anak tergantung pada orangtua untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti memberikan rasa aman, akses pengajaran, dan kebutuhan nutrisi. Anak membutuhkan orangtua untuk  memantau dan mengoptimalkan tumbuh kembangnya  sehingga  tumbuh menjadi anak hebat.

Sebagai perusahaan ramah keluarga  Danone Indonesia menginisiasi forum-forum edukasi, berkolaborasi dengan komunitas, orang tua dan pihak terkait mengenai kesehatan, nutrisi, pengasuhan dan keluarga. Selain itu Danone Indonesia sudah memberikan cuti melahirkan pada karyawan perempuan dan cuti 10 hari bagi para Ayah sejak 5 tahun lalu.



Harapannya dengan diadakannya webinar ini, kesadaran masyarakat meningkat akan pentingnya kolaborasi orangtua untuk memberikan stimulus yang tepat agar perkembangan aspek sosial emosional anak optimal. Peran keluarga sangat penting dalam mendukung anak ke kehidupan sosial dan pengasuhan kolaboratif untuk mengembangkan kapasitas anak agar menjadi anak dengan  pribadi hebat.

Harta yang paling berharga adalah keluarga dan keluarga adalah bagian penting dari sebuah negara dan bangsa, lanjut Arif Mujahidin.

Hari Keluarga Nasional 2022

Hari Keluarga Nasional tahun ini pemerintah mengangkat tema “Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting.” Stunting menjadi tema utama karena kurang lebih 40% anak Indonesia mengalami stunting. Stunting bukan hanya menghambat pertumbuhan anak secara fisik (anak pendek) juga kecerdasannya, termasuk kecerdasan sosial dan emosionalnya. Peran keluarga sangat besar untuk mencegah anak stunting.

Pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)  menjadi sangat penting untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan psiko-sosial sejak janin sampai dengan anak usia 23 bulan. Peran Tim Pendamping Keluarga menjadi krusial untuk mendampingi keluarga beresiko stunting dalam pemberian informasi pengasuhan di Bina Keluarga Balita. Pola asuh yang tepat dari orangtua dinilai mampu membentuk anak yang hebat dan berkualitas di masa depan.

Menurut dr. Irma Ardiana, MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Gaya pengasuhan mempengaruhi perkembangan kognitif, emosional dan sosial anak. Pengasuhan bersama menekankan komunikasi, negosiasi, kompromi dan pendekatan inklusif untuk pengambilan keputusan dan pembagian peran keluarga. “Pengasuhan bersama antara ayah dan ibu menawarkan cinta, penerimaan, penghargaan, dorongan, dukungan, nutrisi, dan akses ke aktivitas untuk membantu anak memenuhi millestone aspek perkembangan merupakan hal penting.”





Empat  Kiat Mengoptimalkan Perkembangan Sosial Emosional  Anak di Masa Transisi

Perkembangan sosial dan emosional anak diantaranya meliputi kemampuan berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana anak memahami perasaan dirinya dan orang lain.

“Sebab itu aspek sosial dan emosional sangat penting bagi anak untuk mencapai semua aspek kehidupannya dan bersaing di fase kehidupan selanjutnya dimulai dari remaja hingga lanjut usia. Oleh karena itu  penting bagi orangtua untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai perkembangan sosial emosional anak khususnya di masa transisi pasca pandemi, tutur Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH dokter spesialis tumbuh kembang anak. Gangguan  perkembangan emosi dan sosial dapat mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan di masa dewasa, seperti gangguan kognitif, depresi dan potensi penyakit tidak menular.”



Ada 3 faktor yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak yaitu faktor genetik, nutrisi  dan lingkungan. Faktor lingkungan terdiri dari faktor protektif (yang meliputi pemberian imunisasi dan perawatan kesehatan) stimulasi dan pola asuh. Faktor genetik adalah faktor yang tidak bisa diintervensi karena sifatnya bawaan. Jika dikerucutkan ada empat  faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak yang bisa dioptimalkan yaitu;

Nutrisi

Nutrisi menjadi faktor penting karena perkembangan sel dan otak anak terbentuk sejak terjadi pembuahan dan terus berlanjut secara maksimal hingga 1000 hari pertama. Persiapan nutrisi harus dilakukan ibu sejak merencanakan kehamilan.

Perkembangan otak anak


Bahkan menurut dr. Irma Ardiana, MAPS Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN, persiapan harus dimulai sejak remaja, sesuai prinsip siklus keluarga. Remaja sehat tanpa seks bebas (free seks), tidak menikah dini dan bebas napza, akan menumbuhkan remaja yang sadar akan pentingnya perencanaan masa depan. Seperti persiapan dan perencanaan menikah, memiliki anak dsb. Remaja tanpa seks bebas dan napza tentunya akan sehat secara fisik dan mental.

Setelah bayi lahir, pemberian nutrisi yang tepat dan gizi seimbang terus dilakukan, agar tumbuh kembang anak optimal dan menjadi anak hebat.  

Protektif

Faktor protektif meliputi perlindungan anak terhadap penyakit seperti dengan pemberian imunisasi, menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh.

Menjaga sistem pencernaan agar tetap sehat karena kecerdasan otak berhubungan erat dengan sistem percernaan yang sehat.  Cara menjaga sistem pencernaan sehat adalah dengan mengkonsumsi makan makanan bernutrisi dan gizi seimbang

Stimulasi

Stimulasi atau kegiatan yang dilakukan untuk merangsang kemampuan dasar agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.

Namun stimulasi yang diberikan harus disesuaikan dengan usia perkembangan anak. Dokter Bernie, ada 8 prinsip stimulasi yang bisa jadi pegangan orangtua yaitu;

Namun stimulasi yang diberikan harus disesuaikan dengan usia perkembangan anak. Dokter Bernie, ada 8 prinsip stimulasi yang bisa jadi pegangan orangtua yaitu;

  • Stimulasi dilakukan sesuai usia dan tahapan perkembangan anak
  • Stimulasi dilakukan berulang kali
  • Tahapan perkembangan anak bersifat individual, artinya setiap anak berbeda dan tidak bisa dibandingkan dengan anak lainnya.
  • Stimulasi untuk semua aspek perkembangan anak
  • Stimulasi dilakukan dengan rasa cinta, kasih sayang dan menyenangkan
  • Stimulasi dilakukan sambil bermain, jangan memaksa
  • Stimulasi dapat dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat bantu/peraga sederhana yang aman
  • Memberi anak reward

Pola asuh 

Umumnya kita mengenal dua jenis pola asuh yaitu otoriter dan permissive.

Pola asuh otoriter, dimana orangtua berkuasa atas anak-anak, lebih sering melakukan perintah dalam pengasuhan tanpa diskusi-mendengarkan anak). Anak dituntut menurut apapun yang dikatakan orangtua.

Pola asuh Permissive, orangtua yang terlalu melindungi anak-anaknya sehingga longgar aturan dan serba boleh. Terlalu banyak mentoleransi kesalahan anak dengan dalih, masih anak-anak.

Pola asuh yang baik yang bisa menggabungkan keduanya, ada saatnya orangtua harus tegas dan memiliki kontrol atas anak-anak, ada saatnya mendengarkan, menghargai ide/pendapat anak.

Cara mengajarkan sosial emosional pada anak

  • Anak-anak suka meniru orang dewasa, libatkan mereka sejak dini dalam melakukan tugas-tugas sederhana
  • Melibatkan anak  dalam mengambil keputusan/pendapat keluarga
  • Mengajarkan anak empati terhadap teman-teman mereka
  • Memperluas cakrawala anak dan memelihara kepekaan mereka. Membiarkan mereka menemukan dan mengenal bagaimana kehidupan orang dewasa dan anak-anak dalam sesuatu yang baik dengan orang lain.
  • Mengajak anak melakukan hal baik dengan orang lain
  • Mengajari anak mengelola emosi/perasaan
  • Membicarakan dan menjelaskan pada anak berbagai macam emosi/perasaan


Joyful Parenting ala Mama Cici Destri



Cici Destri, Mama dua anak yang juga founder komunitas  membagikan pengalamannya bagaimana ia dan suami mendorong anak agar dapat mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara verbal. Peran guru di sekolah cukup berperan untuk memantau perkembangan anak dengan cara bagaimana anak mengikuti kegiatan dan tugas di sekolah.

“Kami memahami bahwa fase membangun hubungan  baru merupakan sebuah keterampilan. Si kecil dapat menguasainya dengan dukungan yang tepat, terutama dari keluarga. Melalui interaksi sosial secara tatap muka langsung. Si Kecil mampu menumbuhkan rasa kepercayaan baru dan merasakan kenyamanan berada di lingkungan barunya. Dengan begitu, saya yakin si kecil bisa tumbuh menjadi anak hebat yang pintar, berani dan memiliki empati tinggi,” tutur Cici Desri.

Sesi tanya jawab 


Beberapa pertanyaan yang diajukan peserta webinar yang terdiri dari blogger dan media mungkin mewakili pertanyaan para Mama lain. 

1. Kiat apa untuk menumbuhkan rasa percaya diri  anak yang sebelum pandemi sudah aktif lalu mengalami masa pandemi dan menghadapi lingkungan baru? Bagaimana dengan anak yang lahir di masa pandemi? 

Menurut dokter Bernie, anak yang dulu aktif bersosialisasi lalu mengalami masa pandemi yang mengharuskan di rumah saja saat kembali ke masa transisi ini tidak akan mengalami kesulitan dengan sosialisasi hanya orang tua perlu mengarahkan dengan menasehati apa yang harus dilakukan. 

Untuk anak yang lahir di masa pandemi yang artinya saat ini usianya kisaran 1 sampai 3 tahun, sebenarnya sosialisasi sudah cukup dengan interaksi dalam keluarga karena secara tumbuh kembang anak, saat usia itu interaksi sosial yang dibutuhkan cukup dari keluarga, dengan ayah ibu saudara kandung atau kalau ada kakek nenek. 

2. Ketika pandemi, kesibukan orangtua bertambah karena menemani anak sekolah online, selain harus bekerja dan mengerjakan pekerjaan rumah. Kadang orangtua mengalami burn out, imbasnya orang tua mudah marah hingga mengeluarkan kata-kata kasar pada anak, apa efeknya pada anak? 

Yang harus diingat, orang tua harus menjadi role model untuk anak-anak dan secara tidak langsung anak akan meniru orang tua. Jadi sebisa mungkin orangtua menghindari berkata kasar pada anak. Dan harus diingat stimulasi pada anak harus dilakukan dengan cara menyenangkan dan terus menerus.