Senin, 04 Juni 2018

Monkey See Monkey Do

Ada yang pernah menonton animasi film seri Monkey See Monkey Do? Bukan film sepenuhnya, kartun untuk balita ini menggambarkan seorang monyet yang menjelaskan dan memperagakan beragam gerak atau bunyi hewan. Anak – anak balita yang ada di film ini akan menirukan. Jadi semacam film untuk stimulasi.

Istilah Monkey See Monkey Do digunakan juga dalam dunia parenting untuk menggambarkan bagaimana seorang anak dengan cepat dan tangkas peniru sebuah perilaku, terutama perilaku dari orang-orang terdekatnya, seperti orangtua.

Vlog ala - ala untuk disimpan sendiri :)
Perilaku anak yang ditiru dari orangtuanya kemungkinan besar menjadi karakternya. Kalau yang ditiru yang positif saja tentu tak perlu khawatir. Masalahnya, anak meniru apapun, baik maupun buruk, pun jika kelak setelah dewasa dia tahu perilaku yang ditirunya itu buruk – karena sudah kebiasaan sukar dihilangkan. Sementara saya sebagai orangtua, kadang tidak bisa menyembunyikan rasa kesal atau marah dengan menaikkan suara, menggerutu dsb. Duh, feeling quilty ya…semoga Allah selalu menjaga anak – anak dari perilaku buruk.

Perilaku Monkey See Monkey Do yang terjadi baru – baru ini pada si sulung saya adalah meniru kebiasaan mamanya  di  media sosial terutama Instagram, karena saya memang kurang aktif di FB maupun twitter. Di IG juga tidak setiap hari update foto sih tapi mungkin karena berupa gambar, si sulung jadi lebih mudah paham dan tahu. Yap, dia punya akun IG (private).


Dia mulai suka membuat  vlog apa saja dari kucing peliharaan sampai DIY – ini karena melihat mamanya membuat vlog untuk keperluan blog (terutama lomba). Dia mulai ikutan foto ini itu buat di IG. Memang masih undercontrol karena dia hanya bisa mengakses IGnya melalui handphone saya atau Abinya.

Tapi saya mulai khawatir karena usianya yang masih anak – anak (10 y) jika tanpa pengarahan akan kebablasan. Kebablasan jadi suka pujian di media sosial, padahal Mamanya lebih pada kerjaan (membela diri heheh… ya sebisa saya menahan diri untuk tidak smeua hal diposting di media sosial, IG). Foto makanan karena ingin belajar food fotography atau untuk ikut lomba, postingan liburan untuk mendukung blog, intinya biar IG hidup jadi dilirik buat campaign heheh.

So, agar tidak kebablasan dan si sulung tetap pada traknya sebagai anak usia 10 yang masih lugu dan polos, dan paham bermedia sosial yang baik, saya melakukan hal – hal berikut;

Membatasi akses media sosial si sulung (dia hanya memiliki Instagram), hanya melalui hp saya dan abinya, waktunya pun dibatasi.

Mengajarkan memilah hal yang boleh dan tidak boleh diposting di IG. Misal soal aurat, selfie boleh sesekali tapi perhatian sikap tubuh dan aurat. Tidak semua hal yang sedang kita lakukan  di posting di IG agar tidak terbersit rasa sombong.

Menulis caption atau komentar dengan sopan. Media sosial juga ada sopan santunnya lho Kak, seperti saat kita ngobrol ketemu orang, begitu yang selalu saya katakan pada si sulung, jadi kalau tidak suka sama postingan orang atau kesal sama foto orang, tidak boleh mencaci maki. Saya ingatkan ada hukum ITE, bisa dilaporkan ke polisi.

Pamer atau sombong itu dosa, soal itu kami sudah sepakat. Jadi kalau Mama foto – foto makanan di IG bukan sekedar pamer tapi untuk lomba dan latihan foto. Soal pamer memang hanya hati yang tahu. Jadi saat kita posting karena ada rasa pamer di hati, sebaiknya tidak posting.


Jadi walaupun si sulung sudah sering membuat vlog sederhana atau foto ini itu, saya masih membatasinya untuk dipost di media sosialnya.  Saya ingin dia paham dan bisa bijak  bermedia sosial jadi hanya mempsoting hal yang baik, syukur - syukur bermanfaat.  

Tulisan ini merupakan post respon dari Grup #KEBloggingCollab Butet Manurung terhadap tulisan Mak Merry Meirida di website KEB tentang melatih dan menyikapi anak kidal. Mak Merry merupakan pemilik Blog  http://www.meirida.my.id Ibu satu anak yang menyukai K-Drama.



1 komentar:

  1. Beberapa kali aku delete postingan IG anakku yang menurutku nggak pantes Mbak

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...