Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 24 Oktober 2019

Jelajah Gizi Bogor 2019, Aksi Kita Menentukan Masa Depan

Jelajah Gizi Bogor 2019,  Aksi Kita Menentukan Masa Depan


Foto dokumentasi Dadang Triippo

Sejujurnya sempat maju mundur ikut seleksi Jelajah Gizi 2019 ini  karena destinasinya kota Bogor, yang secara geografis tidak jauh dari tepat saya tinggal di kab. Bogor. Ehm seru ga ya? Lagipula kuliner Bogor rasanya udah nyoba semua dech secara pernah beberapa kali main ke kota Bogor .

Ehm tapi kan ini beda, selain kuliner pasti ada misi lain, dengan teman – teman berbeda pula (yang kebanyakan belum saya kenal), pastinya jadi pengalaman baru. Jadilah mulai post foto di tanggal 10 pas deadline, eh ternyata diperpanjang sampai tanggal 12. Alhamdulillah sempat posting 3 foto untuk seleksi ini.

Daannnn…ternyata walaupun di Bogor, keseruan, petualangan dan inspirasinya diluar ekspektasi. Penasaran seperti apa? Yuk lanjut baca blog post ini.

Tentang Jelajah Gizi

Sebelum ngebahas keseruan dan beragam kisah inspiratif Jelajah Gizi Bogor 2019, saya mau menjelaskan tentang apa itu Jelajah Gizi dan tujuan dari Jelajah Gizi yang diadakan sejak tahun 2012.  Jelajah Gizi adalah kegiatan  tahunan yang digagas dan diselenggarakan Nutricia – Sarihusada (grup Danone) yang mengajak Blogger, jurnalis dan pegiat media sosial untuk mengulik makanan lokal beserta sejarahnya, mengulas gizi dan pangan lokal sehingga mereka dapat menyebarkan informasi terkait potensi pangan lokal ke masyarakat luas.

Tahun ini Jelajah Gizi  yang ke – 7, setelah sebelumnya menjelajah berbagai daerah di Indonesia seperti Gunung Kidul (Jawa Tengah), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Denpasar (Bali), Menado (Sulawesi Utara), Malang (Jawa Timur) dan Semarang (Jawa Tengah).


Jelajah Gizi 2019, Eksplorasi Pangan Berkelanjutan : Aksi Kita Tentukan Masa Depan

Sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia yang jatuh tanggal 16 Oktober, yaitu Aksi Kita Menentukan Masa Depan, Jelajah Gizi Nutricia – Sarihusada eksplorasi potensi pangan Kota Bogor dan mendorong implementasi healty diets untuk Bumi dan Masyarakat yang lebih sehat.

Hal ini tak lepas dari kondisi pemenuhan gizi masyarakat Indonesia yang masih kurang. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2018, anak usia balita masih dihantui masalah gizi kurang dan gizi buruk (17.7%), bahkan stunting (30.8%).  Padahal pemenuhan gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, terhitung sejak dalam kandungan hingga anak usia 2 tahun, adalah kunci penting yang menentukan kesehatan mereka di masa depan. Oleh karena itu diperlukan kerjasama multisektoral, termasuk aksi dari setiap individu dalam menentukan pilihan dan pola makanan yang sehat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Prof. Ahmad Sulaeman, MS. PhD selaku Pakar Gizi dan Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor menekankan,”Hunger atau kekurangan gizi terjadi akibat kurang memadainya asupan pangan, baik kuantitas maupun kualitas pangan yang juga bisa disebabkan karena rendahnya literasi pangan dan gizi sehingga kurang mampu memanfaatkan sumberdaya pangan yang ada dengan baik. Maka dari itu berbagai pihak yang terlibat dalam proses pangan mulai dari produsen, konsumen, hingga penjual makanan memiliki peran dan tanggung jawab penting dalam mengaplikasikan konsep – konsep healty diets untuk mendukung Zero Hunger dari Food and Agriculture Organization (FAO).

Arif Mujahidin selaku corporate communication director Danone Indonesia menjelaskan, Aksi terkait pangan sangat berkaitan dengan gerakan revolusi pangan dari visi One Planet One Health dari Danone, dimana kami percaya setiap pihak dapat melakukan aksi dan pilihan terkait pangan untuk tentukan masa depan kesehatan anak – anak dan bumi yang lebih baik. Salah satu usaha edukasi kami adalah melalui ‘Jelajah Gizi’ yaitu kegiatan eksplorasi ragam potensi pangan di sebuah daerah yang mengangkat berbagai isu – isu pangan berbeda setiap tahunnya.”


Arif Mujahidin dari Danone Indonesia

Jelajah Gizi 2019 jatuh pada kota Bogor karena kota Bogor memiliki ragam kuliner khas dengan sumber bahan dari pangan lokal yang diolah secara inovatif menjadi berbagai jenis makanan, mulai talas, pala, soto mie, sampai asinan. Dan kota Bogor dikunjungi wisatawan 7900 setiap tahunnya.

Selama  perjalanan Jelajah Gizi ini kita didampingi Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, Ms. PhD, selaku Pakar Gizi dan Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor, yang akan menjelaskan kandungan gizi dan nutrisi makanan yang kita nikmati selama perjalanan Jelajag Gizi. Ehm, kenyang iya, nambah ilmu sudah pasti dan bertemu teman – teman baru. Gimana ga seru dan inspiratif!

Menurut rekomendasi FAO (Food and Agriculture Organization), selain diversifikasi pangan, cara produksi, pemasokan hingga konsumsi makanan harus berubah sesuai dengan kebutuhan healty diet dan kesehatan masyarakat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi healty diet adalah makan dengan kuantitas cukup, aman, bergizi dan beragam. Hal tersebut berkaitan dengan konsep pangan gizi seimbang, keamanan pangan (food safety), food waste hingga ketahanan pangan (food security). 

Selama Jelajah Gizi 2019, peserta akan diajak melihat bagaimana konsep healty diet tersebut diimplementasikan pada proses pangan mulai dari penanaman (kunjungan ke Boja Farm dan kebun Talas Situ Gede), pengolahan (pengolahan Talas Situ Gede  dan buah pala di Muarasari), penjualan (berbincang dengan pedagang kuliner di Bogor) hingga konsumsi pangan jadi.


Jelajah Gizi hari ke 1, dari Soto Mie Kesatuan sampai Bojo Farm

Soto Mie Kesatuan

Bicara kuliner Bogor tak akan lepas dari Soto Mie. Kuah daging dengan isian irisan daging, mie, bihun, potongan kroket, tomat dan lobak. Salah satu kedai Soto Mie legendaris di kota Bogor adalah Soto Mie Kesatuan yang ada di jalan Rangga Gading tak  jauh dari jalan Suryakencana.


Foto dokumentasi pribadi

Ulasan lengkap Soto Mie Kesatuan ada DI SINI Jelajah Gizi Bogor 2019; 4 Kuliner Legendaris kota Bogor

Atau versi vlognya di sini 


Boja Farm Integrated Organic Farming

Salah satu perjalanan Jelajah Gizi yang bagi saya unpredictable adalah kunjungan ke Boja Farm. Perjalanannya cukup menegangkan, off road.


Off road

Tentu saja ini jadi pengalaman baru untuk kami yang biasa kemana – mana melalui jalan mulus.
Sampai di Boja farm kami disuguhkan pemandangan hijau dan udara khas pegunungan yang menyegarkan.

Boja Farm terletak di Tajur Halang Cijeruk Bogor.

Saya juga dibuat takjub dengan luasnya lahan dan pengemasan produk jadinya yang sudah modern. Dan pertanian di sini dikelola dengan cara organik, artinya tidak menggunakan pestisida untuk membasmi hama, begitupun pupuk yang digunakan alami, tidak menggunakan pupuk kimia.


Pak John Tumiwa
foto dokumentasi pribadi/rinasusanti

Seperti dituturkan pak John Tumiwa fouder Boja Farm, perlu kesabaran untuk merubah pertanian yang biasa menggunakan bahan kimia ke organik. Tanah perlu menyesuaian  sekitar 3 tahun untuk kembali subur secara organik jika sebelumnya terbiasa dengan paparan bahan kimia, dalam hal ini pestisida dan pupuk kimia.   Artinya petani harus sabar pada masa penyesuaian itu jika gagal panen.

Konsep pertanian organik yang digagas pak John bukan tanpa alasan, selain karena hasil pertanian lebih sehat, konsep pertanian organik juga membuat bumi lebih sehat.




“Tidak ada perbedaan rasa antara sayuran organik atau tidak, tapi ada efek jangka panjang,” jelas pak John. Sudah menjadi pengetahuan masyarakat luas kalau pestisida dalam makanan dapat mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. Penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara terus menerus pun menyebabkan tanah rusak.



green house herb Boja farm
foto dokumentasi pribadi

Pak John berbagi tips membedakan antara pangan organik dan bukan organik, diantaranya; Hasil pertanian organik seperti sayuran atau buah – buahan, testurnya tidak mulus, ada bekas gigitan serangga atau ulat  dan tidak mengkilap.  Untuk hasil olahan seperti gula pasir, penampakan tidak putih mulus tapi agak kekuningan. Penampilan sayur/buah – buahan organik yang ‘biasa’ tapi kualitasnya lebih baik.


foto dokumentasi pribadi 


foto dokumentasi pribadi

Beragam hasil pertanian dari  Boja Farm
Luas lahan di Boja Farm sekitar 15 hektar dan ditanami beragam tanaman pangan, beragam herb, rempah – rempah,  pohon buah – buahan (durian) dan kopi. Tapi untuk pohon buah – buahan dan kopi masih dalam tahap perawatan (belum lama ditanam).

Salah satu herb yang mencuri perhatian peserta Jelajah Gizi adalah Stevia, herb bercitarasa manis dan bisa digunakan sebagai pengganti gula.


diskusi tentang stevia
foto dokumentasi pribadi

Untuk dibuat sirup, daun stevia direbus dalam air lalu saring.

Tanaman stevia di rumah
Oleh -oleh dari Boja Farm

Menurut Prof. Ahmad, rasa manis dari Stevia tidak mengandung kalori sehingga cocok dikonsumsi penderita diabetes sebagai pengganti gula. Stevia sudah dinyatakan aman untuk dikonsumsi oleh FDA. Namun Stevia tidak cocok untuk bayi karena tidak mengandung kalori, padahal bayi membutuhkan kalori untuk tumbuh kembangnya.

Herb lain yang mencuri perhatian adalah bawang dayak, sekilas umbinya mirip bawang merah biasa tapi rasanya pahit jadi tidak bisa buat memasak. Bawang dayak memiliki khasiat kebugaran pada tubuh.


bawang dayang
foto dokumentasi pribadi

Pemasaran produk Boja Farm
Produk pertanian Boja Farm sudah masuk ke supermarket seperti Transmarket, untuk produk kemasan kering sudah dijual secara online di marketplace. Walaupun kemasannya eksklusif harga bersaing dengan produk serupa malah memiliki nilai lebih yaitu ditanam secara organik.

Boja Farm membuka kesempatan  terutama generasi milenial untuk belajar menanam organik. Dan seperti dingkapkan pak John, kita bisa mulai menanam dari rumah, sesuai dengan kebutuhan kita. Berani mulai beraksi untuk bumi yang lebih baik?

Pada kunjungan ke Boja Farm juga, Bapak Arif Mujahidin selaku corporate communication director Danone Indonesia menjelaskan harapannya  terkait kegiatan  Jelajah Gizi, dimana Danone Indonesia mengadopsi tema FAO Healty Diets – Action is Our Future. “Kami berharap kegiatan ekplorasi  dan edukasi seperti Jelajah Gizi dapat terus memberikan gambaran potensi pangan, dan meningkatkan kesadaran berbagai pihak mengenai pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu dan anak, serta berbagai lapisan masyarakat di Indonesia.”

Talk Show  Healty Diet dengan Prof. Ahmad Sulaeman. MS, PhD

Healty Diet adalah gizi seimbang, susunan pangan sehari –hari yang mengandung zat gizi yang jenis dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan, dengan memperhatikan Pedoman Gizi Seimbang dan 4 Pilar Gizi Seimbang yaitu mengkonsumsi beranekaragam pangan, membiasakan berperilaku bersih dan sehat termasuk menjaga keamanan pangan, melakukan aktivitas fisik, pemantauan berat badan secara teratur untuk mempertahankan berat badan normal.

Salah satu cara memperoleh pangan untuk Healty Diet adalah dengan menanam sendiri; memanfaatkan pekarangan, membangun ‘roof top garden’ atau tabulapot dan ikut kegiatan KRPI (kawasan rumah pangan lestari). Cara ini salah satu aksi menciptakan bumi yang lebih baik di masa depan.

“Money is your but resources belong to  the society.”

Dan seperti diungkapkan Prof. Ahmad,”Makanya, berbagai pihak terkait seperti produsen, konsumen, sampai penjual makanan punya peran dan tanggung jawab penting dalam mengaplikasinya konsep healty diets.”

Jelajah Gizi hari pertama ditutup dengan makan malam di sebuah restoran steak.

Jelajah Gizi hari ke - 2; Warung Anak Sehat, Talas Situ Gede,  olahan  Pala Kelompok Wanita Tani  Muarasari dan kuliner legendaris Soto Kuning Pak Yusuf di Suryakencana

Warung Anak Sehat (WAS) SDN Dewi Sartika III




WAS adalah projek sosial yang dilakukan oleh Nutricia – Sarihusada berupa program pendampingan dan edukasi kepada ibu kantin di sekolah – sekolah agar menjual jajanan sehat dan bernutrisi  kepada anak di sekolah tersebut.

Sampai di SDN Dewi Sartika kami disambut Kepala Sekolah, dan menjelaskan WAS yang selama ini sudah berjalan di sekolahnya. Beliau juga menambahkan keberadaan WAS tidak serta merta membuat anak – anak steril dari jajanan tidak sehat, karena di luar gedung sekolah masih banyak pedagang jajanan yang kurang sehat (tidak terpantau kebersihan dan bahan jajanan yang digunakan) tapi dengan adanya WAS anak – anak menjadi punya alternatif jajanan sehat dan mereka pun jadi paham apa itu jajanan sehat, karena anak – anak diedukasi mengenai jajanan sehat. Anak – anak jadi tahu  ciri –ciri jajanan sehat yaitu jika jajanan dalam bentuk kemasan tercantum tanggal kadaluarsa. Jika makanan tanpa kemasan, tidak memakai pewarna, tidak memakai pengawet dan tidak menggunakan minyak berlebihan, tidak dibungkus koran atau kertas bekas.

Di kota dan kab. Bogor sudah ada sekitar 36 WAS, dan sudah terbentuk  paguyuban dengan begitu antar WAS dalam saling berkomunikasi dan sharing mengenai jajanan sehat dan  melakukan pelatihan bersama.  

Uraian Prof. Ahmad tentang jajanan sehat  di WAS  SDN Dewi Sartika III


Bu kantin menjelaskan tentang WAS, Prof. Ahmad menguraikan nutrisi jajan sehat yang ada di WAS
foto dokumentasi pribadi 

Dari data yang dipaparkan Prof. Ahmad saat kami berbincang di WAS, yaitu di Bogor 60% anak sekolah tidak sarapan. Artinya jika saat mereka di sekolah jajan makanan tidak sehat, dampaknya cukup besar dan serius karena anak – anak SD dalam tahap tumbuh kembang jika tidak mendapatkan asupan gizi dan nutrisi tidak baik, kesehatannya terganggu begitupun perkembangan kognitifnya (otak).

Itulah pentingnya menyajikan jajanan sehat di sekolah, lanjut Prof Ahmad. Jajanan sehat yang mengandung cukup kalori, tanpa pengawet, tanpa pemanis buatan dan tanpa pewarna berbahaya.

Jajanan yang dijual di WAS SDN Dewi Sartika III berupa makanan homemade, seperti croissant dari singkong, puding ubi ungu, nasi goreng dll. Di WAS ini juga menjual susu, yang harga segelasnya 2000 rupiah.


jajanan sehat
foto dokumentasi pribadi

Talas Situ Gede, bertahan di tengah perluasan pemukiman


Talas salah satu umbi – umbian yang jadi oleh – oleh khas Bogor, tak  heran di setiap sudut kota Bogor akan kita temui Talas dijual di kaki lima, dalam kondisi mentah maupun setelah matang, berupa potongan kukus Talas dengan taburan kelapa parut. Talas adalah potensi pangan lokal yang diperhitungkan secara ekonomi maupun sebagai ketahanan pangan, peserta Jelajah Gizi pun mengunjungi perkebunan Talas di Situ Gede. 


talas Bogor
foto dokumentasi pribadi

Situ Gede adalah adalah salah satu kampung penghasil Talas. Perkebunan yang milik dan dikelola masyarakat setempat ini sudah ada sejak lama. Diwariskan dari generasi ke generasi, begitupun cara menanamnya. 

Pak Abidin mengklaim Talas  hasil perkebunan Situ Gede kualitasnya paling baik karena di tanam dengan cara yang baik dan benar. Memisahkan Talas dari anakannya berpengaruh pada kualitas Talas. 


Pak Abidin mewakili petani Talas Situ Gede
Foto dokumentasi pribadi

Di kampung ini juga Talas diolah menjadi beragam bentuk pangan olahan untuk meningkatkan perekonomian lokal. Kami sempat mencicipi parkedel talas lho.

Ada tiga jenis talas yang dibudidayakan di sini yaitu talas thailand, talas Bogor (lokal)   dan talas ungu.

Talas dijual secara langsung oleh petani agar harganya cukup baik karena jika dijual  kepada tengkulak harganya murah dan tentu ini merugikan petani Talas.

Kami diajak melihat langsung perkebunan Talas dan bagaimana Talas di panen. Harus dicabut dan jangan patah, karena kalau umbinya patah tidak bisa dijual. Pohon Talas yang masih kecil (anakannya) dapat dijadikan sayur dengan cara ditumis atau dibuat seperti resep sayur lodeh.


cara memanen talas
foto dokumentasi pribadi
Seiring waktu perkebuna Talas di sini menyempit, sebagain lahan berubah fungsi menjadi hunian. Hal ini menjadi salah satu kekhawatiran Pak Abidin dan rekan – rekan sesama petani talas. Kekhawatiran yang bukan tanpa alasan karena ketiadaan lahan berarti hilangnya mata pencaharian.

Saat ini pun perkebunan Talas di Situ Gede bertahan bukan tanpa godaan dari orang – orang yang berminat membeli tanah di sana untuk dijadikan perumahan. Pak Abidin dan rekan – rekannya berharap ada solusi dari pihak pemkot.

Menilik kandungan Gizi Talas


Talas Bogor

Talas adalah sejenis umbi yang mengandung banyak karbohidrat. Keunikan Talas dibanding umbi –umbian lain adalah   memiliki Indeks Glikemik (GI) rendah,    sehingga Talas sangat baik dikonsumsi penderita diabetes sebagai pengganti sumber karbohidrat, jelas Prof. Ahmad Sulaeman.

Talas juga mengandung serat yang cukup tinggi, kadar lemak rendah dan senyawa prebiotik yang dapat menyehatkan pencernaan. Satu hal lagi, talas bebas gluten. Pangan lokal murah ini ternyata kaya kandungan nutrisinya. 

Di sini kami dijamu makan siang, menariknya ada dua menu diantaranya terbuat dari talas yaitu perkedel talas dan sayur daun/batang talas. Sayang saya tidak sempat memfotonya, keburu lapar hehehe.

Kunjungan perkebunan talas Situ Gede ditutup dengan lomba antar tim yaitu lomba membuat gemblong talas, keseruannya bisa intip video buatan salah satu tim saya mas Firdaus di sini.


Gemblong talas 

Dari sini perjalanan ‘menjelajah’ dilanjutkan ke desa  Buntar   Muarasari.

Olahan Pala Kelompok Wanita Tani desa Buntar  Muarasari  

Ada ujaran,’Perempuan berdaya keluarga sejahtera.’ Kunjungan saya bersama Jelajah Gizi ke Kelompok Wanita Tani desa Muarasari membuktikannya, terlebih setelah saya mengobrol – ngobrol langsung dengan Bu Nur melalui telepon, didorong rasa  penasaran plus kagum dengan kegiatannya. 

Selengkapnya baca post ini ya Jelajah Gizi Bogor 2019; Aneka olahan Pala Kelompok Wanita Tani Kampung Buntar,  oleh – oleh khas kota Bogor.


Soto Kuning Pak Yusuf di Suryakencana

Soto Kuning pak Yusuf termasuk kuliner legendaris di kota Bogor karena sudah ada sejak 30 tahunan yang lalu.

Ulasan lengkap Soto Kuning Pak Yusuf saya jadikan tulisan terpisah di blog post Jelajah Gizi Bogor 2019; 4 KulinerLegendaris kota Bogor

Jelajah Gizi ke – 3; Kunjungan ke Kebun Raya, Jelajah Gizi Race di Suryakencana, Asinan Gedung Dalam dan Makaroni Panggang

Kebun Raya Bogor

Bisa dibilang Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor yang terletak bersebelahan adalah ikon kota Bogor. Jadi pastikan jika jalan - jalan ke Bogor mampir ke tempat ini. Tapi kalau Istana Bogor tidak bisa dimasuki ya kecuali hari tertentu yaitu ulang tahun kota Bogor.   

Kebun Raya Bogor sudah ada sejak jaman kerajaan sunda, sebagai taman buatan, seperti tertulis dalam sebuah prasasti. Pada masa kolonial Belanda, seorang ahli botani menjadikan Kebun Raya Bogor sebagai 'laboratorium tanaman' dan pusat penelitian botani.

Peserta jelalah gizi mampir ke sini dan kami mendengarkan penjelasan Prof. Ahmad mengenai buah Lo. Salah satu jeni buah - buahan yang tumbuh disini. Buah Lo satu genus dengan buah Tin. Kandungan gizinya pun mirip buah Tin, mengandung banyak zink yang baik untuk pertumbuhan anak - anak. Namun  buah Lo  di Indonesia tidak lazim dikonsumsi.


Foto dokumentasi pribadi 

Foto dokumentasi pribadi

Kami juga mengunjungi Herbarium Kebun Raya Bogor. Herbarium adalah spesimen tumbuhan (daun, buah dan biji), yang diawetkan dan disimpan sebagai data keberadaan suatu tumbuhan.


Koleksi Herbarium Kebun Raya Bogor ada yang berumur ratusan tahun. 


Jelajah Gizi Race di Suryakencana

Tugas kelompok yang seru banget, jadi kami ditantang menemukan, memesan, memfoto dan memakan kuliner khas Bogor yang ada di sepanjang jalan Suryakencana. Kami diberi lembaran kertas berisi ciri – ciri makanan yang harus kami tebak lalu mencarinya. Ada 7 jenis kuliner yang harus kami temukan. Waktu yang diberikan 1 jam dengan uang sejumlah 200 ribu rupiah.



Terima kasih fotonya pak Dadang hehehe

Tim oregano

Keseruan Jelajah Gizi Race tim saya yaitu  tim oregano diabadikan dalam bentuk video oleh mas Firdaus salah satu anggota tim oregano  videonya dapat diintip di sini  atau bisa lihat foto - foto kulinernya di instagram saya di sini *hahaha iklan* 

Asinan Gedung Dalam



Kuliner khas Bogor lain  yang tersohor adalah Asinan Gedung Dalam. Bulan mendatang tepat usia Asinan Gedung Dalam 41 tahun. 

Peserta Jelajah Gizi berbincang - bincang dengan Ci Monika bagaimana awal berdirinya Asinan Gedung Dalam.



Ulasan lengkap tentang Asinan Gedung Dalam  bisa baca di Jelajah Gizi Bogor2019; 4 Kuliner Legendaris kota Bogor

Penutupan Jelajah Gizi Bogor 2019 di Makaroni Panggang (MP) Bogor

Acara Jelajah Gizi Bogor 2019 ditutup di resto Makaroni Panggang (MP) setelah sebelumnya 2 dari 3 founder dan co-founder MP sharing mengenai bisnis yang dimiliki grup MP.


Foto dokumentasi pribadi

Makaroni Panggang (MP) Bogor satu dari beberapa oleh – oleh yang kekinian dengan citarasa western seperti cake dan roti. Co-founder MP berbagi cerita bagaimana awal mula MP memulai usahanya. Ulasan lengkapnya, berikut oleh - oleh kekinian lain kota Bogor yaitu Lapis Talas dan Roti Unyil akan saya tulis di post terpisah.

Yuk baca postingan  Jelajah Gizi Bogor 2019; Oleh – oleh kekinian kota Bogor yang harus kamu coba.

Pada acara penutupan ini diumumkan tim yang menjadi juara, dan juara perorangan untuk lomba twitter, IG dan IG stories. Alhamdulillah tim saya, tim Oregano menjadi juara. Dengan yel - yel yang membuat juri terpana hehehe. 


Yel yel tim oregano 
Saya juga dapat lomba twitter, alhamdulillah ya dapat uang monopoli buat belanja heheh.


Yeyy...menang

Satu kata untuk acara Jelajah Gizi, inspiratif! Saya jadi paham bagaimana mengaplikasikan healty diets, keamanan dan ketahanan pangan, serta bagaimana turut berperan dalam aksi agar bumi menjadi lebih baik di masa depan. Mulai dari hal kecil dan lingkungan keluarga, meniru Prof. Ahmad, memanfaatkan pekarangan dan roof top dengan maksimal. Mengikuti saran Pak John Tumiwa, mulai menanam dengan pangan yang kita butuhkan. 

Seperti tag line Jelajah Gizi Bogor 201; One Planet one Health there is only one earth we only live once.

Teman – teman ada yang minat ikut Jelajah Gizi berikutnya, pantengin aja media sosial resminya di nutrisi untuk bangsa

Note ; Beberapa foto dalam blog post ini dokumentasi pak Dadang Triippo, diupload atas seijinnya.

1 komentar:

  1. wah jadi banyak belajar tentang gizi dari sang ahli ya. bermanfaat! :D

    BalasHapus

find me