Selasa, 05 September 2017

Saat Anak Ingin Memiliki Akun Media Sosial



“Mah, aku mau donk punya IG?” pinta si  sulung (9 tahun) suatu hari.
“Belum boleh, nanti ya kalau kaka 12 tahun.”
“12 tahun ini kelas berapa?”
“Smp.”
“Yah masih lama donk, Rayn udah lama punya IG padahal belum smp,” Rayn adalah sepupunya yang usianya terpaut 2 tahun di atas si sulung.  
“Kaka ingin punya IG buat apa?”
“Ya kayak Mama buat foto – foto."








Permintaan itu berulang untuk kesekian kalinya dan saya maklum. Selain karena sering  melihat Mamanya buka IG (dibanding akun media sosial lain saya lebih aktif dan sering buka IG), memotret makanan yang baru selesai dimasak untuk  upload di IG, saya juga sering memperlihatkan pada si sulung akun – akun IG yang isinya gambar – gambar bagus. Si Kaka hobi menggambar sementara Mamanya tidak bisa menggambar sama sekali jadi kalau sedang mendampingi  Kaka menggambar saya perlihatkan gambar – gambar cantik di IG nya Stella Ernes dan mak Tanti Amelia, sebagai contoh karakter – karakter gambar yang berbeda. Saya juga suka memperlihatkan gambar - gambar ide inspiratif di Pinterest pada Kaka.

Kalau saya belajar motret makanan di rumah kadang Kaka ikut sibuk memotret dan menata makanan atau sekedar komentar ini itu. Sesekali saya meminta Kaka memotret bunga untuk diupload di akun IG jejualan saya anggrek.hias.


Pendek kata, Kaka sudah akrab dan familiar dengan IG.
Dia pun mulai ikut – ikutan saya, memotret momen entah di rumah atau saat jalan – jalan. Kalau di rumah dia lebih banyak motret kucing kesayangannya dan bunga di halaman hehehe.

Hanya bisa buka akun media sosial melalui hp Mama atau Abi
Si kaka memang saya beri handphone bekas (saya) sekitar 2 bulan lalu tapi hanya bisa untuk memotret, menyimpan lagu, games dan video,  tidak bisa digunakan untuk menelpon atau internetan karena rusak tidak bisa menangkap sinyal, menurut service centernya, hp harus ganti mesin kalau mau normal lagi. Biaya ganti mesin setengah harga beli baru, jadi memutuskan beli baru.

“Tapi Mama punya IG kadang untuk kerja lho Ka, dapat uang dari IG, jadi bukan cuma main – main. Di IG Mama juga jualan bunga.”
“Ya udah aku juga mau jualan di IG. Tapi jualan apa ya?”
Hadeuh…

Pada permintaan yang entah keberapa kalinya akhirnya saya meluluskan keinginan Kaka, membuatkan akun IG, dengan email yang digunakan email saya dan bersifat privat. Karena hpnya tidak dapat digunakan untuk bermedia sosial bahkan menelpon jadi kalau mau buka  IG harus melalui hp saya atau Abinya.

Aktivitas padat membuat lupa akun media sosial
Hari hari pertama punya IG semangat ngintip IG, selanjutnya dia lupa, kemungkinan karena aktivitas sekolah yang padat, pergi pagi pulang sore lanjut mengaji atau main dengan teman – temannya, habis magrib mengaji sama Mama, hapalan surat pendek, dibacain eksiklopedi islam, ngerjain peer atau apapun selain nonton dan main game. Jadwal main game di hp hanya weekend atau hari libur.

Nonton TV malam hanya hari jumat karena Mama mau nonton OkJek hahaha. Tinggal di perkampungan yang banyak teman sebayanya cukup mendukung aktivitas sedikit nonton dan gadget, karena anak – anak lebih suka main bareng di rumah kami.

Do dan Don’t
Ada beberepa hal yang saya tekankan (dan kerap saya ulang)  saat membuatkan akun IG untuknya;
1. Menetapkan value, sopan santun dan nilai keagamaan. Kalau selama ini bicara value, sopan santun dan agama hanya obrolan keseharian dan berhubungan dengan interaksi orang secara langsung, saya jelaskan pada Kaka, sopan santun, batas aurat (menurut agama yang kami pahami, Islam), dan toleransi juga berlaku di IG.

2. Dibuat bersifat privat. Saya jelaskan pada Kaka bahwa foto – foto di akun IGnya hanya bisa dilihat oleh orang yang berteman dengannya di IG. Jadi orang lain tidak bisa lihat. Saya jelaskan ini akan membuat dirinya aman, karena di luar sana, ada orang yang mungkin berniat jahat ketika melihat akun anak kecil. Saya ceritakan kasus yang sempat masuk berita, anak smp yang dibohongi kenalannya di FB yang ternyata orang dewasa dan menjahatinya.

3. Tidak boleh semua foto di upload di IG. Akun IG untuk belajar memotret jadi sebaiknya upload foto yang bagus (bagus standar Kaka tentunya).

4. Tidak boleh sering upload foto selfie karena sekali lagi akun IG untuk belajar memotret.

5. Membantu mencari akun untuk dia follow sesuai hobinya. Karena Kaka suka gambar dan craft, saya rekomendasi akun – akun untuk dia follow seperti akun blogger sekaligus master Mak Tanti Amelia heheh.

6. Saat dia menemukan idola saya mencari tahu lebih jauh idolanya dan memantaunya. Saat ini Kaka lagi ngefans sama Zara, kami yang tidak pernah menyalakan TV selain nonton  film kartun di RTV keheranan saat Kaka minta Abinya buka youtube dan download in lagu .
Saya kira artis bule baru ternyata artis cilik Indonesia. “Aku tahu dari teman, Mah.”

7. Mama dan Abi tidak akan membelikan hp yang dilengkapi nomor dan pulsa sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Ya, kami belum berpikir memberi Kaka hp yang ada pulsa atau kuotanya, karena rasanya belum perlu selain di sekolah ada larangan membawa hp. Kalau ada apa – apa di sekolah Kaka biasanya minta bu gurunya WA saya atau kaka ke Tata Usaha minta di teleponin.


Oh ya beberapa waktu lalu saya pernah ikut workshop parenting, salah satu narasumbernya (seorang psikolog) menyampaikan, sampai usia anak 21 tahun, semua akun media sosial anak harus kita ketahui passwordnya namun disertai penjelasan kenapa kita sebagai orangtua harus tahu. Tahu password medsos anak bukan berarti kepo, orangtua harus punya trik elegan untuk tetap memantau akun sosmed anak. Dan batasi interaksinya dengan sosmed, buat anak sibuk dengan aktivitas harian seperti sekolah, mengerjakan hobi dan berinteraksi  dengan teman di dunia nyata.

Orangtua memang tidak bisa lepas tangan, jika dulu ada istilah mulutmu harimaumu untuk menegaskan betapa bahayanya jika bicara sembarangan maka sekarang ada istilah jarimu harimaunya, karena dengan satu jari kita di media sosial bisa menentukan akan kemana kita menggiring follower; kebaikan, kemanfaatan, keburukan, prasangka, atau intoleran?

Sebagai orangtua selain memantau tentunya menjadi role model, jadi panutan anak saat bermedia sosial. 

Berikut tulisan mba Putu di web Kumpulan Emak Blogger Bijak media sosial; Hati - hati dengan jarimu

Ada juga nih tip cara mengajarkan anak menggunakan media sosial dari mba Fiona Are we living the instagram li(f)e?

Tips bijak menggunakan media sosial dari mba Ophi Ziadah Bijak media sosial dan mba Hidayah Art Bijak menggunakan media sosial 





4 komentar:

  1. Anak-anak saya sudah bersocmed. Password masih dipegang sama saya

    BalasHapus
  2. Menjadi orang tua jaman sekarang memang harus melek teknologi ya mbak. Dan tentunya turut serta mengawasi perkembangan pengetahuan digital anak-anak kita.

    Makasi sharingnya mbak
    Saya banyak belajar dari sini

    BalasHapus
  3. Anak-anak sekarang udah lebih berani minta bikin akun sosmed ya. Kalo aku sih gak masalah asal bisa ikut akses sosmednya.

    BalasHapus
  4. Ka Al jg punya akun IG tp ku set private n pake nomor hpku. Stlh negosiasi akhirnya ku setujui punya akun IG tp ternyata fungsinyablbu hanyak buat chat dg temen2nya dan kepoin gen halilintar dan ricis

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...