Rabu, 29 Juli 2015

Arini dan Athirah

Ada yang sudah  film Surga Yang Tak Dirindukan? Saya belum tapi sudah membaca novelnya bertahun lalu, novel versi lama yang judulnya masih Istana Ke Dua. Novel yang sukses membuat saya gregetan dan emosi jadilah memilih fast reading, baca menclok-clok terus langsung ngintip endingnya dan ternyata endingnya bikin sakit hati L Ya, jauh beda sama ending di filmya (dapat bocoran dari teman yang nonton kalau filmya Happy Ending bla...bla...bla).

Beberapa hari lalu saya mendapat WA dari seorang teman yang habis nonton film ini, begini kurang lebih tulisan WA nya,”Teh X udah nonton film Surga Yang Tidak Dirindukan, kok jadi takut nikah ya...”*ehm untung saya baca novelnya pas udah nikah dan punya anak jadi ga parno*

Saya pun baca komen di status teman FB yang ngaku kapok baca buku Asma Nadia karena pernah buku Catatan Hati Seorang Istri karena bawaannya jadi curigaan dan waswas.  Saya jadi teringat, pernah mendiskusikan buku Catatan Hati Seorang Istri dengan pak suami *lebih tepatnya saya yang ngomongin isi buku itu ke pak suami* dan tanggapannya.


“Ngapain sih baca buku gituan, bawaannya jadi curigaan terus ngomongin selingkuhan, bikin suasana ga enak,” ga tepat banget tapi kurang lebih seperti itulah. Iya, gara-gara baca baca buku itu saya jadi curigaan sama suami dan kesel sama suami2 dalam tokoh cerita itu yang bisa-bisanya nyakitin istri, jangan2 suami saya...kalau suami saya ....*curiga was-was takut waspada komplit deh*

“Suami selingkuh atau nikah lagi biasanya ada alasannya.” Di lain waktu dan suasana berbeda pak suami bicara seperti itu. Ya, intinya sebagai istri memang kudu jaga penampilan ya terutama ibu di rumah *self reminder* yang biasanya malas dandan atau minimal rapih dan wangi. Padahal di luar sana, para suami yang sehari-hari kerja banyak terinteraksi *walaupun sekedar hai atau cuma pas-pasan* dengan perempuan-perempuan berkosmetik, rapih dan wangi.

versi lama buku Surga Yang Tak Dirindukan 

Saya sendiri ga kapok buku baca buku Asma Nadia, apalagi kalau dipinjemin J

Arini
Balik lagi ke soal Surga Yang Tak Dirindukan. Saya ga akan nulis opini soal poligaminya karena bukan wilayah saya, bisa – bisa salah terus di timbukin *ampun*.

Sedikit review dari bukunya; Pras dan Arini bisa dikatakan pasangan suami istri ideal, ideal secara islami pula cara mereka dipertemukan hingga akhirnya menikah *gak pacaran*.

Rumah tangga mereka rukun dan bahagia hingga Mei Rose hadir diantara keduanya.  Berawal dari ketidaksengajaan Pras menolang Mei yang hendak bunuh diri karena putus asa. Mei jatuh cinta pada Pras. Perasaan iba Pras pada Mei tumbuh menjadi cinta hingga akhirnya mereka memutuskan menikah.

Akhirnya Arini tahu Pras sudah menikah lagi dengan perempuan lain. Hati Arini hancur. Mei Rose tetap pada pendiriannya, ingin memiliki Pras.

“Sejak dulu kamu punya segalanya, Arini. Orangtua, suami yang baik, anak-anak yang sehat, karier kepenulisan. Segalanya.”
“Sementara satu-satunya hal baik yang pernah terjadi seumur hidupku, hanya Pras!”
“Dengan begitu banyak kebahagian, tidakkah seharusnya kamu bersyukur dan bisa sedikit bermurah hati?”

Begitulah ending versi novel lamanya Istana Kedua. Sebaliknya versi filmya happy ending. Seperti apa happy endingnya? Yang penasaran silahkan nonton filmnya J

Cerita lengkapnya  lebih komplek, menceritakan masa lalu Mei Rose yang menyedihkan, keluarga Arini (Ibu dan Bapaknya) yang sebenarnya tidak harmonis seperti kelihatannya dsb.

Athirah
Bicara novel poligami saya jadi teringat novel Athirah. Jika Arini adalah kisah fiksi semata maka Athirah adalah sosok yang pernah hidup. Ia adalah tak lain dari Ibunda wapres Yusup Kalla.

based on true story
Dengan latar kisah nyata, Alberthiene Endah, meramunya menjadi sebuah novel yang indah, enak di baca dan inspiratif. Emosi yang di deskripsikan dalam buku ini tidak berlebihan, tapi kalimat-kalimatnya mak jleb hingga  merasa sayang untuk melewatkan satu halamanpun.

Di tulis dengan sudut pandang orang ketiga yaitu Yusuf Kalla, sehingga pembaca jadi tahu bagaimana perasaan anak-anak yang orangtuanya poligami. *Based novel ini berdasarkan wawancara dengan pak Yusuf Kalla, keluarga besarnya dan sanak saudara*

Bapak *ayah Yusuf Kalla* menikah lagi dengan ijin Emma, panggilan Ibunda Yusuf Kalla. Ijin yang bukan tanpa sedih dan sakitnya hati Emma. Walaupun Emma tidak pernah mengungkapkannya secara langsung, namun terlihat dari bahasa tubuhnya.

Setelah Bapak pergi ke rumah istri keduanya. Emma membereskan meja makan tanpa bicara. Senyap. Gerakannya lembut dan hampa...panggungnya sebagai seorang istri telah berakhir.

Sholat-sholat malam yang dilakukan Emma rupanya belum cukup membuat hati Emma ikhlas dan lapang, hingga suatu hari Emma meminta Yusuf mengantarnya ke orang pintar. Namun Emma segera menyadari kekeliruannya, orang pintar bukan orang tepat untuk mencari ketenangan.

Bapak adalah sosok yang sangat di hormati dalam keluarga, tidak banyak bicara, berwibawa dan memiliki karisma besar, hingga Yusuf sebagai anak lelaki tertua tak berani bertanya kenapa Bapak menikah lagi walaupun pertanyaan itu kerap mengganggunya. Dan Emma selalu membisu soal itu.

Suatu hari yang sangat mengharukan, ketika pada sebuah undangan Bapak menolak menghadiri dengan alasan ada urusan ke luar kota, akhirnya Emma datang dengan Yusuf, betapa kagetnya Emma saat di pesta undangan pernikahan itu Bapak hadir dengan istrinya keduanya.

“Jusuf, Emma perlu membuang pikiran. Tak baik jika Emma hanya memikirkan Bapak. Emma harus melarikan waktu luang Emma untuk hal-hal kreatif,” (hal 135).

Hari-hari selanjutnya Emma di sibukkan dengan bisnis dan bergabung dengan organisasi sosial masyarakat yang anggotanya perempuan. Bisnis Emma sukses dan maju. Dan berkat Emmalah bisnis Bapak bangkit kembali setelah di ambang kebangkrutan. Endingnya? 

Baca sendiri aja ya novelnya heheh bagi saya novel ini luar biasa bukan karena temanya tapi bahasa dan pilihan katanya Alberthiene Endah itu sesuatu bangett...yang sudah pernah baca tulisan AE pasti tahulah ‘rasa’ nya.

Kesamaan film Surga Yang Tak Dirindukan dan novel Athirah selain sama-sama bertema poligami adalah, mengenai sikap perempuan. Sikap yang diambil Mei Rose (versi filmnya ya karena di bukunya beda) dan Athirah.

Nah, buat yang sudah nonton atau baca buku Surga Yang Tak Dirindukan, recommed baca novel Athirah, mungkin sama-sama akan membuat menitikkan air mata, tapi beda alasannya.


14 komentar:

  1. sepertinya saya tdk tertarik pada film surga yg tak dirindukan, tapi saya tertarik pada novel Athirah. Novel barukah mak? kalaupun novel lama, carinya dimana ya? thanks

    BalasHapus
  2. athirah novel agak lama mba, tahun 2013 terbitan nourabooks grup mizan, di tokbuk besar sudah tidak ada tapi saya liat masih di jual di online shop khusus buku atau mizanstore

    BalasHapus
  3. Jadi pengen baca yang Athirah nih Mbak, referensi bagus nih :D

    BalasHapus
  4. kalau novel istana kedua aku udah baca mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya, novel Athirah aku punya. Dikasih Mbak Lidya, ya. :D

      Belum tak baca. ;)

      Hapus
  5. saya gak mau nonton film kalo udah jelas temanya poligami mbak, gak kuat hehe

    BalasHapus
  6. Nah iya, aku juga gak suka nonton film bertema poligami, suka ikutan sewot. Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak...ikut sakit hati ya hahahha

      Hapus
  7. Saya baca novel Athirah ga sampe habis mbak. Awal2nya emang bagus, tapi pas sampe tengah2 saya ngrasa datar banget, trus bosen deh akhirnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagian tengahnay memang agak datar karena banyak menceritakan kisah cinta yusuf kalla dan istrinya....

      Hapus
  8. kalau saya baca novel kurang suka bakal lama berharihari gabisa cepet .. mending liat adaptasi film nya aja langsung :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih kalau ada filmnya duluan sy juga kayaknay mending filmnya...berhubung sebaliknya :)

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...