Rabu, 18 Mei 2016

uPang, Sterilizer Peralatan Bayi yang Aman, Hemat dan Efisien

Rasanya waktu cepat berlalu, tanggal 12 Mei lalu si sulung tepat berusia 8 tahun dan saya masih mengingat dengan jelas  perasaan  saat menimangnya pertama kali sesaat setelah melahirkannya. Lalu hari-hari di mana saya mengasuhnya berikut nasehat ini itu dari Ibu soal pengasuhan. Salah satunya nasehat yang saya ingat adalah; “Hati-hati, jangan lengah walaupun anak anteng, anak umur segitu suka memasukkan apa yang dipegangnya ke mulut. Jangan kasih mainan yang bentuknya kecil, khawatir tertelan.”

Kebiasaan bayi memasukkan benda ke mulut 
Iya  awalnya saya heran dengan kebiasaan bayi yang memasukkan apa yang dipegangnya ke mulut sampai kemudian saya mendapat penjelasan dari sebuah buku dan  majalah, bahwa ada fase oral yaitu saat bayi berusia 5-7 bulan. Di usianya ini koordinasi tangan dan mata bayi meningkat, ia memasukkan semua benda yang dipegang ke mulut sebagai cara untuk mengenalinya.

Di fase ini si kecil  rentan terkena sakit karena kuman dengan mudah dapat berpindah dari benda yang di jilat/gigitnya  ke dalam tubuh dan menyerangnya, karena sistem pertahanan tubuh bayi belum sempurna.

Ehm, saya jadi teringat kejadian saat si kecil mencret berhari-hari, rewel dan demam. Dan kesimpulan dokter dari hasil pemeriksaannya, kemungkinan si kecil terkena kuman. Bukan tidak mungkin kumannya dari mainan yang masukkan kemulut. Atau mungkin dari botol susu yang saya bawa ke kantor untuk memerah yang kurang steril.

Sayangnya tidak semua mainan dapat direbus untuk mensterilkannya. Dan saya termasuk yang ragu mensterilkan botol susu dengan cara di rebus. Kuliah di jurusan kimia membuat saya sedikit banyak mengerti soal bahan plastik atau polimer yang umumnya tidak terlalu tahan di suhu 100 derajat celsius,  sehingga sebagian larut lalu bisa secara tidak sengaja tertelan kecil. Ini yang kadang membuat saya galau soal rebus merebus botol susu.

Adakah mama yang mengalami hal sama? Ragu menstrerilkan botol susu dengan cara direbus?

Selasa, 10 Mei 2016

Cari Tau, Cegah dan Atasi Alergi agar si Kecil Tetap Berprestasi

Risau karena alergi
Sekitar dua tahun lalu saya pernah di buat risau dengan keluhan yang dialami anak  kedua saya, Khalifah,   karena gatal di betisnya  yang sering kambuh. Sembuh setelah   diolesi obat, begitu obat habis kambuh lagi. Ganti dokter kulit hasilnya sama.
“Ini obatnya sudah bagus, Bu,” kata salah satu dokter kulit begitu saya mengeluhkan gatalnya yang kambuh lagi dan memperlihatkan salep yang di beri dokter sebelumnya.
“Kalau saya tambah dosisnya khawatir bahaya. Ini sejenis eksim kering.  Ibu atau bapak ada riwayat eksim?”
“Tidak, Dok.”
“Atau alergi?”

“Iya saya alergi, anak pertama saya juga alergi.”
“Ehm, kemungkinan eksimnya ini efek alergi, Bu. Udah pernah cek alergi Dedenya?”
“Iya Dok, alergi susu sapi, tapi saya tidak memberikan susu sapi, kok kambuh ya Dok?”

”Saya resepkan salepnya ya, Bu tapi yang terpenting hindari pemicu alerginya. Selain susu sapi coba Ibu hindarkan Dedenya dari makanan olahan susu sapi lain. Yoghurt, keju.  Saya resepkan juga lotion Bu, kulit Dedenya kering jadi makin rentan kena gangguan kulit. Perbanyak konsumsi sayur dan buah juga ya Bu agar kulitnya lembab.”

Saya menuruti saran Dokter, alhamdulillah seiring waktu gatal di betis Khalif sembuh dan tidak pernah kambuh lagi.

Semua dari Ingin Tau:  Tau - Cegah dan Atasi - Sebar
Dan saya mulai berpikir, apa sayur dan buah bisa menyembuhkan gejala alergi yang berdampak pada kulit? Apa seiring usia alergi sembuh? Karena sejak usia 3 tahun lebih saya tidak memantang makanan untuk Khalif dan dia suka  mengkonsumsi susu kemasan seperti Morinaga Chil-Go! seperti Kakanya dan tidak menampakkan gelaja alergi.

Pertanyaan –pertanyaan itu terjawab saat saya mengikuti sesi coaching clinic mengenai alergi yang di selenggarakan Morinaga di KalCare mall Bintaro Xchange beberapa waktu lalu. 

KalCare Bintaro Xchange

Minggu, 01 Mei 2016

Pentingnya Stimulasi di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Permah merasa si Kecil kita pintar dan hebat? Ehm, perasaan yang saya kira di alami hampir semua ibu dan itu wajar. Kemampuan si kecil meniru, mengingat dan pertanyaan-pertanyaan kritisnya tak jarang membuat kita kagum. Dan hampir semua anak seperti itu karena saat usianya menginjak batita atau sering di sebut golden age, otaknya tengah berkembang dengan cepat dan menyerap semua informasi seperti spoons.

Begitu pula dengan di kecil saya, ketertarikannya pada buku membuat saya kadang merasa heran, di keramaian begitu melihat tumpukan buku, dia antusias melihat dan ingin membeli, padahal tak jauh darinya ada pedagang balon dan beragam mainan. Saya juga tidak menyangka, dia tertarik dengan buku science sederhana. Ini adalah dua buku science favoritnya, minta dibaca berulang-ulang sampai dia sendiri hapal. Namun bukan berarti dia tidak tertarik mainan, malah sangat tertarik di banding menonton, dia bisa berjam-jam anteng main berkhayal dan lupa minta nonton seharian. Ketertarikannya tidak lepas dari stimulasi  yang saya berikan saat dia bayi, rutin dibacakan buku (hinga saat ini) dan membatasi menonton tapi 'dipaksa' bermain dengan mainan dan berkhayal.

Apa yang kita berikan pada si kecil pada awal kehidupannya memang sangat berperngaruh besar. Penjelasannya ilmiahnya saya dapat saat tanggal 2 April lalu saya mengikuti seminar parenting dengan tema  Siap Cerdaskan si Kecil Sejak Dini  dengan narasumber  dokter ahli tumbuh kembang anak Dr.dr. Ahmad Suryaman, SpA(K), dokter ahli alergi-imunologi anak Dr.dr. Anang Endaryanto, SpA(K) dan pakar psikologi Dr.Rose Mini,A.P., M.Psi.

Siap Cerdaskan Bangsa 

Sabtu, 30 April 2016

Rumah Aman dan Nyaman dengan Genteng Bitumen Onduline

Home is where the story begin....

Sambil menikmati hujan dari balik jendela :)

Yang paling saya sukai dari musim hujan adalah aroma tanah yang tercium saat pertama kali hujan menyentuh bumi. Terutama hujan setelah musim kemarau. Hal lain yang saya sukai dari hujan adalah perasaan romantis. Entahlah suka tiba-tiba saja merasa romantis hahaha. Selain itu hujan selalu mengingatkan saya pada Ibu. Saat hujan Ibu selalu membuat kami betah di rumah dengan cara membeli atau membuatkan camilan sederhana seperti pisang goreng, ubi goreng atau roti .

#SekotakPenuhKesan Selama Perjalanan Menjadi Ibu bersama Blue Bird

Saya selalu menggunakan taksi Blue Bird saat bepergian bersama anak-anak jika pak suami tidak bisa mengantar. Taksi selalu jadi pilihan karena aman, nyaman dan efisien.  Aman dan nyaman terutama untuk anak-anak yang senang bereksplorasi, tidak bisa duduk diam dengan manis. Hiruk pikuk jalan selalu menarik perhatian mereka, berkomentar dan bertanya  ini itu. Spanduk-spanduk minta di bacain dan sebagainya. Dan Adik biasanya tidak mau duduk karena jika duduk dia tidak bisa melihat jalan. Dia berdiri saya memeganginya.

Seperti hari itu saya dan anak-anak ke RS Eka hospital BSD untuk konsultasi dengan dokter gigi anak terkait masalah gigi Kaka yang tumbuh tidak rata.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...