Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 12 Juli 2019

Museum Gedung Sate Bandung

Berkunjung ke Museum Gedung Sate Bandung



Salah satu ide mengisi liburan sekolah adalah mengajak anak – anak mengunjungi museum. Selain edukatif wisata ke museum bisa dibilang ramah di kantong karena  tiket masuknya murah dan terletak di tengah kota.

Liputan versi vlog bisa tonton di sini 


Untuk teman – teman yang tinggal di kota Bandung dan sekitarnya atau yang sengaja wisata ke kota Bandung jangan lewatkan mampir ke museum Gedung Sate plus menikmati sajian kopi dari tanah Jawa Barat di sini. Yap, tepat di samping loket masuk museum ada kedai kopi yang cukup cozy lho. Harga secangkir kopinyanya kisaran 20 ribuan. 





Gedung Sate adalah ikonnya kota Bandung ada pula yang menyebutnya gedung putihnya kota Bandung karena keindahan gedungnya, lengkap dengan lanskap tamannya tak kalah indah dan anggun dengan bangunan – bangunan capitol negara – negara lain.

Saya sendiri masih takjub setiap melihat/lewat Gedung Sate. Gile keren banget nih gedung, arsiteknya jenius.  Gaya arsiteknya tak lekang waktu.

Yang penasaran bagaimana sih dalamnya Gedung Sate, pengen melihat lebih dekat pilar dan daun – daun jendelanya yang kokoh dan anggun, harus banget masuk ke museum Gedung Sate, ga sekedar selfie di depan gedungnya.

Sejarah Pembangunan Gedung Sate
Ide pembangunan Gedung Sate berawal dari pihak Belanda yang berniat memidahkan ibu kota/pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia (Jakarta) ke Bandung. Dengan pertimbangan iklim di Bandung yang relatif sejuk, iklimnya sama dengan iklim Perancis Selatan, katanya. Pembangunan dimulai pada Juli tahun  1920,  dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya adalah pemahat dan ahli ukir asal Kanton Cina. Pembangunan berlangsung selama kurang lebih 4 tahun dengan menghabiskan biaya sekitar 6 juta gulden. Selanjutnya angka 6 ribu ini diabadikan dalam bentuk ornament mirip sate di puncak gedung – sebenarnya ornament bulat semacam sate itu adalah bunga teratai yang melambaikan kemakmuran.

Pada tahun 1980 Gedung Sate digunakan sebagai kantor Gubenur Jawa Barat.

Arsitektur Gedung Sate

Gedung Sate yang pada masa Hindia Belanda dikenal dengan nama Gouvernements Bedrijven (GB) merupakan karya arsitektur Ir. J Gerber dan timnya, yang tak lepas dari masukan maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage.

Arsitektur Gedung Sate bergaya Indo – Eropa (Indo Europeeschen architectuur stijl), arsitektur yang memadukan lagam timur (Indonesia - Asia) dan lagam Barat (Eropa) dengan harmonis. Secara keseluruhan bangunan Gedung Sate bergaya Reinassance Italia. Jendela Gedung Sate yang besar dan anggun mengambil gaya arsitektur Moor dari Spanyol,  sementara menaranya bergaya Asia seperti Pagoda Thailand atau Pura di Bali.

Bagian Fasad atau tampak depan Gedung Sate menghadap gunung Tangkuban Perahu di Utara sehingga katanya jika kita berada di bagian atas Gedung Sate, tempatnya pak Gubenur Jabar menjamu tamu, dari sana kita bisa melihat dengan jelas keindahan Gunung Tangkuban Perahu. Duh jadi pengen ya dijamu di sana hahahah.

Oh ya kalau teman – teman jeli kita bisa melihat tembok bangunan gedung sate itu besar dan ternyata memang kontruksinya berukuran  1 x 1 x 2 m berisi batu -  batu besar. Teman – teman bisa lihat di museum, ada bagian tembok yang sengaja dibongkar agar kita bisa melihat konstruksi bangunan Gedung Sate.





Museum Gedung Sate
Apa sih dalamnya museum Gedung Sate? Tidak sekedar foto - gambar sejarah dan arsitektur Gedung Sate juga Sejarah Kota Bandung sejak 1890, mencakup sejarah pasca kemerdekaan dan pra colonial – kolonial.


Menilik arsitektur gaya Indo _ Eropa Gedung Sate 




foto jadul; proses pembangunan Gedung Sate 
Juga terdapat ruangan Augmented Reality yang membuat pengunjung seolah –olah kembali ke masa lampau atau naik balon udara.

ruang Augmented reality

Arsitektur Gedung Sate dan Timnya 



ini yang membuat konstruksi Gedung Sate Kokoh 


Museum dengan konsep digital ini dilengkapi bioskop mini berkapasitas 35 orang yang memutar film pendek mengenai sejarah perang yang terjadi di Gedung Sate pada masa kemerdekaan.


Museum Gedung Sate diresmikan pada 8 Desember 2017. Buka setiap hari pukul 9.30 – 16.00, kecuali hari senin tutup. Tiket masuk hanya 5000 rupiah. Kapasitas museum hanya 35 orang jika saat ke sana harus antri teman – teman bisa menunggu di kedai kopi yang terdapat di sini.


Menonton Film Perang di Gedung Sate


Saat ke museum ini pastikan teman – teman mengikuti sesi menonton di bioskop mininya, di sini akan diputar film sejarah perang yang terjadi di Gedung Sate pada masa Kemerdekaan. Pada 4 Oktober 1945, Bandung diinvasi tentara sekutu yang diboncengi tentara Belanda dan NICA. Tanggal 3 Desember 1945 dinihari tentera Gurkha dan sekutu menyerbu Gedung Sate. Gedung sate dipertahankan 21 pejuang, pertempuran berlangsung sengit hingga jam 2 siang. Tujuh pemuda hilang. Agustus 1952 pencarian dilakukan kembali dan ditemukan 3 jenazah yang berupa kerangka di lubang yang terletak di belakang Gedung Sate. Empat  jenazah lain belum ditemukan hingga kini. Untuk mengenang pengorbanan ke 7 pemuda tersebut, dibangun prasasti yang diletakkan di belakang Gedung Sate. 

Kopi Jawa Barat 
Tepat setelah pintu masuk di  samping kiri ada kedai kopi yang menyajikan kopi khas Jawa Barat. dengan desain kekinian cukup cozy buat nongkrong dan selfie.





Jika mau menyeruput kopi dengan udara segar bisa di dinikmati di bangku - bangku yang tepat ada di depan pintu masuk museum. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar