Sabtu, 30 April 2016

#SekotakPenuhKesan Selama Perjalanan Menjadi Ibu bersama Blue Bird

Saya selalu menggunakan taksi Blue Bird saat bepergian bersama anak-anak jika pak suami tidak bisa mengantar. Taksi selalu jadi pilihan karena aman, nyaman dan efisien.  Aman dan nyaman terutama untuk anak-anak yang senang bereksplorasi, tidak bisa duduk diam dengan manis. Hiruk pikuk jalan selalu menarik perhatian mereka, berkomentar dan bertanya  ini itu. Spanduk-spanduk minta di bacain dan sebagainya. Dan Adik biasanya tidak mau duduk karena jika duduk dia tidak bisa melihat jalan. Dia berdiri saya memeganginya.

Seperti hari itu saya dan anak-anak ke RS Eka hospital BSD untuk konsultasi dengan dokter gigi anak terkait masalah gigi Kaka yang tumbuh tidak rata.




“Ma, kenapa orang-orang ngasih uang ke dia?” tanya Adik saat kami lewat pertigaan di mana seorang pemuda tanggung tepat berdiri di tengah mengatur mobil yang lalu lalang, sesekali tangannya menerima recehan dari pengendara mobil.
“Karena dia membantu supaya jalanan tidak macet.”
“Ma, kenapa kita tidak ngebut?”
“Karena berbahaya, bisa menabrak orang atau kendaraan lain.”

Sementara Kaka cemberut dan sesekali merengek, dengan berkata, ‘Aku tidak mau ke rumah sakit’. ‘Aku tidak mau di cabut gigi’. ‘Aku tidak mau pake kawat gigi’. Saat saya menghiburnya, Adik berteriak minta perhatian terlebih karena cemburu. Terjadilah sedikit kegaduhan. Adik berteriak sambil menarik baju saya. Kaka mengancam harus di belikan es krim. Adik jadi berteriak minta es krim.

“Iya, es krimnya nanti tapi kalau Kaka di cabut gigi, kalau nggak di cabut tidak jadi beli es krim.”
“Tapi Dede mai es krim! Es krim!” di susul tangisan. Hadeuh....
“Duh, maaf ya Pak jadi berisik.”
“Tidak apa-apa, Bu, biasa kalau  anak-anak.”

Untuk meredakan ketegangannya saya mengajak anak-anak foto selfie dengan berbagai ekspresi, akhirnya Kakak dan Adik tertawa. Setelah selfie bosan, Adik dan Kaka bercanda yang lagi-lagi membuat kegaduhan. Perjalanan dari pamulang ke tempat tujuan memang lumayan lama sekitar 40 menit.

Saya kembali minta maaf pada pak supir. Dan dia mengiakan dengan senyum.

Pastinya butuh kesabaran dan konsentrasi luar biasa untuk bisa menyetir dengan kondisi agak gaduh, tetap konsentrasi pada jalanan di depan mata. Harus tetap tersenyum dan ramah walaupun bukan tidak mungkin pak supir sebenarnya kesal J. Terima kasih atas pengertiannya pak supir. Itulah #SekotakPenuhKesan perjalanan saya bersama Blue Bird dari Pamulang ke Eka Hospital BSD.

Secara tidak sadar beberapa kali kami mengabaikan pak supir saat menumpang taksi  karena terlalu asik dengan urusan sendiri, bahkan lupa  minta maaf karena membuat kegaduhan.

Tentu butuh kebesaran hati untuk menerima pengabaian-pengabaian yang di lakukan para penumpangnya baik disengaja atau pun tidak.  Pernah suatu kali saya mendengar curahan hati seorang supir taksi yang dibayar penumpangnya setengah dari argo karena sempat tersesat sebelum mencapai tempat tujuan.

“Kesal sih Bu, lha wong dia yang salah kasih alamat, tapi harus ikhlas  mungkin rejeki saya memang segitu. Rejeki memang tidak bisa diukur dengan meteran tapi yang di Atas yang ngatur. Bisa jadi rejeki rupaih saya di ganti dengan keselamatan selama perjalanan”

Duh, jleb banget. Saya jadi malu karena lebih sering mengukur rejeki dengan sejumlah rupiah yang di dapatkan.

Bicara mengenai #SekotakPenuhKenangan dengan taksi Blue Bird, saya jadi teringat masa-masa awal menikah, hamil dan melahirkan.  Tahun pertama menikah saya dan suami tinggal di kota berbeda. Saya di Bandung dia di Jakarta. Setiap akhir pekan kami gantian saling mengunjungi. Jika giliran saya ke Jakarta pak suami selalu berpesan,”Dari pol travel naik  taksinya Blue Bird.”
   
Saya manut karena buta kota Jakarta dan beberapa kali mendengar berita tv kejahatan sering terjadi dalam taksi. Jadi penting memilih taksi yang terpercaya dan saat itulah saya tahu taksi Blue Bird terpercaya (waktu itu di Bandung belum ada taksi Blue Bird). Dari perjalanan itu pengetahuan saya tentang jalan-jalan di kota Jakarta bertambah setelah bertanya ini itu pada pak supir.

Saat hamil besar dan goncangan kendaraan roda dua pak suami tidak lagi nyaman bahkan sakit untuk perut saya,  maka pilihan saya ketika memeriksakan kehamilan adalah taksi,  begitu pun saat akan melahirkan dan si kecil lahir dengan selamat, taksi Blue Bird yang mengantarkan saya sampai rumah dengan nyaman dan aman.

Itulah #SekotakPenuhKesan perjalanan saya bersama Blue Bird. Teman-teman punya pengalaman berkesan juga? Yuk tuliskan dan menangkan Grand Prize Apple Macbook Pro, Leica D-Lux (typ 109), Apple Iphone^ 64gb dan hadiah mingguan GoProHero4, Samsung Gear S2 Smartwatch dan voucher MatahariMall.com. Dengan periode lomba  dari tanggal 7 maret - 1 mei 2016. Info lengkap bisa di lihat di sini 





6 komentar:

  1. aku kalo butuh taksi,pilihnya bb..soalnya aman masalah harga..terus ada majalahnya juga,kalo macet bisa baca2^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. harga aman karena pake argo ya ...beberapa taksi ada yang masih main tembak harga

      Hapus
  2. saya jadi ingat, dulu pertama kali mau masuk kuliah di jakarta, dan pertama kali pula naik taxi, ya pakenya blue bird :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba dulu taksi blue bird cuma ada di jakarta , sekarang di bandung sudah ada

      Hapus
  3. Naik Bluebird serasa mobil pribadi, anak2 jadi banyak cerita

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba, kalau kecapean tidur pulas pula heuheu

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...