Minggu, 06 September 2015

Main congklak tak sekedar seru #idemain #stimulasi

Udah lama banget pengen beliin Kaka congklak tapi setiap nemu congklak di pasar bahannya plastik, biji congklaknya pun dari plastik. Pengennya kerang asli. Walaupun cara mainnya sama tetap merasa gimana gitu kalau kerangnya plastik. Nggak ori hehehe

“Sekarang udah jarang coklat yang kerang asli,” kata mama waktu saya nitip beliin kalau ke pasar baru.

Ternyata dan ternyata congklak dengan biji kerang asli sudah banyak di jual di onlineshop. Kemana aja Rin? Iya kemana aja ya padahal tiap hari online.

Jadilah beli via online, begitu datang langsung eksekusi, kebetulan paketnya datang siang hari saat kaka sudah pulang sekolah. Satu putaran diajari, Kaka  langsung ngerti dan minta main lagi lagi dan lagi, sampai mamanya telat masak dan beres-beres.  Sstt, mama juga sebenarnya kesenengan main congklak setelah puluhan tahun ga main hahahaha.  Oh ya jangan khawatir jika biji kerangnya nanti hilang-hilang, bisa di beli secara terpisah di toko online.

Adiknya ga mau kalah minta di ajarin dan sekarang udah bisa. Tak puas main sama Mama,  Abi pun di ajak main congklak. Sudah barang tentu teman-teman sekitar rumah.

Congklak atau  dakon adalah sebuah permainan tradisional menggunakan papan berlubang  (ada yang 14 lubang ada yang 16 lubang) dan diisi biji kerang.  Permainan ini sudah ada sejak jaman ‘baheula’. Kabarnya permainan ini adalah salah satu permainan para putri keraton di Indonesia jaman dulu.  Awalnya saya mengira permainan ini asli Indonesia lho ternyata setelah googling, permainan ini di bawa pedagang-pedagang Arab ke Asia hingga akhirnya sampai ke Indonesia.  Percaya ga percaya soale belum  pernah baca atau liat foto anak arab main congklak hahahha.

Seperti sebuah permainan lainnya, ada banyak hal yang bisa anak pelajari dari bermain congklak di antaranya ;

1.       Mengenalkan kompetisi
Keduanya ingin selalu menang dan sama-sama mengasumsikan, peluang menang di tentukan oleh yang pertama kali memainkan congklak. Tak heran jika suka rebutan mau main duluan. Walaupun tak ada hadiah atau reward untuk kemenangan itu, ada perasaan bangga yang membuat anak mengejar kemenangan itu.  Anak mulai belajar berkompetisi dan merasakan emosinya (kalah sedih menang senang).

2.       Belajar sportif dan jujur
Keinginan menang membuat anak-anak  berpikir mencari cara untuk  menang termasuk berpikir untuk curang. Salah satunya dengan cara tidak mengisi satu lubang congklak agar biji congklak terakhir jatuh di tempat yang masih banyak kerangnya alias ga mati. Untungnya mata mama jeli – lha iyalah lebih pengalaman - . Itu terjadi di awal-awal kami punya congklak, sekarang keduanya sudah main jujur. Tapi saya terus menekankan dan memberi nasehat, apapun permainannya harus jujur dan harus malu jika curang karena walaupun tidak ada yang melihat, Allah dan malaikat melihat.

3.       Belajar menunggu giliran
Gregetan kalau lawan gak berhenti-berhenti membagi-bagikan biji congklak. Ga sabar nunggu giliran. Ini juga yang suka di keluhkan anak-anak.”Kok mama ga mati-mati sih mainnya.”
Secara tidak langsung anak-anak belajar menunggu, gantian dan bergiliran.

4.       Belajar Strategi
Agar biji kerang yang dikumpulkan banyak (menang), ada strateginya. Bukan strategi matematis yang menjelimet atau harus di hitung (bakalan lama dong), seiring waktu anak akan belajar dan jadi tahu caranya menang dengan strategi.

5.       Belajar berhitung
Congklak membantu KAE belajar berhitung, membagi dan mengelompokkan.

6.       Melatih interaksi sosial dan emosional
Permainan congklak membutuhkan dua orang. Interaksi ini membutuhkan keterampilan sosial dan emosional yang akan terasah secara otomatis saat anak bermain bersama.  Mengelola emosi saat kelah dan menang. Interaksi sosial dengan lawan, dari obrolan  permainan yang tengah di mainkan sampai hal-hal lain.

Point – point ‘pelajaran’ di atas banyak juga di temukan pada permainan lain, termasuk permainan di gadget yang banyak macamnya dan super canggih dalam hal strategi. Ada satu keunggulan permainan tradisional yang tak bisa tergantikan dengan permainan gadget secanggih apapun yaitu interaksi sosial dan emosional.


Alasan yang mendasari bermunculannya banyak komunitas atau teman main yang mengangkat kembali permainan-permainan tradisional. Karena kemampuan interaksi sosial dan emosional sangat penting dalam kehidupan anak bermasyarakat kelak, karena dari kemampuan ini timbul rasa empati dan simpati. 

6 komentar:

  1. banyak belajar melalui satu permainan ya. Duh itu papan congkalknya bagus bener, punya anak-anak mah cuma dari plastik

    BalasHapus
  2. Waktu kecil saya main congklak juga Mba, tapi kalau di daerah saya kayaknya pakai biji sawo. Seru ih, jadi pengen maen congklak :)

    BalasHapus
  3. Aih conglaknya canik. Di rumahku yang bentuk nga mbak.
    Betul, dengan main congklak anak-anak bisa belajar sabar saat menunggu giliran

    BalasHapus
  4. wah bagus congklaknya .. saya dulu mainnya yang congklak dari plastik tapi kerang asli yg putih itu .. beli lagi sih itu kerangnya :D

    BalasHapus
  5. pengen nih ajakin bocah main congklak, kudu bongkar2 kardus dulu masih ada ndak yaa hihihi

    BalasHapus
  6. Wah sekarang congklaknya bagus yaa... ada kembang2nya... dulu sih congklak cuma dicat polos gitu aja. Tapi seneng juga sih melihat bahwa congklak masih eksis sampai saat ini hehehe

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...