Jumat, 28 Maret 2014

Memulai Perubahan Kecil dari Rumah untuk Lingkungan Lebih Baik

Gaya hidup dibentuk kebiasaan tapi bukan berarti tidak bisa dirubah. Contohnya saya, dulu tidak pernah memikirkan berapa banyak air bersih yang saya gunakan terbuang percuma karena digunakan seenaknya atau dalam istilah bahasa sunda ‘hambur’.  Kurang aware dengan lampu yang menyala di siang hari di rumah, menanggapi kampanye tanam pohon tanpa action. Ya, dulu saat masih mengenakan seragam sekolah, belasan tahun lalu.  Saat kampanye peduli lingkungan masih jarang di dengungkan. Karena air bersih masih begitu berlimpah -saya ingat waktu itu air pam tidak pernah mati 24 jam -  kini hanya mengalir saat pagi dan malam,  banjir hanya menggenangi tempat-tempat tertentu itu pun tidak luas.

Seiring bertambahnya pengetahuan mengenai lingkungan, saya mulai menerapkan kebiasaan kecil yang dimulai  dari rumah untuk menjaga lingkungan juga sebagai bentuk dukungan pada organisasi WWF,  dengan melibatkan semua anggota keluarga, termasuk anak-anak dan art.

Terlebih setelah saya tahu jika air tawar di bumi ini hanya 2.5% dari keseluruhan air yang ada dan hanya 1% persen yang bisa diminum.  Padahal jumlah populasi manusia terus bertambah. keterbatasan air bersih sangat terasa ketika musim kemarau tiba.

Namun ada kenyataan yang cukup ironis di negera tercinta ini, saat musim kemarau beberapa daerah terkena kekeringan cukup parah, namun saat musim penghujan tiba, banjir di mana-mana – dan seiring waktu daerah yang terkena banjir makin meluas.

Bukti bahwa ada ketidakseimbangan. Pembangunan yang tidak terintegrasi, begitu kata  salah seorang dosen Geologi saat saya mengambil mata kuliah geologi umum.

Banyak faktor yang menyebabkan banjir diantaranya; daerah resapan air dijadikan hunian atau pusat niaga, penyempitan daerah aliran sungai karena banjir dan rumah liar, pembalakan liar dan berkurangnya tanah yang mampu menyerap air karena kini banyak rumah  lebih suka halamannya di semen dengan alasan biar bersih.
Saya sangat berharap pemimpin terpilih april mendatang, memiliki kepedulian pada lingkungan, tak seenaknya memberi tanda tangan ijin membangun gedung perkantoran, apartemen, hotel atau mall tanpa memikirkan efek alih fungsi tanah tersebut atau tanpa memikirkan membangun gorong-gorong untuk saluran airnya.

Sekedar berharap sama dengan bermimpi, jadi saya berusaha disiplin melakukan langkah kecil untuk perbaikan lingkungan dimulai  dari rumah dan melalui blog saya ingin berbagi langkah ini.

     Pemakaian detergen secara efisien
Iklan detergen yang salah membawa dampak kerusakan lingkungan yang cukup besar lho. Yap, selama ini  kebanyakan masyarakat terutama kaum ibu dan art, percaya makin banyak busa yang dipake untuk meredam, hasil cucian makin bersih, tak heran jika sebagian ibu dan art ini, menggunakan detergen lebih banyak dari takaran yang tertera pada kemasan. Padahal surfaktan pada detergen yaitu senyawa kimia ABS* atau ALS yang fungsinya membersihkan kotoran,  mempunyai titik jenuh, artinya jika pada aturan pakai tertera 1 sendok untuk satu 10 liter air rendaman, maka jika ditambahkan 2 sendok, daya membersihkannya tidak akan bertambah.  

Hanya busanya saja yang makin banyak yang berarti butuh air untuk membilas lebih banyak dan busa (buih/foam) berlebih yang berasal dari  senyawa polyphosphat dari detergen mengganggu proses pelarutan oksigen ke dalam air karena pertumbuhan alga dan bakteri meningkat, tanaman air bertambah subur – hal ini biasanya di tandai dengan tumbuh suburnya tanaman air seperti eceng gondok.

Sementara itu senyawa ABS dari detergen tidak bisa terurai secara alami saat dibuang ke sistem pembuangan (solokan/sungai) namun beberapa perusahaan sudah mengganti ABS dengan ALS yang relatif bisa terurai. Jadi mari pastikan detergen yang kita gunakan sudah menggunakan ALS.

Pengetahuan itu yang saya dapat dari bangku kuliah, bukan kebetulan saya dulu kuliah di jurusan kimia.  Sejak  mengetahui teori itu,  saya cukup cerewet soal pemakaian detergen terutama di rumah, walaupun awalnya mama saya menentangnya, karena khawatir cuciannya tidak bersih.  Setelah berumah tangga saya lebih cerewet dan membuat art  senewen karena mengira saya pelit.  Setelah saya terangkan sebab  akibatnya, barulah dia mengerti.

*pemakaian ABS di beberapa negara sudah di larang karena terbukti tidak terurai sehingga menyebabkan keracunan pada biota air.

2       Menyiram bunga dengan air bekas cucian beras, sayur dan lauk
Menyiran bungan dengan air bekas cucian beras, sayur dan lauk adalah resep warisan mama saya.
“Ini lihat, kalau di siram pake air cucian beras, daunnya besar-besar, subur, gak gampang kena kutu,” kata mama sambil menunjuk pot-pot  daun kuping gajah koleksinya. Cara mama meyakinkan saya untuk tidak membuang air bekas cucian beras, sayur dan lauk tapi mengumpulkannya dalam ember.

Setelah dewasa, dengan bantuan mbah google, barulah saya mengerti kenapa tanaman yang di siram dengan air siraman beras  lebih subur dan tidak gampang kena penyakit. Karena air itu mengandung nutrisi yang larut saat pencucian, seperti fosfor dan zat besi. Sedangkan ada juga vitamin dan mineral dari sisa kulit ari beras yang terbilas. Dan semua zat tersebut diperlukan tumbuhan.

Dan menurut sebuah penelitian terbaru seorang mahasiswa IPB, air cucian beras merupakan media alternatif pembawa bakteri pseudomonas fluorescens, mikroba yang berperan dalam pengendalian penyakit dan memacu pertumbuhan tanaman.

Sedangkan air cucian lauk (ayam, daging dan ikan), mengandung unsur nitrogen, phospor dan kalsium, mineral yang bermanfaat untuk tumbuhan.

tanaman lebih sumur
1       Memaksimalkan lahan yang ada untuk bercocok tanam
Selain menanam beragam jenis tanaman, dengan idenya dari Indonesia berkebun (saya anggota pasif), saya belajar menerapkan ‘urban farming’, dengan menanam tanaman yang mudah perawatannya yaitu kangkung. Dan sudah beberapa kali di panen untuk konsumsi sendiri dan tetangga.

bantu mama bersihin rumput liar

Saya melibatkan si sulung Azka hal ini, termasuk mulai dengan memberinya ‘projek’ yaitu menanam pohon cabe rawit, yang harus di rawatnya sendiri, menyiram dan memberinya pupuk seminggu sekali. Sekaligus sebagai bentuk belajar berkebun dan sains secara langsung.

berumur dua minggu lebih
      Membuat biopori
Saya tinggal di ciputat, perumahan tempat saya tinggal selalu tergenang air jika hujan, dengan ketinggian mencapai    untunglah tidak sampai masuk rumah. Perumahan yang saya tinggali perumahan lama, dibangun tahun 1998 dan baru beberapa tahun kebelakang ini tergenang. Dan ini terjadi setelah rawa yang ada di samping perumahan di bangun menjadi sebuah rumah sakit besar.

penampakan depan rumah saat hujan
Warga sempat protes tapi tentu saja kalah, karena pihak rs mengantungi ijin resmi selain tentunya keberadaan rs swasta ini menjadi kas untuk pemerintah kota.

Jadi dibuatlah biopori di halaman depan, walaupun nampak tidak ada efeknya, tapi saya yakin keberadaan biopori membuat persedian air tanah untuk sumur kami bertambah saat  musim kemarau.

membuat biopri

4       Membuang sampah pada tempatnya
Kebiasaan yang ditanamankan Mama sejak kecil saya tularkan pada anak-anak saya sejak dini dan cukup berhasil. Selain anak-anak jadi cukup disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya mereka juga suka protes jika melihat temannya atau orang lain membuang sampah pada tempatnya. Saya pun memberi penjelasan kenapa dan akibatnya jika pembuang sampah sembarangan, salah satunya mengakibatkan banjir.

6      Memaksimalkan lahan yang ada untuk bercocok tanam
Selain menanam beragam jenis tanaman, dengan idenya dari Indonesia berkebun (saya anggota pasif), saya belajar menerapkan ‘urban farming’, dengan menanam tanaman yang mudah perawatannya yaitu kangkung. Dan sudah beberapa kali di panen untuk konsumsi sendiri dan tetangga.

7       Membuat pestisida organik untuk membasmi tanaman
Karena kuliah di bangku kimia juga, saya lebih melek soal bahaya pestisida. Untuk membasmi nyamuk di rumah saya menggunakan cara alami yaitu dengan raket karena obat nyamuk walaupun katanya aman, saya yakin tetap berefek negatif bagi kesehatan terutama anak-anak.

Untuk membasmi penyakit tanaman saya menggunakan pestisida buatan. Caranya dengan menumpuk satu siung besar bawang putih dan satu ruas jari lengkus lalu di larutkan dalam satu liter air, agar cairan ini tidak masak untuk di gunakan esok harinya tambahkan seperempat spirtus. Dan untuk menambah daya tempelnya (surfaktan) pada daun/batang tanaman, tambahkan empat sendok sabun mandi. Cara pemakaiananya, semprotkan pada tanaman.

8    Reuse dan Reduse
Saat belanja bulanan saya memilih mengemasnya dengan dus sedangkan saat belanja di warung, jika memungkinkan tidak menggunakan kantung kresek saya tidak menggunakannya, misal jika membeli satu atau dua item, dan seringnya memang tidak terlalu banyak belanja di warung. Sedangkan saat belanja ke pasar saya membawa kantung belanja sendiri.

Plastik adalah bahan kimia dengan rantai sangat panjang atau disebut polimer dan itu yang membuatnya sukar terurai di alam. Perlu ratusan tahun plastik terurai dalam tanah.

bukan hanya plastik kresek, saya pun meminimalkan penggunaan alat rumah tangga berbahan plastik, kalau bisa barang bekas di manfaatkan kenapa tidak? Hemat pengeluaran heheh

toples bekas selai
9        Menggunakan transportasi massal? siapa takut
Naik mobil pribadi itu nyaman walaupun macet. Sebagai perbandingan, saya pengguna KRL setia walaupun jadwalnya meleset dikit-dikit  tapi sering apalagi musim hujan, jadi prediktable, belum lagi penuh super sesak saat jam pulang dan pergi kantor. Naik bis dan metromini, macet dan suka ngetem. Naik anggot, tak jauh beda. Naik motor, selain kepanasan, ngeri di salip orang.

Tapi jika semua orang berpikiran seperti itu, mungkin masalah kemacetan tak akan pernah terurai, karena pertambahan panjang dan luas jalan hanya 1% pertahun, sementara jumlah kendaraan meningkat 10% setiap tahun.

Jadi kalau memungkinkan naik transportasi massal why not?  

Saya mempunyai banyak teman yang tidak bisa dan tidak biasa naik transportasi massal, bukan karena mereka pernah merasakan naik transpormasi massal,  justru sebaliknya, dari kecil tak kenal tak pernah ‘kenal’ transpormasi massal.

Saya tidak ingin itu terjadi pada si kecil saya, kenyamanan yang kami miliki, membuat mereka  terlena sehingga kurang aware termasuk enggan naik transportasi massal. Jadi kami kerap membawa mereka naik transportasi massal jika jarak tempuh memungkinkan. Ke pasar naik angkot, ikut saya mengurus ini itu naik transjakarta atau KRL.

jalan-jalan weekend dengan KRL
EduWisata ke Alam Terbuka
Mengajak si kecil mengenal alam sekaligus menanamkan kecintaan pada lingkungan dengan mengajaknya berwisata di Alam Terbuka. Si kecil Azka bisa merasakan bedanya kesegaran udara antara tempat yang banyak tanaman dengan yang tidak sehingga ia jadi tahu mengapa keberadaan tumbuhan penting.

azka jadi tahu dari sinilah teh berasal

Lingkungan rumah bersih, hijau dan terawat, membuat si kecil nyaman bermain dan berinteraksi di luar rumah.



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog - Blogger Peduli Lingkungan  WWF dan BlogDetik

Referensi tulisan
www.indonesiaberkebun.org


8 komentar:

  1. semoga tulisannya menginspirasi pembaca ya... :-)
    kunjungi juga www.muslimgreget.com

    BalasHapus
  2. lengkap banget mak ulasannya. Saya kalo mau merendam pakaian, agar takaran detergent tdk kebanyakan, saya sering pakai yg sachet. Menyiram tanaman dgn air bekas juga sudah ditanamkan ibu saya sejak dulu. nice info. thanks for sharing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya enak pake sachet ya apalagi klo cuciny art

      Hapus
  3. Sudah buat Biopori didpan rumah. Kereeen.

    Semoga menang ya, Mak.

    BalasHapus
  4. seru ya jalan-jalan di perkebunan teh

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...