Rabu, 15 Mei 2013

Cara Mencari Narasumber untuk Tulisan


Mencari nara sumber (narsum) untuk tulisan? Begini lho cara resminya. Tapi sebelumnya mau sedikit cerita pengalaman saya mendapatkan narsum.



Beberapa tulisan saya di majalah AB mengharuskan memakai narsum profesional atau istilahnya konsultan ahli. Kadang-kadang AB menunjuk langsung narsum yang harus saya hubungi, saya diberi no kontaknya jadi tinggal tlp dan bikin janji bertemu atau wawancara by phone - biasanya kalau dokter tidak mau wawancara by phone, katanya khawatir salah persepsi -  di lain waktu saya yang harus mencarinya sendiri. Awalnya bingung terlebih dengan background pendidikan dan pengalaman yang tidak ada hubungannya dengan dunia tulis menulis profesional atau jurnalistik jadi  saya tidak memiliki jaringan atau apapun istilah untuk mendapatkan narasumber profesional di bidang tertentu. Atas ide suami – klo bingung gak ada ide  -  saya mencari narsum (yang kebetulan saat itu saya butuh dokter spesialis) di rsia tempat saya dan anak-anak biasa memeriksakan kesehatan, letaknya tidak jauh dari rumah. Dan bisa! Jadilah setiap butuh narsum dokter spesialis berbeda, saya mencari terlebih dahulu dokter yang praktik di rs ini. Para dokter ini umumnya enak diajak kerjasama dan komunikatif.





Tapi tugas mencari narsum minggu lalu membuat saya harus beranjak dari rs biasa saya mendapatkan narsum. Ternyata tidak ada dokter SpOG subspesialis maternal  yang praktik di Bogor. Sebenarnya saya punya satu kenalan dokter SpOG sub spesialis maternal, dokter yang pernah ditunjuk AB untuk saya di tulisan ini. Tapi dengan pertimbangan mencari pengalaman dan ingin mendapatkan kenalan dokter baru, saya pun mencarinya dengan cara menelpon rs yang ada di Jakarta. 


Rumah sakit umumnya bersedia dokter yang praktik di tempatnya di jadikan narsum, dengan syarat nama rumah sakit di cantumkan, agar menguntungkan kedua belah pihak, istilahnya. Untuk resminya mereka meminta surat resmi permintaan dari saya agar pihak rs merekomendasikan salah satu dokter spesialis yang saya maksud.


Surat dibuat dan di faks dan saya menunggu konfirmasi dari rs. Beberapa hari kemudian, setelah saya telp dan sms menanyakan, pihak rs memberi nama dokter beserta no tlpnya yang bisa saya hubungi.


“Mba, jangan lupa kami minta bukti terbitnya ya,” pesan marketing rs.


Oh ya suratnya hanya berisi bernyataan bahwa saya akan menulis artikel dengan thema A untuk majalah B dan rencana dimuat edisi C dan meminta pihak rs merekomendasikan dokter spesialis yang saya maksud. Jangan lupa tinggalkan no tlp kita dan tanyakan kontak person rs untuk konfirmasi atau kabar disetujui atau tidaknya surat permintaan kita.


Oh ya biasanya pihak marketing rs akan menanyakan apakah ada honor untuk narsum. Hal ini untuk disampaikan pihak rs pada dokter yang ditunjuk.

3 komentar:

  1. Bermanfaat, terimakasih sharingnya Mbak Rina

    BalasHapus
  2. Honor yg bayar siapa? Pake bayar registrasi dan konsul spt pasien umumnya gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang bayar ab mba....gak pake registrasi karena pake surat resmi...

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...