Sabtu, 21 Januari 2012

Eksotis , Mistis dan Mitos


Pilihan untuk berlibur di daerah pantai, sesuai request Azka, karena  nonton Dora n Diego (film kartun fav Azka) selalu merengek minta ke ocean. “Ocean tuch apa sich?” tanya saya suatu hari. “Itu kayak di film dora.” Kami memilih Pelabuhan Ratu karena jaraknya dekat dari Bogor jadi bisa mumer dan gak kelelahan di jalan. Kebetulan pula saya belum pernah ke sini. 

Nah kalau biasanya daerah pantai panas maka si pelabuhan ratu ini sebaliknya, adem. Di sepanjang pantainya juga banyak pohon besar nan rindang. Tapi yang pasti pantai ini eksotis. Walaupun saya belum tahu definisi dan batas yang disebut sesuatu eksotis. Sebagai perbandingannya, kebetulan saya pernah ke Bunaken dan beberapa pantai di bali (alhamdulillah, kalau bukan karena event dari kantor, belum sempat ada bayangan buat ke tempat2 ini). Dan baru ngeh juga kalau setiap pantai memiliki karakter yang berbeda. Pelabuhan Ratu dengan ombak yang tidak pernah berhenti menghempas pantai, makin sore makin besar dan puncaknya di pagi hari, saat yang tepat untuk surfing.

Mungkin keeksotismean ini  yang  kemudian pantai laut selatan ini dihubungkan dengan seorang ratu yang menguasainya, yaitu Nyi Roro Kidul. Kalau klik di om google seputar mitos pantai laut selatan ini, akan muncul beragam versi.

Saya jadi teringat versi yang ditulis Pramoedya Ananta Toer (PAT) dalam salah satu buku Tetralogi Bumi Manusia;
"Tetapi Eropa kolonial tidak berhenti sampai disitu. 
Setelah Pribumi jatuh dalam kehinaan dan tak mampu lagi membela 
dirinya sendiri, 
dilemparkannya hinaan yang sebodoh-bodohnya. 
Mereka mengetawakan penguasa-penguasa pribumi di Jawa yang 
menggunakan tahayul 
untuk menguasai rakyatnya sendiri, dan dengan demikian 
tak mengeluarkan biaya untuk menyewa tenaga-tenaga 
kepolisian untuk mempertahankan kepentingannya. 
Nyai Roro Kidul adalah kreasi Jawa yang gemilang untuk 
mempertahankan kepentingan 
Raja-Raja Pribumi Jawa."
 
Atau di petikan pidato tertulis PAT saat menerima penghargaan Magsasay: 

Salah satu contoh bagaimana pujangga Jawa memitoskan kekalahan 
Sultan Agung, raja pedalaman Jawa, 
yang dalam operasi militer terhadap Batavia-nya Belanda 
pada dekade kedua abad 17 telah mengalami
 kekalahan total. Akibatnya Mataram kehilangan kekuasaannya atas 
Laut Jawa sebagai jalan laut internasional.
Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa 
menciptakan Dewi Laut Nyai Roro Kidul sebagai selimut, 
 bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). 
Mytos ini melahirkan anak-anak mytos yang lain: 
bahwa setiap raja Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut. 
Anak mytos lain: ditabukan berpakaian hijau di pantai Laut Selatan. 
Ini untuk memutuskan asosiasi orang pada pakaian hijau Kompeni Belanda. 
Dan tanpa disengaja oleh pujangganya sendiri 
Sang Dewi telah mengukuhkan kekuasaan para raja Mataram atas rakyatnya. 
Bahkan menjadi polisi batin rakyat Mataram.



Logika Mitos yang masuk akal bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...