Tujuh kemampuan manajemen diri yang harus dimiliki anak remaja

Tujuh kemampuan manajemen diri yang harus dimiliki anak remaja

Bulan lalu saya mengikuti Talk show yang sangat menarik dengan narasumber Ms. Irene Phiter seorang Parent Coach, master trainer dari BrainFit Indonesia, Strengths Coach – Gallup, Results-Based-Coach – Neuroleadership. Talk show ini diselenggarakan di Aurum Meeting Room 2 nd Floor, Hotel Pullman Jakarta oleh UIC College Jakarta dan UTS College Sydney, dengan tema 7 Essential SELF-Management Skills to prepare Your Child Before Studying Overseas. Liputannya sudah saya tulis di sini.

Di postingan ini saya hanya akan menuliskan 7 kemampuan managemen diri yang harus dimiliki anak remaja yang bisa dilatih orang tua di rumah agar kelak anak tidak hanya mandiri tapi mampu mengelola emosinya dengan baik.

7 Essential SELF-Management Skills to prepare Your Child

A teen’s brain a work in progress

Berdasarkan penelitian, pada usia ini kemampuan berpikir si remaja di dominasi emosi, kebanyakan keputusan diambil berdasarkan pertimbangan emosional, suka tidak suka, yang banyak disukai atau sedang trend. Belum terlalu memikirkan sebab akibatnya.

Sebagai Mama yang memiliki anak remaja (usia 15 tahun) saya bisa melihat ini pada anak gadis saya. Antusias pada banyak hal, semangat mengerjakan ini itu apalagi bareng teman, tapi kemampuan untuk merencanakan sesuatu masih belum bisa, masih berdasarkan spontanitas sehingga sering kebingungan, ‘aku ngerjain apa dulu ya’? atau merasa  ‘aku tidak ada waktu’. 

Berikut 7 kemampuan manajemen diri yang harus dimiliki remaja;

Train dan coach problem solving skills. Mengajari anak kemampuan memecahkan masalah. Untuk mendapatkan kemampuan ini, si remaja bisa diilatih di rumah dengan meminta menyelesaikan masalah keseharian, misal saat mencari atau meminta sesuatu, berikan alternatif pilihan.  Jangan membiarkan kita, orangtua cepat mengambil keputusan dengan mengatakan, ya udah itu aja, ini saja, beli saja dsb. Biarkan anak belajar membuat keputusan. Terlihat sepele ya tapi berpengaruh banget lho. Saat  anak berkata, terserah Mama, terserah Papa, artinya mereka tidak berani memutuskan.

A lack of problem solving skiils has been linked to mental health problems, such as depression  and suicidality   Amy Morin , Prof Psychotherapist and psychology at Northeastern University

5 langkah melatih problem solving skills pada anak remaja;

Define, definiskan  masalah

Brainstorm, berikan pilihan-beberapa alternatif

Pick, pilih salah satu setelah dipertimbangkan, pinjam jika pilih membeli solusi terlalu mudah dan anak tidak belajar fight.

Implement, lakukan, pinjam adik.

Review, nilai hasil keputusan, baikkah atau perlu perbaikan. hemat dan efisien.

Contoh kasus, Misal saat anak di rumah mencari kaos kaki dan tidak ketemu, orang tua jangan cepat memutuskan beli baru tapi beri alternative pada anak untuk menyelesaikan masalah dengan alternative lain (membeli alternative terakhir), misal meminjam punya adik.

Practice making choices – the right choices

Memilih antara yang baik dan buruk, pasti mudah, tapi jika dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama baik dan harus memilih salah satu?
Misal saat memilih makanan sehat, sayur atau salad buah?

Terapkan ini dalam kehidupan keseharian anak remaja, saat dia bingung membuat keputusan, misal anak saya pernah bingung mau pilih ekskul antara nari sama atletik, sama-sama dia sukai, tapi tidak bisa ambil dua-duanya karena waktunya bersamaan. Dengan pertimbangannya sendiri dia memilih atletic, kalau saya inginnya dia ikut nari hehehe.

Keputusan kecil yang rasanya bisa kita ambil alih keputusannya tapi berdampak tidak baik bagi perkembangannya. Jadi tahan diri untuk mengambil alih keputusan, biarkan si anak memilih, orang tua cukup menanyakan alasan kenapa pilihannya itu. Jika tidak membawa dampak negatif, melanggar norma sosial dan agama, biarkan anak dengan keputusannya.

It’s always as simple right or wrong choice. The hardest part is to choose between right and right choices.

Practice planing ahead and organizing. Melatih remaja untuk membuat rencana dan mengorganisir. Anak remaja yang didominasi emosi cenderung belum mampu membuat rencana, lebih suka hal yang sifatnya spontan. Hari ini ya hari ini, besok bagaimana besok.

Mulai latih si remaja membuat rencana, misal rencana kegiatan besok hari selain sekolah apa yang akan dikerjakan di rumah.  Ini bisa dilakukan dengan memberi anak buku agenda dan diminta mencatat rencana kegiatannya jangka panjang atau pendeknya di sana.

Planing requires the ability to think about the future or anticipate possibilities and the right ways to reach specific goals.

Healthy Coping Skills, melatih anak mengatasi kesehatan mentalnya. Perasaan marah, frustasi, takut,  merasa sendiri dan kecewa adalah manusiawi. Setiap orang pernah merasakan perasaan itu. Biarkan anak mengenalinya tapi latih untuk mengatasinya. Cari penyebab perasaan itu muncul, cari solusinya. Jika tak sanggup sendiri, sarankan anak meminta bantuan tapi pada orang tepat.

College student don’t know how to deal wih anger, frustration, loneliness, fear or disappointment. Teen who lack healthy coping skills may turn to food, drugs, alcohol to deal with the discomfort.  

Develop self-love and practise concrete habits of self-love

Melatih anak mencintai dirinya sendiri. Merasa dirinya dicintai dan layak dicintai. Membuat anak merasa dirinya berharga.

Self-confidence, percaya diri, menerima kelebihan dan kekurangannya hingga bisa tampil percaya diri di manapun.

Self-care,  memiliki rasa kepedulian pada dirinya sendiri, kebersihan, kesehatan dan kebutuhan dirinya.

Self-control, memiliki kontrol diri yang baik sehingga tidak mudah terbawa/terhasut oleh teman-temannya. Dia sudah bisa menentukan sikap, ya atau tidak saat diajak temannya.

Self-compassion, menyayangi dirinya sendiri.

Bagaimana melatih self-love ini? Hargai setiap kemajuan anak, beri pujian yang sesuai, tidak berlebihan, berikan kasih sayang, dengarkan keluhan atau obrolannya.

Encourage taking actions and executing plans

Mendorong anak mengambil tindakan dan mengerjakan rencana tidak sekedar tahu. Jadi saat anak berencana ingin ini itu, yang berkaitan dengan hal yang diasukai atau minati, dorong untuk mewujudkannya, jangan hanya diangan-angan atau sekedar tahu dan ingin.

Train and model growth mindset

Membentuk mindset yang terus tumbuh, dengan cara;

Building the habit of doing experiment and try out new things, beri kesempatan pada anak untuk berekplorasi sesuai keingian dan minatnya.

Building the habit of learning from mistakes, toleransi saat melakukan kesalahan selama kesalahannya bukan hal fatal. Biarkan anak belajar dari kesalahannya.

Building the habit of listening and asking for feedback and input from others. Ini dilakukan dengan cara orangtua memberi contoh dengan cara mendengarkan masukan anak.

Building the habit of mindset and behaviour sefl-monitoring, memberi anak waktu merenung dan menilai keputusan yang sudah diambilnya.  

Tidak ada komentar