Sabtu, 23 Maret 2019

Jalan - jalan, Belanja dan Kuliner di Pasar Ikan Modern Muara Baru Jakarta Utara

Minggu lalu tepatnya tanggal 17 Maret, kami mengunjungi Pasar Ikan Modern Muara Baru Jakarta Utara.  Setelah paginya kami mengunjungi Perpustakaan Nasional yang bikin betah. Yang pengen tahu seberapa kerennya Pusnas kita yuk intip di sini.

Teringat liputan  tentang pasar ikan modern yang pernah saya tonton sekilas, saya menyarankan untuk ke sana sekalian makan malam. Setelah sempat nyasar dan muter – muter kurang lebih satu jam di muara angke akhirnya kami sampai di muara baru yang ternyata letaknya agak jauh dari muara angke.  Kami kira muara baru terletak di muara angke *buta Jakarta*.

Liputan versi vlognya







Meniru Konsep Pasar Ikan di Jepang


Suasana Pasar Ikan Modern pada malam
Hari

Pasar Ikan Modern Muara Baru terinspirasi dari Pasar Ikan Modern, Tsukiji Fish Market Jepang. Bersih, aman, nyaman dan teratur, dari dok loading barang, uploading barang, pengolahan limbah stereo form, mesjidnya bersih dan rapih, sentra food court di roof top.

Pasar Ikan Modern Muara Baru ini  merupakan relokalisasi dari pasar ikan tradisional muara baru yang letaknya tak jauh dari pasar ini.

Gedung terdiri dari dua lantai, lantai satu adalah lapak basah, dimana dijual ikan – ikan segar, lantai dua area lapak kering, dan food court. 


Lantai bawah 


Samping pasar, area loading dan uploading

Lapak – lapak di lantai dua, belakang deretan food court,  saat saya ke sana masih tertutup dan sepi, belum ada aktivitas.

Baru diresmikan Presiden
Pasar Ikan Modern Muara Baru ini baru diresmikan Presiden Joko Widodo tanggal 14 Maret 2019 lalu. Jadi masih fresh banget ya.

Kalau ada yang bilang wajarlah rapih dan bersih karena baru, mungkin iya. Tapi tentu kita semua berharap Pasar Ikan Modern ini akan tetap bersih, aman dan nyaman terus seperti pasar ikan modern di Jepang, sehingga penjualan pedagang meningkat karena masyarakat umum makin banyak yang ingin belanja atau menikmati kuliner seafood di sini.

Berbincang dengan salah satu pedagang
Secara tidak sengaja kami sempat semeja dengan pak Hendra salah satu pedagang di sini, tepatnya pedagang udang. Pak Hendra menjual udang dengan beragam ukuran. Umumnya pedagang ikan di sini terspesifikasi, pedagang udang hanya menjual udang dengan beragam ukuran dan jenis. Pedagang kerang menjual beragam kerang. Ada yang khusus menjual kepala ikan kakap, ada yang khusus menjual ikan air tawar dan seterusnya.

Jumlah lapak di pasar ini kurang lebih dari 800 an, disusun perblok dari A sampai R. Pak Hendra merasa senang berjualan di sini daripada tempat lama karena bersih dan nyaman.

“Pengunjung selalu ramai seperti ini atau hanya sabtu minggu ramainya?”
tanya saya. Area food court saat itu memang ramai dan penuh. Dari pengamatan saya terlihat kebanyakan pengunjung adalah keluarga, seperti kami.

“Tiap hari ramai kalau sabtu minggu lebih ramai.”
Pak Hendra mengklaim kalau harga ikan – ikan di sini lebih murah dari pasar ikan lain di Jakarta, bedanya bisa seribu sampai dua ribu perkilo.

Oh ya ada kekhasan yang menarik perhatian saya setiap kali melihat penjual ikan di sekitar Jakarta baik pasar tradisional maupun di sini yaitu perempuan - perempuan madura dengan gaya khasnya, kain selutut yang dipadu celana panjang. 

Tips, jangan salah tempat parkir atau kejebak pulang malam…
Buat teman – teman yang akan ke sana pastikan parkirnya tepat di depan gedungnya ya, jangan di samping karena walaupun parkiran di sebelah sini sepi dan luas, itu khusus untuk loading barang, setelah magrib, parkiran ini akan penuh dengan deretan ember berisi ikan yang siap diangkut ke pasar – pasar tradisional di sekitar Jabotebek dan luar kota. Truk – truk cukup besar pun akan keluar masuk ke area ini.

Karena kami tidak tahu dan tidak ada yang memberi tahu, kami parkir di area ini karena parkiran depan sudah padat. Kami sampai ke sini jam 5 sore. Begitu pulang ember -  ember berisi ikan berderet di depan kendaraan kami.

Sholat magrib dulu
Kami sampai di sini pukul 5, walaupun katanya transaksi sudah sudah loading barang sudah mulai pukul 14.00 tapi suasana pasar masih sepi. Akhirnya kami keliling sampai waktu magrib tiba.

Ini dia penampakan mesjidnya, bersih, nyaman full AC. Mesjid dipenuhi jamaah yang tak lain pengunjung dan pedagang ikan.

Kuliner di Pasar Ikan Modern Muara Baru


Food court di roof top

Setelah sholat magrib kami memutuskan makan dulu di food courtnya yang terletak di roof top. Kios di food court ini belum terisi penuh, sedangkan pengunjung banyak tak heran antrian makannya cukup lama.

Jadilah sambil menunggu pesanan sea food datang (lebih dari satu jam kami menunggu) kami ‘ngemil’ sup Madura dulu. Ya di food court ini  ada satu kios yang menjual sate dan sup kambing Madura, pembelinya kebanyakan para penjual ikan, karena mereka sudah bosan makan ikan kali ya heheheh.


Pengunjung mulai berkurang 

Saya memesan 2 ikan bawal bakar dan  satu porsi cumi goreng tepung. Pengennya nambah cah kangkung dan kepiting tapi  berhubung antrinya bukan hanya lama tapi kami yang memesan harus nungguin di samping juru masaknya untuk memastikan pesanannya dimasak sesuai antrian. Drama banget pokoknya.


Setelah mengantri cukup lama 

Selain karena kios food court belum terisi penuh, para pedagang juga sepertinya tidak siap dengan ramainya pengunjung jadi mereka gugup, pegawainya kurang, stok ikan yang disediakan terbatas, malah sampai ada drama kehabisan nasi hahaha.

Belanja – belanji
Sekitar jam 8 malam kami belanja – belanji, area pasar basah sudah  hiruk pikuk pembeli eceran seperti  kami dan pedagang ikan dari pasar – pasar yang ada di sekitaran jabotabek dan luar jabodetabek.

Hiruk pikuk pasar 

Lagi ngobrol apa nih kaka sama adik

Dari obrolan dengan Pak Hendra tadi kami jadi tahu jika di sini pembelian untuk eceran minimal 1 kg. Kami membeli udang di blok L tempat pak Hhendra jualan seharga 65 ribu, lalu membeli kerang hijau dan kerang tahu masing – masing 1 kg dan sotong.

Banyak amat Rin? Sekalian buat oleh – oleh tetangga, tinggal di kampung yang masih dikelilingi kebun dan empang, kami sering kebagian hasil panen tetangga, sekarang giliran kami ngasih oleh – oleh hehehhe.

Anak – anak happy banget diajak ke sini dan pengen lagi katanya. Wah saya juga pengen lagi ke sini, mau menjajal kulinernya lagi, belum nyobain kepiting.

Semoga next time bisa ke sini lagi.










1 komentar:

  1. Ada 800 lapak berarti besar juga ya mba tempatnya, saya bisa kalap itu lihat ikan segar banyak :D saya termasuk penggemar ikan soalnya

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...