Minggu, 22 Juli 2018

Mengenali Kecerdasan Anak dengan Bahagia

Menemukan Kecerdasan si Kecil

“Konsentrasi donk!” saya mulai tak sabar saat melihatnya mengulang menghitung jari sambil komat – kamit.  “Masa lupa. Tadi disoal nomor tiga kan ada hitungan tiga kali delapan.”
Wajahnya tambah berkerut dengan bibir macun, dan mulai menghitung lagi.
Saya mulai greget. Menghela nafas menahan kesal.
“Makanya dihapal, diingat – ingat, jadi tidak perlu menghitung ulang.”
“Tapi aku ga mau menghapal perkalian.”

“Kalau dihapalkan jadi gampang ga perlu ngitung pake jari.” Suasana belajar mulai menegang. Dia keukeuh tidak mau berusaha mengingat perkalian, saya menuntut sebaliknya. Tapi itu dulu, kini saya mulai santai. Mendampinginya belajar matematika tanpa paksaan dan tekanan, yang penting dasarnya paham, berusaha menahan emosi jika harus mengulang – ulang menerangkan hal sama agar dia paham. Sampai kini nilai matematikanya tidak pernah merah di raport, paling kecil nilainya enam saat ulangan.  Tapi itulah usaha maksimalnya.


Kemungkinan  si kecil saya memang tidak bakat matematika, kecerdasan yang dominan dimilikinya bukan logika matematika, begitulah kesimpulan saya saat teringat buku mengenai kecerdasan majemuk Howard Gardener  (cerdas logika matematik, cerdas kinestetik, cerdas intrapersol, cerdas interpersonal dsb) yang baca saat anak – anak masih balita. Buku yang jadi petunjuk untuk menstimulasi anak – anak. Saat itu saya memang sedang semangat – semangatnya membaca banyak buku pengasuhan. Saya pun jadi teringat seorang anak harus tumbuh bahagia dan sehat agar kecerdasannya berkembang.

Bagaimana mau bahagia kalau dibuntuti soal matematika melulu yang jelas dia tidak suka dan kurang mampu. *duh beneran feeling quilty*

Sejak menyadari itu saya mulai mengamati dan mengingat – ngingat kejadian yang menjadi petunjuk menemukan kecerdasan dominan yang dimiliki si kecil.

Saya ingat,  saat usianya 4 tahun, dia ingin bisa berenang (bukan sekedar main air tapi berenang seperti Ayahnya). Dengan ragu kami mengeleskannya berenang diusia  yang belum genap 5 tahun dan kami terkejut karena dia bisa mengikutinya dengan cepat. Di kelompok les renangnya dia yang paling muda tapi kemampuannya sama dengan anak- anak yang usianya 3 bahkan 4 tahun diatasnya.  
Lebih suka bergerak daripada duduk manis dan tertarik dengan kegiatan yang berhubungan dengan gerak seperti ice skating, bersepeda dan olah raga bela diri.

Dia memang tidak pandai matematika tapi tangannya luwes menggambar dan meniru gambar.

Kedua anak kami, di cecoki buku sejak bayi, rutin dibacakan buku, buku baru selalu dibeli secara periodik dengan beragam jenis dan tipe buku, dari mulai buku model pop  up, flip the plop, buku yang mengeluarkan bunyi dsb.

Tapi antusiasme terhadap buku tidak sebesar adiknya, enggan membaca buku tanpa gambar. Suatu kali pernah saya paksa baca satu halaman pertama Lima Sekawan, buku yang membuat saya kecanduan saat seusianya. Dan dia memberikan komentar yang membuat saya terkejut,”Aku ga suka bukunya, ga ngerti.”

Tapi dia membuat saya terkagum –kagum karena bisa  sayang dan peduli pada hewan peliharaannya. Dia tidak segan - segan memakai uang jajannya untuk membeli makanan kucing. Pernah marah dan sedih sepanjang hari karena kami terpaksa menolak menambah kucing peliharaan (jika menemukan anak kucing dia suka membawa pulang) karena dia sudah memiliki 4 kucing dan satu kucing tengah hamil. 

Satu hal lagi, si kecil hobi menonton (tapi kami batasi), sejak kecil dia tahan menonton film panjang seperti Frozen, Brave dan film sejenis lainnya dan paham jalan ceritanya padahal waktu itu dia belum bisa membaca teks terjemahannya. Saya berkesimpulan gaya belajarnya audio – visual. Jadi tak heran dia tidak betah membaca dengan teks – teks panjang.

Suka dan sayang hewan peliharaan

Saat kelas satu sekolah dasar (kini kelas 5) saya pernah mengikutsertakan si kecil  dalam pesantren kilat liburan sekolah di Bandung (kami tinggal di Kab. Bogor), dan dia mengikutinya tanpa drama, malah sepulang pesantren bilang,”Tahun depan aku mau lagi ya Ma pesantren kilat di Bandung.”

Saat seusianya saya masih ketakutan tidur jauh dari Ibu, menginap di rumah nenek pun tidak berani kalau tanpa ibu.

Jika dipikir ulang, selama ini saya mengukur pencapaiannya dengan patokan saya saat seusianya, padahal tentu saja itu salah karena dia bukan saya walaupun lahir dari rahim saya.
Akhirnya saya mulai fokus mengasah kelebihannya alih – alih bersitegang tentang perkalian, tentang baca buku dsb.

Saya membuat semacam  catatan di notes tentang anak – anak, dari hobi, kemampuan, minat, kebiasaan sampai khayalan mereka. 

Misal catatan kecil untuk si sulung, yang menurut pengamatan saya cerdas kinestetik dan interpersonal. 

Hobi ; Berenang
Kemampuan ; menggambar, piano, drum, membuat DIY
(saya membedakan kemampuan dan hobi, dengan melihat hobi dilakukan dengan suka cinta tanpa lelah dan bosan, kalau kemampuan biasanya dilakukan angina – anginan, kalau lagi mau dan itupun tidak lama)

Karakter positif ; luwes, berani, mandiri, berkeinginan kuat, senang bersahabat dan setia kawan.


Aktif dikegiatan sekolah
Stimulasi ; Rutin menulis diary untuk belajar mengungkapkan perasaannya tanpa meledak – ledak. Tetap mendorongnya membaca buku tapi bukunya disesuaikan dengan kesukaannya, kalau fiksi dia sukanya yang bergambar.  Karena dia kurang tertarik membaca buku pelajaran sekolah, saya melengkapinya dengan ensiklopedi dan buku ilmu pengetahuan popular yang umumnya bergambar menarik dan berwarna, dan ini cukup berhasil. Dia sangat senang membaca seri Buku National Geography Kids yang tebal – tebal dibanding buku teks ilmu pengetahuan alam.

Secara berkala mengajaknya ke museum dan tempat wisata alam yang berbeda.

Setelah belajar memetakan bakat dan minat anak – anak saya semakin paham dan yakin bahwa tidak ada anak tidak cerdas. Orangtualah yang dituntut membantu mereka menemukan kecerdasan itu.  

Yang saya rasakan dengan belajar memetakan bakat anak – anak berdasarkan kecerdasan yang saya lihat pada mereka; tahu kemampuan anak sehingga tidak memaksakan kehendak/cita – cita pribadi. Misal, siapa sih yang ga ingin punya anak dokter, tapi semua dikembalikan pada anak. Apapun cita – citanya yang harus didorong adalah memahami bahwa kelak mereka harus berguna bagi sesama, memberi manfaat.  

Legowo saat anak mengungkapkan keinginan yang tidak sesuai keinginan kita, selama tidak menyalahi aturan agama dan norma.

Yang pasti saya masih belajar dan berproses mendorong anak – anak menemukan takdir terbaiknya.

Cerebrofort Dukung Cerdasnya si Kecil
Oh ya bicara kecerdasan anak – anak, tentu harus dibarengi nutrisi dan vitamin yang tepat. Saya memilih cerebrofort yang membantu tumbuh kembang otak si kecil karena terbuat dari ikan tuna yang mengandung DHA & EPA.

Cerebrofort tersedia dalam kemasan gummy  seperti permen kenyal yang pastinya disukai anak-anak.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...