Aktivitas Tanpa Batas dengan IndiHome

Aktivitas  tanpa batas dengan IndiHome


Ada kalanya semesta mengabulkan keinginan atau impian dengan cara tak terduga, dalam waktu tak disangka-sangka, dan dalam bentuk berbeda, saat mimpi-mimpi itu sudah terlupakan, karena gagal  dan diganti impian lain. Kadang keinginan yang terbersit dan tidak berharap terwujud, tiba-tiba terwujud. Yap, jalan hidup kadang tak terduga.

Waktu kecil bercita-cita jadi  jurnalis karena senang membaca dan menulis, seru aja kayaknya kerja di televisi atau media massa walaupun di belakang layar, tapi karena satu dua hal, kuliah  masuk jurusan Kimia murni, setelah lulus kerja di industri yang ga jauh-jauh dari kimia. Waktu luang digunakan untuk ngeblog, tak disangka jadi jalan merasai jadi ‘jurnalis ala-ala’. Tahun 2010  sampai 2015 jadi kontribuor lepas majalah AyahBunda (edisi cetak) grup Femina, dari ngeblog dapat undangan liputan peluncuran produk atau campaign (sebelum pandemi).

Waktu masih kerja kantoran impiannya pengen punya wirausaha walaupun ga kebayang mau usaha apa dan bagaimana terlebih saya termasuk orang introvert, kurang supel, canggungan dsb. Gimana mau promosiin jualan? Tak disangka, kini saya memiliki usaha tanaman hias yang dirintis sejak tahun 2017.

Boleh baca Ngobrolin usaha tanaman hias dan tanaman yang lagi hits. 

Internet memudahkan beraktivitas dari rumah

Kalau direnungi impian itu tidak terwujud dengan sekonyong-konyong, ada usaha dan doa yang diwujudkan semesta dalam waktu dan cara tak terduga, ditambah dengan keberadaan internet. Semua pekerjaan dilakukan dari rumah, menjadi penulis (lepas) di sebuah majalah,  hanya mengirimkan tulisan melalui email, sesekali bertemu narasumber untuk wawancara. Menulis diblog (sudah lebih dari 10 tahun ngeblog) yang tentunya dilakukan dari rumah.    Berjualan tanaman via online di media sosial dan market place, tanpa perlu menawarkan ke teman secara langsung yang kadang tanggapannya menurunkan mental 😅.

Contoh;

”Jualan tanaman hias? Memang ada yang beli?”

“Ih mending nanam tomat, cabe sama sayuran bisa dimakan.”

“Beli tanaman? Mending buat bayar spp sekolah. Tanaman bisa buat bayar spp?”

Hadeuh, belum apa-apa mental udah down. (Lha jadi curcol).


kerja di rumah 


Atau,”Sibuk amat sih Rin, cari uang, udah jualan, ngeblog, ngonten, memang uang belanja dari suami kurang?” Atau,”Kalau bisa ngatur dan bersyukur, uang belanja dari suami berapapun cukup kok.”

Boleh baca Jadi Penulis lepas 

Banyak diam atau tiduran itu capek, jadi kan mending sibuk. Apalagi sibuknya dapat cuan. Saya percaya perempuan berdaya bisa lebih tangguh menghadapi jalan hidup yang kadang tak terduga.

Memang berapa sih penghasilan dari blog? Jumlah rupiah sebanding dengan kerja keras, karena sifatnya freelancer besarnya fluktuatif dan pastinya berbeda untuk tiap orang. Saya mah belum jadi selebblog jadi penghasilannya ga wah tapi cukup membuat hati senang ☺.

Aktivitas tanpa batas lain karena kehadiran internet, banyak pekerjaan rumah bisa dilakukan lebih singat, seperti belanja bisa via online, bahkan jika tak sempat masak, tinggal order via hp. 

Memanfaatkan Platform Digital untuk menjual Karya

Oh ya bukan hanya blog, media sosial dan market place lokal lho yang bisa kita manfaatkan untuk menjual karya dan menghasilkan pekerjaan.

Dari pengalaman suami yang selama WHF mengusir keresahan (bagaimana ga resah  tiga bulan  pertama pandemi perusahan tempatnya mengalami kerugian cukup besar sementara pandemi tidak bisa diprediksi kapan berakhir) dan kejenuhannya, dia membuat musik (instrument) karena memang hobinya bermusik (sempat bercita-cita jadi musikus pengen kuliah di musik tapi tidak direstui keluarganya akhirnya kuliah bahasa Jepang). Coba upload di Spotify tak disangka 3 bulan berikutnya mendapat pendapata sekian ratus dollar, Alhamdulillah sudah cair.

Tahun pertama pandemi saya mengusir kejenuhan di rumah saja dengan lebih intens belajar food photography, beberapa foto di upload Shutterstock, Alhamdulillah ada foto yang terjual, jumlah rupiah belum seberapa tapi jadi termotivasi untuk lebih serius. Jadi ingat nasehat ibu saya,”Nanaon gem un dileukeunan, pasti aya hasilna.”

Tiga platform digital yang sudah kami manfaatkan 


Saya merasa selama anak-anak belajar online (karena pandemi) kurang efektif, terasa banyak waktu luang yang melenakan anak-anak terlebih karena kini mereka memiliki handphone dan kuota. Si Kakak diberi  handphone (bekas Papanya) saat SMP, kini adiknya kelas 4 mau tidak mau diberi handphone karena PJJ. Ternyata ini membuat habit mereka berubah, terutama si adik, kalau tidak dicereweti dan diberi pengertian berulang, bisa lama main games di handphone. Si Kakak sebaliknya, memiliki handphone saat usianya beranjak remaja, sudah paham aturan dan kebiasaan baik buruk, dia bisa lebih bijak menggunakannya dan tidak suka berlama-lama main game, karena katanya bikin puyeng. 

Si Kaka lebih suka menggambar di komputer, betah berjam-jam. Karyanya coba kami pajang di DeviantArt tapi belum ada yang laku,  setidaknya ini memberinya harapan dan pemahaman jika apa yang dilakukannya bisa bermanfaat.  Dari sini juga kami mengenalkan si sulung bagaimana memanfaatkan teknologi dunia digital sebaik mungkin.  

Masih banyak platform digital lain yang bisa teman-teman jajaki untuk mencari celah ‘pekerjaan’ di sana dan disesuaikan dengan kemampuan teman-teman. 

Mendapat penghasilan  dari platform digital, bagaimana caranya?

Punya kouta setiap hari, tiap hari scroll media sosial, pengen memanfaatkan jadi penghasilan, bagaimana caranya? Saya coba share dari pengalaman pribadi.

Dimulai dari hal yang kita sukai, minati dan pahami

Saya memulainya dari hobi. Hobi corat-coret diblog, suka memfoto, suka berkebun tanaman hias. Memulai dengan sesuatu yang kita suka dan pahami saat menemui kendala bisa survive menghadapi dan mencaari solusi karena didasari rasa sukai.

Itu pula yang saya rasakan, tuntutan menjadi blogger saat ini dibandingkan 5 atau 10 tahun lalu berbeda jauh. Dulu hanya menulis kini dituntutan membuat konten di media sosial sebagai pelengkap, paham aplikasi ini itu yang mendukung konten. Ini kalau mau blog jadi menghasilkan ya, jika sekedar menulis tentu tuntutan ini tidak ada.

Konsisten dan berinvestasi dengan ilmu

Jika sudah memilih satu jalur, mulai konsisten. Konsisten membuat konten, berimprovisasi dengan karya. Dan berani berinvestasi dengan ilmu artinya tambah skill dengan mengikuti workshop, membeli buku, menonton tutorial di Youtube dsb, agar kemampan bertambah, terasah dan bisa beradaptasi dengan perkembangan.

Awal-awal ngeblog (tahun 2009-2012) saya rajin ikut workshop menulis dari menulis nonfiksi sampai fiksi, yang gratis ataupun bayar dijabanin. Baik  workshop yang diadakan sebuah majalah, penulis terkenal atau komunitas.    Saat suka food photography saya sempatkan ikut workshop selain belajar dari youtube dan pinterest.

Tentukan  target yang ingin dicapai dan buat rencana untuk mencapainya

Apa sih target yang ingin dicapai? Uang? Uang bukan segalanya tapi banyak hal butuh uang 😀. Tapi eh tapi tapi berdasarkan pengalaman, mari turunkan dulu ekspektasi tentang uang karena kalau ngejar uang tanpa dibarengi rasa happy saat mengerjakannya, stress.  Lakukan pekerjaan dengan senang hati, buat karya dengan kualitas maksimal, insyallah uang ngikutin.

Membuat rencana, memarketkan karya atau konten bisa melalui media sosial atau platform digital lain. Lakukan secara konsisten.

Bergabung dengan komunitas, aktif di media sosial dan proaktif mengambil peluang

Keuntungan yang saya rasakan bergabung dengan komunitas, selain memperluas jaringan juga mendapat banyak insight. Mendapat info pekerjaan dan campaign yang ditawarkan. Komunitas juga jadi tempat bertanya  saat menghadapi kendala dan berbagi informasi .

Peluang yang datang tidak selalu tepat disodorkan depan mata, kadang harus proaktif mengambil peluang dengan mengikuti kompetisi. Dan peluang tidak selalu dalam bentuk materi, bertemu teman baru atau circle baru juga sebuah peluang.

Pahami literasi digital agar karya/konten tidak merugikan diri sendiri dan orang lain

Hari senin lalu saya mengikuti webinar  yang diadakan Telkom Jabar   bertema Tulisan is Magic dengan narasumber Mira Sahid, founder Emak-emak Blogger, komunitas Blogger yang sudah malang melintang di dunia perbloggeran sejak  tahun 2012  , Mak Mira juga seorang Pegiat Literasi Digital.



Yang di sharing mak Mira tidak hanya tentang bagaimanan sebuah tulisan bisa merubah banyak hal, tentu tidak hanya terkait dengan materi. Ada empat point penting terkait   fungsi blog menurut mak Mira yaitu; Pertama, sebagai media informasi, edukasi dan profesi. Kedua, kolaborasi blog dan komunitas di industry kreatif mendatangkan peluang. Ketiga, blog sebagai personal branding dan keempat menjadikan blog sebagai media untuk melawan hoaks

Bahasan  menarik lain di webinar ini adalah mengenai litarasi digital. Penting untuk pegiat internet dan dunia digital tahu dan paham literasi digital.

Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, serta alat komunikasi dan jaringan internet. Cakap menggunakannya secara bijak, cerdas, cermat dan tepat sesuai kegunaannya.

Dengan memahami Literasi Digital kita akan secara ‘sadar’ menggunakan media digital, sadar hati, sadar budi dan sadar etika, sehingga konten atau karya yang dihasilkan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Jadi tidak  sekedar membuat konten karena ingin viral. Viral tapi membuat kegaduhan negatif dan menimbulkan perpecahan?

Bagaimana agar sadar hati, sadar budi dan sadar etika?

Buat konten atau karya dengan berpegang pada kebudayaan Indonesia, nilai sosial yang berlaku di masyarakat dsb. Kesadaran dalam penggunaan data di internet, sadari tidak semua hal boleh dibagi di internet, data pribadi, curhat tanpa disaring dsb. Kesadaran dalam menyerap dan menyebarkan informasi dan yang terakhir FOKUS pada KONTEN.

Boleh ga sih kalau menulis konten isinya curhat? Boleh asal ditulis dengan elegan, bukan curhat vulgar yang ujungnya membuka aib sendiri atau orang lain. Boleh intip blog mak Mira Sahid, mengemas curhat jadi tulisan yang menginspirasi. 

IndiHome memberi  kemudahan aktivitas tanpa batas

Sumber foto/logo dari IndiHome. Co. Id

Saat pandemi kebutuhan akan internet bertambah, pak suami WHF yang tentunya butuh internet sepanjang hari, selama jam kerja dari jam 8 hingga jam 5 sore. Anak-anak juga belajar online,  pandemi yang mengharuskan di rumah saja membuat butuh hiburan tontonan alias tv kabel.

Bagaimana  agar dapat semua layanan dengan harga pas, terjangkau. Alhamdulillah kalau tak salah hitung 3 tahun lalu akhirnya IndiHome bisa masuk perkampungan saya. Iya sebelumnya belum bisa karena belum ada jaringan, harus cari pelanggan lain minimal 8 orang (rumah), biar bisa pasang jaringan (istilah teknisinya tarik kabel). Setelah dihitung-hitung memang lebih murah dengan IndiHome dibanding beli kuota untuk 4 orang di rumah dengan kebutuhan selama satu bulan.

Saya pun bisa ‘bekerja’ dengan maksimal, memanfaatkan kuota sebaik mungkin.

IndiHome adalah sebuah produk layanan internet dari PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) yang terdiri dari tiga layanan komunikasi dan data dalam satu paket yaitu telepon rumah (voice), internet on fiber (internet berkecepatan tinggi), dan layanan televise kabel.

Jaringan IndiHome menggunakan Teknologi Fiber Optic sehingga kualitas IndiHome  internet cepat, stabil dan menjangkau area yang luas, tak heran jangkauan IndiHome sudah ada di 496 kota dan kabupaten di Indonesia dan jangakaun ini akan makin meluas ke banyak kota seiring waktu.

Dan kehadiran internet di sebuah kota akan meningkatkan perekonomian masyarakat, sebagai contoh kita pedagang yang awalnya hanya berjualan secara offline kini membuka juga secara online baik melalui aplikasi atau marketplace.

IndiHome menyediakan beberapa paket langganan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan, ada paket Internet Only, Internet+TV, Internet+Phone,  Paket Internet+TV+Phone atau Paket Gamer.

IndiHome, Internetnya Indonesia membangun kedaulatan digital  bangsa 

Transformasi era digital harus dibarengi dengan dengan prinsip  kedaulatan agar masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi konsumen atas seluruh layanan dan produk-produk digital dari negara lain. Prinsip ini juga yang dijunjung PT Telkom sebagai perusahaan penyedia jasa telekomunikasi dengan IndiHome sebagai salah satu produk layanannya.

Tiga hal yang dilakukan PT Telkom dalam membangun kedaulatan  digital yaitu;

Menciptakan lingkungan digital yaitu membangun infrastruktur dan layanan merata ke seluruh Indonesia sehingga masyarakat bisa mengakses.

Membangun masyarakat digital dengan menyediakan berbagai produk serta layanan untuk meningkatkan kapasitas digital masyarakat.

Akselerasi ekosistem ekonomi digital yaitu optimalisasi layanan serta produk yang mendukung peningkatan ekonomi masyarakat.

IndiHome berperan dalam mendukung perkembangan ekosistem eSport di Tanah Air, dengan mengadakan kompetisi eSport dan Academy eSport. IndiHome menyediakan paket Gamer dengan kecepatan hingga 100 Mbps. IndiHome internetnya untuk gamer.

IndiHome juga mendukung gelaran World Superbike WSBK 2021 di Mandalika Internasional Street Circuit dan memberi bantuan teknis dalam memperkuat jaringan sinyal komunikasi sekitar lokasi.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Indihome Blogger Days


Referensi tulisan

Webinar Tulisan is Magic bersama Telkom Jabar dengan narasumber Mira Sahid  Founder Komunitas Emak-emak Blogger. 

https://indihome.co.id/internet

https://indihomegamer.id/

http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/telkom-komitmen-wujudkan-kedaulatan-digital-indonesia

https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-5821040/indihome-dukung-gelaran-world-superbike-2021-di-sirkuit-mandalika





13 komentar

  1. Setuju banget bahwa dunia digital sekarang ini sangat memudahkan kita dalam beraktivitas juga komunikasi. Dan internet sudah menjadi kebutuhan primer juga ya karena kerjaan sekarang ini pada umumnya mengandalkan internet. Jadi inget shutterstock belum diupdate lagi :D emang platform digital ini sangat membantu dalam meraup cuan.
    Di rumah juga pakai Indihome, so far emang internetnya paling oke.

    BalasHapus
  2. Zaman now, internet ini merupakan infrastruktur sangat penting bahkan vital. Nggak ada koneksi inet, kerjaan kantor bisa dipastikan mandeg ya mbak.
    Akupun pengguna Indihome dan so far puas dengan pelayanan mereka.

    BalasHapus
  3. yah, kami mnegandalkan indihome lah di rumah, hehehe. Kalo nggak yang bisa kacau dunia per internetan, hahaha. Cuma kalo di kantorku, meski lampu mati , inet bisa tetap jalan, la kalo di rumah, mati lampu, mati juga indihome nya, huhuhu

    BalasHapus
  4. Benet bnget kak sekarang platform yg free bisa diandalkan untuk membantu promosiksn bisnis Kita asal tekun Aja y kuncinya

    aplg dibantu dg indihome jadi lancar Jaya banget internetan

    BalasHapus
  5. Wah..salut sama mba Rina
    Perlahan tapi pasti segala harap bisa diwujudkan. Apalagi saat ini digitalisasi kian membantu dalam merintis usaha terlebih jika koneksi internetnye berjalan baik dan stabil

    BalasHapus
  6. Komentar orang-orang itu, ya. Kenapa sih ya kalau kita sibuk, mereka komentar, " emang duit suami kurang?"

    Giliran kita rebahan mulu, komentar, "jadi istri bisanya ngabisin duit suami," hahahaha pengen nyumpel mulut orang-orang itu.

    Padahal ya di jaman sekarang, mau usaha apapun bisa. Dari makanan, tanaman hias, obat dan lainnya. Karena bisa banget diupload di platform manapun dan gratis.

    Juga ada Indihome yang memberikan layanan internet tanpa batas dan kenceng.

    Komplit deh support sistemnya.

    Btw, semoga sukses selalu ya, Mbak.

    BalasHapus
  7. Konon, internet ini adalah sebuah peluang yang jika kita mampu memaksimalkan, maka pintu rejeki pun terbuka lebar. Namun, seperti yang kita pahami bersama, internet juga teridiri dari tantangan-tantangan yang perlu kita waspadai. Terima kasih sudah sharing terkait literasi digitalnya juga, Mak. Semoga banyak blogger juga yang mulai memahami bahwa literasi digital tidak sekadar dunia blog, lebih luas dari itu, kompetensinya perlu lebih banyak dipahami. Sukses ya Mak

    BalasHapus
  8. Zaman skrng krn banyak aktivitas masih lbh banyak dilakukan di rumah jd yg namanya jaringan itu penting ya mbak. Apalagi jualan online kyk mbak Rina.
    Senangnya pakai Indihome krn emang targetnya menjangkau semua daerah di Indonesia supaya akses informasi jg lancar ya.

    BalasHapus
  9. Dengan internet, segalanya mungkin ya Mbak. Saya dulu bercita-cita jadi guru. Setelah lulus malah diminta bantu keluarga membesarkan perusahaannya. Sekarang jadi gurunya ibu-ibu selain ngeblog dan menulis. Jadi memang semesta tahu apa yang kita inginkan.
    Dan keren, uey, sudah bisa jual foto di Shutterstock. Saya masih sulit approve foto. Upload beberapa yang diterima 1-2 saja dan belum laku. Hihihi

    BalasHapus
  10. Saat internet sudah sampai dan meluas di seluruh pelosok Indonesia maka semua orang bisa saja memanfaatkan untuk memperoleh berbagai informasi dan melebarkan usahanya.
    Salut banget dengan kedaulatan internet yang diusung oleh Indihome.
    Ini membuka kesempatan bagi siapa saja untuk memanfaatkannya sesuai dengan passion atau minatnya.

    Sukses terus, kak Rina.

    BalasHapus
  11. Keren mba berkarya di Shutterstock juga ya.

    Sekarang ini internet jadi kebutuhan ya. Disini kita bisa berkarya dan mengembangkan diri ya.

    BalasHapus
  12. wah mantap banget mbak, bisa berkarya di Shutterstock
    Emang ya mbak, dukungan internet kencang dari IndiHome ini sangat diperlukan, agar kita bisa melakukan Aktivitas Tanpa Batas

    BalasHapus
  13. Kereeennn banget mbak Rinaa...
    Buat freelancer, internet adalah support system yang penting.. makanya IndiHome jd andalan provide internet kenceng buat aktivitas tanpa batas

    BalasHapus