Jumat, 29 Juni 2018

Wheel of Death dan Blocks Playground di Pondok Indah Mall

Liburan sekolah anak – anak sekolah masih panjang, jujur, saya mulai kehabisan ide untuk menghabiskannya dengan sedikit memberi mereka gadget. Yap, karena liburan jam mereka main games di gadget bertambah. Gadget mama, abinya, dimonopoli. Kalau dibilang, jangan main hape melulu jawabnya,"Trus ngapain? Kan tadi udah baca buku, udah ngegambar, udah main."

Ngajak mereka traveling sudah, kan tidak bisa tiap  hari, selain keuangan tak cukup, tenaga juga.

Jadi ngapain donk? Saya memutar otak dan membuat jadwal harian kegiatan mereka.

Biar ga bosan di rumah terus, tiap weekend ada acara keluar, kalau tidak hari sabtu ya minggu, dari olahraga ke taman kota sampai ngemall . Dan mall yang akan saya kunjungi bersama anak anak adalah Pondok Indah Mall karena selama musim liburan ini di sana ada 2 acara yang pastinya disukai anak-anak.

Bagi saya mall selalu memiliki daya tarik tersendiri walaupun toko - toko online banyak bermunculan. Ada beberapa hal di mall yang tidak tergantikan oleh keberadaan toko online.

Ngemall ga hanya cuci mata dan belanja lho karena untuk memeriahkan Hari Raya Idul Fitri 1439H dan  liburan sekolah manajemen  Pondok Indah Mall menghadirkan dua hiburan menarik untuk para pengunjungnyai yaitu Wheel Of Death dan Blocks Playground yang sudah bisa dinikmati pengunjung sejak  tanggal 21 Juni 2018.

General manajer Pondok Indah Mall Eka Dewanto menjelaskan pada tahun 2013 PIM teah mencatat kesuksesan membawa pertunjukan  ekstrim Wheel Of Death. Kesuksesan ini ditandai dengan diterimanya penghargaan rekor MURI sebagai mall pertama di Indonesia yang menampilkan pertunjukan Wheel of Death di dalam gedung mall.  Dan tahun ini kembali membawa keseruan Wheel Of Death yang akan ditampilkan oleh The Cardenas Brothers.

General manajer PIM menjelaskan kegiatan
Selama libur lebaran dan sekolah

The Cardenas Brother


Sebagian teman – teman mungkin bertanya – tanya apa sih Wheel of Death?  Wheel of death adalah antraksi berbahaya dan menegangkan yag ditampilkan oleh kakak beradik Cardenas, pemain sirkus professional dari Santiago, Amerika Selatan. Mereka akan berjalan dan melompat di atas roda berputar di ketinggian belasan meter.


Wheel of death

Berfoto bersama blogger

Selfie bersama the cardenas brother

Kakak beradik Rogoberto Ismael Cardenas dan Christopher Bastian Cardenas merupakan  generasi ke – 5 dari keluarga pemain sirkus. Mereka memainkan wheel f death sejak usia 11 tahun. Keduanya sudah terlekanl di dunia karena kerap hadir di sirkus Hippodrome yang sangat bergengsi di London dan seluruh Amerika Selatan, termasuk Peru, Argentina, Chilled an Brazil.

Pada konfrensi pres kemarin pun mereka mengatakan setelah dari Indonesia mereka akan mengadakan tur ke beberapa Negara seperti cina dan London, inggris.

Pertunjukan ini dapat dinikmati semua pengunjung tapi yang pasti ingatkan si kecil untuk tidak mencobanya di rumah karena atraksi ini  hanya bisa dilakukan oleh profesional.

kompleks perbelanjaan besar  yang terletak di kawan pondok indah Jakarta selatan, karena besar untuk memudahkan pengunjung mall ini di bagi menjadi tiga PIM 1, PIM  2 dan street Gallery yang dihubungkan dengan dua jembatan (skywalk north dan skywalk south)
Pasti donk teman – teman yang tinggal di sudah pernah ke mall satu ini.

Dan bukan hanya pengunjung yang dibuat antusias dengan pertunjukan Wheel Of Death juga The Cardenas Brother yang mengaku sangat senang dan antusias dapat tampil di Indonesia. Dan mereka sudah menyiapkan berbagai aksi mengejutkan dari atas roda berukuran raksasa dengan panjang 9 meter dan tinggi 15 meter. Mereka berharap para pengunjung Pondok Indah Mall dapat menikmati penampilan mereka.

Pertunjukan wheel of death dapat dinikmati dari tanggal 21 Juni 2018 hingga 8 Juli 2018 di area main atrium PIM 2 pada pukul 19.00 padahari selasa hingga kamis, sedangkan hari jumat sampai minggu ada dua kali pertunjukan yaitu pukul 16.00 dan 19.00.

Jangan sampai ketiggalan nih teman – teman, acaraya seru banget. Meneganggkan dan membuat saya berkali – kali menahan nafas tapi tetap di tonton karena seru. Kapan lagi coba melihat atraksi semacam sirkus di Indonesia, iya kan?

Blocks Playground merupakan permainan asah kreativitas untuk anak – anak. Berbagai macam bentuk yang  terbuat dari busa  dapat ditumpuk, disusun dan disambungkan hingga berbentuk sesuai imajinasi anak.  Ukuran busa yang besar juga memungkinkan anak – anak bermain bersama sehingga bermain menjadi lebih aktif dan menyenangkan.

Menyusun balok dari busa

Asik lho main di sini
Yuk ke Pondok Indah Mall.

Rabu, 13 Juni 2018

Sop Komplit Premium Sausage Original So Good

Ramadan pertama untuk si kecil KAE. Jika tahun sebelumnya belajar puasa tapi sahurnya saat sarapan, tahun ini ikut sahur bareng. Bukan tanpa drama,”Ma, aku buka puasa ya, lapar,” pintanya padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul 9 pagi.

“Belum juga adzan dzuhur, kalau buka sekarang Mamanya juga belum masak nasi.”
“Aku kan punya Oreo kemarin,” katanya. Nah, jadi sebenarnya tidak lapar kan?
Karena saya tidak mengijinkan buka puasa  rengekannya berubah tangisan hingga akhirnya dia tertidur kelelahan.

Sebenarnya drama dimulai sejak mulai dibangunkan sahur. 

Senin, 04 Juni 2018

Monkey See Monkey Do

Ada yang pernah menonton animasi film seri Monkey See Monkey Do? Bukan film sepenuhnya, kartun untuk balita ini menggambarkan seorang monyet yang menjelaskan dan memperagakan beragam gerak atau bunyi hewan. Anak – anak balita yang ada di film ini akan menirukan. Jadi semacam film untuk stimulasi.

Istilah Monkey See Monkey Do digunakan juga dalam dunia parenting untuk menggambarkan bagaimana seorang anak dengan cepat dan tangkas peniru sebuah perilaku, terutama perilaku dari orang-orang terdekatnya, seperti orangtua.

Vlog ala - ala untuk disimpan sendiri :)
Perilaku anak yang ditiru dari orangtuanya kemungkinan besar menjadi karakternya. Kalau yang ditiru yang positif saja tentu tak perlu khawatir. Masalahnya, anak meniru apapun, baik maupun buruk, pun jika kelak setelah dewasa dia tahu perilaku yang ditirunya itu buruk – karena sudah kebiasaan sukar dihilangkan. Sementara saya sebagai orangtua, kadang tidak bisa menyembunyikan rasa kesal atau marah dengan menaikkan suara, menggerutu dsb. Duh, feeling quilty ya…semoga Allah selalu menjaga anak – anak dari perilaku buruk.

Perilaku Monkey See Monkey Do yang terjadi baru – baru ini pada si sulung saya adalah meniru kebiasaan mamanya  di  media sosial terutama Instagram, karena saya memang kurang aktif di FB maupun twitter. Di IG juga tidak setiap hari update foto sih tapi mungkin karena berupa gambar, si sulung jadi lebih mudah paham dan tahu. Yap, dia punya akun IG (private).


Dia mulai suka membuat  vlog apa saja dari kucing peliharaan sampai DIY – ini karena melihat mamanya membuat vlog untuk keperluan blog (terutama lomba). Dia mulai ikutan foto ini itu buat di IG. Memang masih undercontrol karena dia hanya bisa mengakses IGnya melalui handphone saya atau Abinya.

Tapi saya mulai khawatir karena usianya yang masih anak – anak (10 y) jika tanpa pengarahan akan kebablasan. Kebablasan jadi suka pujian di media sosial, padahal Mamanya lebih pada kerjaan (membela diri heheh… ya sebisa saya menahan diri untuk tidak smeua hal diposting di media sosial, IG). Foto makanan karena ingin belajar food fotography atau untuk ikut lomba, postingan liburan untuk mendukung blog, intinya biar IG hidup jadi dilirik buat campaign heheh.

So, agar tidak kebablasan dan si sulung tetap pada traknya sebagai anak usia 10 yang masih lugu dan polos, dan paham bermedia sosial yang baik, saya melakukan hal – hal berikut;

Membatasi akses media sosial si sulung (dia hanya memiliki Instagram), hanya melalui hp saya dan abinya, waktunya pun dibatasi.

Mengajarkan memilah hal yang boleh dan tidak boleh diposting di IG. Misal soal aurat, selfie boleh sesekali tapi perhatian sikap tubuh dan aurat. Tidak semua hal yang sedang kita lakukan  di posting di IG agar tidak terbersit rasa sombong.

Menulis caption atau komentar dengan sopan. Media sosial juga ada sopan santunnya lho Kak, seperti saat kita ngobrol ketemu orang, begitu yang selalu saya katakan pada si sulung, jadi kalau tidak suka sama postingan orang atau kesal sama foto orang, tidak boleh mencaci maki. Saya ingatkan ada hukum ITE, bisa dilaporkan ke polisi.

Pamer atau sombong itu dosa, soal itu kami sudah sepakat. Jadi kalau Mama foto – foto makanan di IG bukan sekedar pamer tapi untuk lomba dan latihan foto. Soal pamer memang hanya hati yang tahu. Jadi saat kita posting karena ada rasa pamer di hati, sebaiknya tidak posting.


Jadi walaupun si sulung sudah sering membuat vlog sederhana atau foto ini itu, saya masih membatasinya untuk dipost di media sosialnya.  Saya ingin dia paham dan bisa bijak  bermedia sosial jadi hanya mempsoting hal yang baik, syukur - syukur bermanfaat.  

Tulisan ini merupakan post respon dari Grup #KEBloggingCollab Butet Manurung terhadap tulisan Mak Merry Meirida di website KEB tentang melatih dan menyikapi anak kidal. Mak Merry merupakan pemilik Blog  http://www.meirida.my.id Ibu satu anak yang menyukai K-Drama.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...