Jumat, 29 Desember 2017

Cara Mama Menyayangimu

Jujur, kadang tidak sadar dengan umur yang menua (menutup mata dari  kerutan halus di wajah dan beberapa uban hehehe) sampai melihat tinggi badan anak – anak,  how old am I

Jadi mama itu...
Rasanya baru kemarin jadi mama baru yang mudah panik, parnoan, apa – apa harus sesuai dengan pedoman buku parenting. Lahir anak kedua rasanya lebih santai, idealisme pengasuhan mengendor untuk hal - hal tertentu. Terkenang – kenang juga saat si sulung masih suka  tantrum. Pengalaman menghadapi anak tantrum ternyata paling berkesan.


Tantrum
Tidak setiap anak melalui masa tantrum, ini terbukti dengan kedua si kecil saya, si Kaka saat balita kerap tantrum untuk memaksakan keinginannya, Adik cukup dengan tangisan atau rengekan.

Apa yang ada dibenak Mama saat melihat seorang anak tantrum di keramaian, seperti  mall atau tempat pameran? Si anak meraung dengan kaki dihentak – hentakkan, saat coba ditenangkan dengan merangkulnya  malah mengayun-ayunan tangan kesana - kemari. Belum lagi teriakannya berkali – kali meminta apa yang diinginkannya!

“Makanya jangan suka ngajak anak ke mall.”
“Pasti ibu bapaknya kehabisan uang  sampai anaknya ngamuk minta mainan dibiarin.”
“Alhamdulillah anak saya tahu diri tidak pernah tuh ngamuk-ngamuk kalau meminta sesuatu.”
Well, sebenarnya itu adalah komentar - komentar yang saya dengar/baca secara langsung dari orang yang melihat adegan seorang anak yang sedang  tantrum.  Dan anak itu adalah si sulung saya.

Kalau ditanya apa saya malu kalau anak tantrum di keramaian? Malu banget tapi saat pertama aja selanjutnya bisa santai dan mesem-mesem.  

Yap saat usianya balita di sulung kerap tantrum jika keinginannya tidak dikabulkan. Jangankan di mall di rumah saja dia bisa ngamuk hanya karena tidak saya belikan balon (padahal hari sebelumnya sudah beli balon dan balonnya masih ada) atau saya matikan tv karena jam menontonnya sudah habis sesuai kesepakatan. 

Saya dan Pak suami sepakat tidak akan menurutkan keinginan anak-anak jika berdampak tidak baik. Memilih membiarkan anak tantrum daripada  maksain dan si anak jadi kebiasaan menggunakan amukan untuk ‘menaklukan’ kami.

Saya ingin anak – anak  tumbuh menjadi pribadi tangguh, bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, bisa mengontrol keinginan dirinya, paham jika uang untuk memenuhi kebutuhan bukan keinginan, paham jika main games di gadget sekedar hiburan bukan kegiatan utama dan ada waktu tertentu. Gadget untuk membaca buku (ebook) dan sumber informasi. Biasanya saya melibatkan anak -  anak saat mencari ide membuat mainan atau mencari informasi terkini di gadget.

Boleh baca Peran Baru Azka ,  cerita tantrum  si sulung yang pernah dimuat di majalah Parenting rubrik Cerita Mama.

Seiring usia si sulung tidak lagi tantrum tapi bukan berarti sifat keukeuh-nya hilang hanya saja sekarang caranya tidak dengan tantrum tapi menunda dan mencari solusi agar keinginannya tercapai. Misal jika ingin membeli sesuatu dia akan menabung dan menawarkan diri bantu - bantu.


Semua berproses bukan tanpa drama karena mengungkapkan rasa cinta pada anak – anak  tidak bisa selalu dengan cara manis.

Boleh baca Cara Mama Mencintaimu, cara manis mengungkapkan cinta ala saya yang dimuat di Majalah Ummi rubrik Nuansa Wanita.

Menaklukan Tantrum Anak
Saya bersyukur dengan fase tantrum yang dilalui si sulung karena itu menunjukkan karakter keukeuh-nya. Penanganan tantrum yang tepat akan menumbuhkan  karakter memiliki keinginan kuat dan pantang menyerah pada anak. Ini yang saya lakukan saat anak – anak masih suka  tantrum;

Memberi  pengertian. Saya menjelaskan dan memberi pengertian kenapa tidak melulusan keinginan atau memberi pilihan alternatif atas keinginannya. Walaupun menit berikutnya dia mengamuk, saya yakin  dia mendengarkan penjelasan tapi tidak mau menerima..

Memberi waktu dia melampiaskan kekesalannya. Membiarkan dia melampiaskan kekesalannya. Tidak memukul atau menghardiknya. Jika si sulung kami tantrum di keramaian tugas  Pak suami membopongnya sampai  mobil. Dia biasanya tertidur sepanjang perjalanan pulang karena kecapean abis ngamuk hahaha.

Mengulang pengertian saat dia sudah tenang. Anak sudah tenang tapi belum lupa keinginannya yang diabaikan, dia cemberut. Biasanya saya ulang alasan kenapa saya tidak mengabulkan keinginannya.

Menawarkan  solusi. Setelah mengulang alasan, biasanya kami menawaran solusi. Misal saat ia ingin balon lagi (dan lagi padahal di rumah ada), saya katakana kalau semua balonnya sudah empis atau pecah boleh beli balon lagi. Kalau mau mainan lagi saya katakan harus nabung dulu caranya jangan jajan tapi uangnya ditabung.

Boleh baca tips menghadapi Anak Berkemauan Keras yang dimuat di Koran Republika rubrik Leisure.

Membangun Kelekatan (bonding)
Perjalanan saya membimbing anak – anak masih panjang dan masalah yang dihadapi akan berbeda seiring usia. Memasuki usia praremaja (saat ini si sulung saat ini berusia 9 tahun) dan seterusnya saya tidak bisa lagi menaklukan mereka dengan cara otoriter dalam tanda kutip. Katanya harus tarik ulur, masuk ke dunia mereka (harus tahu apa yang sedang hits di dunianya – entah lagu, film, atau tokoh idola mereka), menjadi sahabat mereka. 

Timeless

Agar proses itu berjalan  mudah, orangtua harus memiliki ikatan fisik dan emosi yang baik dengan anak – anak (bonding). Bonding tidak tercipta dengan sendirinya. Dan saat ini saya tengah mempererat bonding dengan anak – anak dengan melakukan hal – hal berikut ini;

Bekal ilmu. Tidak ada sekolah untuk jadi orangtua bukan berarti tidak ada ilmunya. Belajar dari pengalaman bagaimana Ibu membesarkan saya dan keempat adik, melalui buku, ikut diskusi parenting dsb.

bekal ilmu jadi orangtua

Memiliki waktu bersama setiap hari. Aktivitas paling rutin yang saya dilakukan bersama anak – anak adalah dari mulai magrib (sholat bersama hingga mereka tidur. Biasanya kami membaca buku, bermain (paling sering main catur, ular tangga, congklak dan monopoli), mendampingi mengerjakan belajar, atau  anak – anak menggambar sementara saya membaca buku.

Bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah. Cara lain saya menghabisan waktu bersama anak-anak adalah mengajak mereka melakukan pekerajaan rumah yang mudah seperti membantu membuat camilan, menyapu dan meminta mereka mencuci sepatu dan kaos kaki sekolahnya. Biasanya dilakukan saat weekend.

Menjadi pendengar yang baik dan tidak menggurui. Jujur, saya masih belajar jadi pendengar yang baik dan tidak menggurui. Masih sukar menerima, saya harus memasuki dunia mereka terutama si sulung yang memasuki usia praremaja.  Seperti saat si sulung mengaku – ngaku suka lagu korea dan ingin saya mendownload untuknya. Secara gitu ya di rumah kami tidak punya radio dan tidak pernah mendengarkan lagu korea apalagi menonton. Mulai tarik ulur dan diskusi agar pengaruh teman tidak terlalu dominan.

Belajar sabar dan menahan emosi. Kadang masih ngomel dengan intonasi kencang, greget saat anak – anak melakukan kebiasaan tak rapih berulang – misal pulang sekolah  lempar tas, kaos kaki dan sepatu dimana saja. Masih belajar sabar...

Anti panik menghadapi anak sakit
Semua Ibu mengalami fase menghadapi anak sakit. Bagaimana rasanya? Khawatir sudah tentu atau bahkan panik? Kalau saya iya tapi itu dulu, tahun pertama memiliki anak. Sedikit – sedikit ke dokter, baru beberapa jam demam ke dokter, anak rewel dikit ke dokter. Maklumlah ya mama baru yang jauh dari sanak saudara hehehe. Alhamdulillah seiring usia anak-anak saya banyak belajar termasuk soal menghadapi mereka sakit. Yang pasti udah tidak panik lagi kalau anak – anak deman, salah satunya karena selalu sedia obat penurun panas Tempra Syrup untuk adik dan Tempra Forte untuk Kaka di rumah.

Agar tidak panik  menghadapi anak sakit saya biasanya melakukan hal berikut ini;

Tarik nafas dan yakinkan pada diri sendiri bahwa saya bisa menanganinya. Sakit adalah hal alamiah, respon tubuh terhadap zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Menyadari hikmah sakit untuk anak dan orangtua, jadi lebih mensyukuri nikmat sehat dan belajar sabar. Berdoa untuk kesembuhannya disertai ikhtiar atau usaha agar sembuh.

Memberikan obat yang tepat. Dua hari sebelum tulisan ini publish, Adik  (6 tahun) demam. Perkiraan saya karena kelelahan karena dua hari berturut - turut tidur larut malam, main, berenang, dan tidak mau  tidur siang. Demamnya lumayan tinggi tapi karena tidak memiliki riwayat kejang saya tidak khawatir. Saya memberinya minum air putih banyak, memintanya tidak main hanya rebahan lalu memberikan obat penurun panas Tempra Syrup.


Tempra Syrup

 Tempra Forte

Pilihan saya jatuh pada Tempra selain karena anak – anak suka rasa manisnya juga aman di lambung, tidak perlu dikocok karena 100% larut (ini cocok  untuk saya yang suka lupa jika misalnya ada obat resep dari dokter dan harus dikocok sebelum digunakan – efeknya obat bisa tidak bekerja efektif karena dosis kurang), dan dosis Tempra Syrup tepat – tidak menimbulkan over dosis dan kurang dosis.

Tempra tersedia dalam tiga pilihan untuk usia berbeda; Tempra Drops untuk  usia 2 tahun, Tempra Syrup usia 1 - 6 tahun dan Tempra Syrup usia 6 - 12 tahun. Kandungan parasetamolnya disesuaikan dengan peruntukan usia, tempra forte 250 mg tempra syrup 160 mg. Jadi dosisnya tepat - tidak kurang tidak lebih. Selengkapnya tentang Tempra bisa dilihat di 

Lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak. Saat sakit biasanya anak – anak manja. Jadi biasanya kalau anak – anak sakit saya bangun lebih pagi, beberapa pekerjaan rumah ditunda (ga keburu ngepel lantai sehari dua hari kalau anak sakit udah biasa hehehe) atau dialihkan (cucian ke Laudry). Make it simple pokoknya. Menghabiskan banyak waktu saat anak sakit memberikan dorongan mental untuk cepat sembuh dan kita juga jadi bisa tahu perkembangan sakitnya. Apa demannya karena flu atau hal lain?

Menu makan disesuaikan. Salah satu proses penyembuhan sakit adalah asupan gizi yang baik. Saya biasanya menyiasati dengan mengganti nasi dengan bubur, untuk sayurnya sop atau bayam bening, lauknya sebisa mungkin menghindari digoreng.



Jika sakit berlanjut membawa anak ke dokter. Demam karena flu dengan istirahat cukup, makan makanan  bergizi dan memberi obat pereda demam/nyeri, biasanya akan sembuh dalam 3 sampai 4 hari. Kalau saya, jika hari ke 4 deman anak - anak tak kunjung sembuh padahal sudah diberi obat penurun panas, saya membawa mereka ke dokter, untuk memastikan penyebab demannya. Khawatirnya kan deman yang disebabkan penyakit berbahaya seperti DBD atau typus .

Setiap mama pasti punya cerita berbeda menghadapi anak sakit atau mengungkapkan cinta pada mereka because every mom has own battle.  Bagaimana cerita teman-teman?

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

13 komentar:

  1. Semoga sehat selalu bunda dan keluarga :) aamiin

    BalasHapus
  2. Waaah ternyata Azka dulu suka tantrum ya. Alhamdulilah duo bocil gak ada yang tantrum apalagi di tempat umum. Tapi nggak tau juga nih si Firdan
    Kayaknya ada dikit dikit sifat ngeyelnya nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Smg firdan kalem juga ga tantrum...rempong klo udah tantrum di tempat umum

      Hapus
  3. Tips menghadapi anak sangat membatu banget untuk aku, terimakasih

    BalasHapus
  4. Terimakasih tips2 nya bunda, semoga keluarga srlalu sehat y brrkat tempra

    BalasHapus
  5. Kasihi ibu memang sepanjang masa ya, mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dan tiap hari jd momen belajar

      Hapus
  6. Anak2 ku juga cocok pakai tempra untuk menurunkan demam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jd tenang ya asal ada tempra d rumah

      Hapus
  7. Aku baru ngerti apa itu tantrum, kirain nama penyakit *ditendang :(*

    Aku dan adikku sih ngerasanya nggak pernah sampe ngamuk-ngamuk gitu kalo lagi pengen sesuatu, udah takut duluan sama Mamah kalo marah, haha. Jadi ya, kalo emang ada keinginan bilang aja, kalopun belum bisa dikabulin, biar tau artinya sabar dan berusaha :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...