Sabtu, 26 Agustus 2017

Pengalaman Pertama Mengikuti Pameran Bunga

Assalamulaikum teman – teman,

Ada yang pernah ikut pameran/jualan di pameran? Waktu kuliah saya beberapa kali jualan di pameran tapi yang dijual bukunya orang (penerbit), dua kali jadi kasir penerbit Mizan waktu pameran buku Bandung di Braga, honornya lumayan bikin mendadak jadi mahasiswa banyak duit dan rela ninggalin jam kuliah hahaha.



Bulan lalu pertama kalinya saya ikut pameran dengan barang yang dijual bunga dan dagangan milik sendiri. Tepatnya di event Florikultura Indonesia yang diselenggarakan di kampus IPB Baranangsiang. Pameran rutin yang diselenggarakan IPB, dengan tema pameran Buah dan Bunga tapi atas saran Presiden penyelenggaraan dipisahkan antara pameran bunga dan buah perdua tahun sekali. Jadi kalau tahun ini pameran bunga, tahun depan pameran buah, begitu seterusnya. Tujuannya mengangkat petani dan pertanian lokal, membangkitkan Florikultura Indonesia sehingga bisa menjadi tuan di negaranya sendiri.

Tari daerah pada acara pembukaan 

Sedikit mengenai bisnis bunga
Setelah terjun dibisnis bunga saya jadi tahu, hampir semua petani anggrek dendro tanah air mengimport anakannya dari Thailand. Dan tahukah teman negara Singapura yang notabene tanahnya seumprit dibanding Indonesia memiliki perkebunan bunga anggrek potong yang modern, canggih dan sudah ekspor. Di Indonesia pun ada satu perusahaan profesional yang konsen terhadap bunga terutama anggrek bulan yaitu Eka Karya. Beru – baru ini Eka Karya menjual anggrek bulannya secara retail di beberapa supermarket mall besar  seperti AEON, Pasific Place dsb. Jadi kalau teman – teman melihat di pintu masuk supermarketnya ada deretan Bunga anggrek bulan (dan sedikit dendro) dengan kemasan ekslusif dan harga aduhai itu produk Eka Karya.

Mengingat luasnya Indonesia dan beragamnya keanekaragaman hayati yang dimiliki, jumlah penduduk banyak begitupun PTN yang memiliki jurusan pertanian  harusnya ada beberapa perusahaan profesional seperti Eka Karya  tapi why why

Salah satunya mungkin mindset jadi petani yang tidak membuat hidup makmur, kebanyakan lulusan sarjana pertanian saja sedikit yang  terjun jadi petani. Kebanyakan petani bunga masih wong ndeso bukan lulusan sarjana pertanian, bertani yang dimulai karena ‘warisan’, turun - temurun, ada celah menanam dan menjual bunga. Tapi generasi berikutnya (anaknya) tidak tertarik jadi petani seperti pernah diceritakan seorang petani anggrek dendro di Tangsel saat saya berbincang dengannya, ketiga anaknya tidak tertarik meneruskan usaha orangtuanya, dan si Ibu pemiliknya mulai kesulitan mengelola pasca suaminya meninggal, mencari karyawan juga sulit karena pekerja dengan bunga harus ada rasa suka dan sayang.

Saya termasuk generasi yang saat memutuskan kuliah tidak mau masuk jurusan pertanian. Buyut saya petani dan saya masih inget banget main di sawah saat buyut panen padi, lahannya kini jadi perumahan dago asri di dago Bandung.

Padahal tentu saja jadi petani bisa hidup makmur seperti petaninya di di beberapa negara tetangga, di sinilah  mungkin diperlukan usaha pemerintah, membuka peluang dan mendampingan terutama untuk petani lokal dan tradisional untuk bisa memperbesar usahanya dan menjadi profesional.

Katanya pameran Florikutura ini diadakan untuk membangkitkan kembali Florikultura di Indonesia, semoga tidak sekedar jargon dan sebatas pameran sesaat – tapi sepertinya kenyataannya memang seperti itu hehehehe.

Florikultura Indonesia 2017
Antara excited dan deg – deg an, saat memutuskan ikut pameran, kira – kira pengunjungnya banyak gak ya? Kira – kira laku gak ya? Lalu Pak suami bilang, hitung – hitung  cari pengalaman, jangan mikir mencari untung. Ehm, iya juga sih mengingat biaya yang harus kami keluarkan untuk ikut pameran lumayan, seperti biaya sewa stand, sewa truk untuk angkut barang, biaya menginap di penginapan karena kami  baru loading barang setelah pak suami pulang kantor (sampai bogor jam 11 malam selesai jam 1 malam) sementara besoknya harus buka jam 6 sedangkan rumah kami dari kota Bogor jaraknya sekitar 1 jam perjalanan kalau tidak macet.  Jadi daripada memikirkan cari untung mending pahit – pahitnya aja dulu.

stand kami 

beberapa koleksi anggrek kami 

Kalau kata suami mah kita ‘berpetualang’ hahaha. Oh ya karena tidak punya asisten, anak – anak saya boyong. Seru ternyata kerja bawa anak terlebih mereka excited. Tapi walaupun sekedar cari pengalaman, karena saya dan pak suami ingin menseriusi bisnis yang dimulai dengan keisengan mengisi waktu luang dan memberdayakan beberapa warga di kampung kami ini, jadi  berusaha profesional. Satu lagi kesamaan saya dan Pak suami,  ternyata sama – sama suka berkebun dan suka bunga hehehe.

Boleh baca ;

Mungkin teman – teman ada yang ingin tahu berapa sih sewa stand kalau pameran seperti itu?
Di pameran Florikultura kemarin sewa stand dihitung dengan sistem bagi hasil, panitia meminta 20% dari total penjualan selama dua hari (20% dari total lho ya bukan keuntungan jadi lumayan besar)

Persiapan pameran
Persiapannya sederhana, memperbanyak stok bunga jadi dua minggu sebelum pameran kami hunting bunga kalau mengandalkan stok di green house untuk level pameran tidak cukup. Mencari  truk yang mau disewa dengan harga pas, menyiapkan barang yang akan dibawa dan menentapkan harga.
Karena kami membawa dua anak terpikir membawa anak tetangga untuk bantu bantu dan kami gaji tapi ternyata pihak IPB menyediakan asisten untuk menghitung transaksi jadi team kami hanya saya, suami dan 2 anak. Pada hari kedua dapat bantuan tenaga, petani bunga rekanan kami membantu full day. Jadi hemat biaya asisten hehehe.

Hari H
Menurut panitia acara dibuka jam 8 pagi dan semua peserta pameran harus siap di stand sejak pukul 6. Sudah pasti kami tidak bisa on time karena baru tidur jam 2 pagi termasuk anak – anak, membangunkan anak – anak yang agak sulit antara mereka sulit bangun dan saya tidak tega banguninnya hahaha, dan seperti sudah diduga acara tidak benar – benar dimulai jam 8 pagi hehehhe.
Saat pembukaan pameran semua peserta harus memakai baju batik. Karena pemberitahuan memakai baju batik mendadak peserta dari daerah yang tidak membawa batik diperkenankan memakai baju bebas tapi sopan. Catatan buat panitia harus lebih detail soal acara.

Pameran dibuka Ibu Wakil Presiden Mufidah Yusuf Kalla
Saat acara pembukaan pameran tidak dibuka untuk umum dengan alasan keamanan. Setelah mengucapkan sepatah dua kata dan gunting pita, Ibu wakil negara  berkeliling stand pameran, stand yang disinggahi beliau stand – stand perwakilan daerah, ini sangat bisa dipahami hehehe.

Ibu wakil presiden Mufidah Yusuf Kalla (berkebaya puth kerudung ungu)
saat mengunjungi salah satu stand pameran

Acara ini juga dihadiri walikota Bogor yang ngehits, Alhamdulillah dapat kesempatan selfie sama beliau.

Si Kaka selfie sama Ibu wakil presiden, lha gimana ceritanya? Ceritanya Kaka ingin memberikan rangkaian bunga dan hampir tidak bisa karena pengawal Ibu wakil presiden banyak, saat udah pasrah eh Ibu  lewat samping stand kami, jadilah Kaka yang memang pede an (emaknya kalah kalau soal keberanian dan kepercayaan diri) memberikan rangkaian bunga vanda douglas.

Acara florikultura Indonesia 2017 diramaikan dengan lomba busana bertema bunga, merangkai bunga, pawai kendaraan hias, live musik, tidak ketinggalan door prize untuk mengunjung. 






Tiga dari puluhan peserta lomba busana anak dengan tema bunga 

Antusiasme Pengunjung
Walaupun niat pameran sekedar mencari pengalaman saya sempat mencereweti  panitia dengan pertanyaan soal keramaian acara di event tahun lalu. Ramai tidak? Apa banyaknay mengunjung sebanding dengan transaksi? Secara jualan bunga bukan seperti jualan makanan yang semua orang butuh, bunga bukan pula kebutuhan sekunder. Kasarnya, buat apa  beli bunga puluhan hingga ratusan ribu. Jadi yang membeli bunga uangnya sudah berlebih. Kalau pameran sepi pengunjung kan salting.

Tapi ternyata minat pengunjung diluar dugaan, hari pertama bunga yang kami bawa hampir ludes (atau karena kami bawanya sedikit) . Stok bunga di green house memang tidak kami bawa semua karena tidak muat di truk (kol buntung) yang kami sewa karena selain membawa bunga kami juga membawa dua rak.

Di hari pertama saya mendapat kunjungan special, teman – teman blogger pasti kenal blogger ngehits asal Bogor ini, Mba Arin Murtiyarini J

Hari ke 2
Hari kedua kami datang terlambat tapi untuk standnya sendiri sudah buka sejak pagi karena panitia pendamping sudah membukakan stand. Keterlambatan selain karena macet juga kami harus packing stok bunga yang akan dibawa.

Karena datang kesiangan beberapa teman yang menyempatkan diri datang tidak bisa saya temui, maaf ya mba Murti  dan mba Ratri, padahal pengen banget ketemu setelah sekian purnama tidak jumpa.

Alhamdulillah dapat kunjungan lagi dari teman yang juga sudah tidak asing di dunia blogger, siapakah dia? Benar, Melly Felyadin.


Hari kedua lebih ramai mengunjung dan Alhamdulillah jualan kami laris manis walaupun menjelang sore dagangan kami sale, yang penting habis, jadi truk dan mobil kosong. Nah di hari kedua ini saya bertemu beberapa Bu – Ibu yang nawarnya bikin saya tertawa sarkas, ceritanya akan saya tulis di lain post. Bu – ibu kalau uda nawar kadang kebangetan tapi saya tidak termasuk bu – ibu yang seperti itu ya hahaha.



Berjualan di pameran itu menyenangkan kalau ramai pengunjung dan ramai pembeli. 

Asisten Mama
Seperti Pak Suami bilang ikut pameran ini itung – itung cari pengalaman dan petualangan untuk anak – anak. Kakak full jadi asisten Mama, menyapu lantai stand, beres – beres dan membagikan kartu tana dan satu tangkai bunga pada semua pengunjung yang mampir ke stand kami. Cara ini ternyata cukup efektif lho, pengunjung yang asalnya terlihat cuma numpang lewat atau nanya basa – basi jadi beli hahaha.

we are team (plus Abi yang moto)

Bukan hanya Kaka yang antusias membantu Mama, adik tidak mau ketinggalan. Proud of you kids. btw, semoga jadi pengalaman dan ‘pelajaran’ tak terlupakan untuk mereka.


1 komentar:

  1. Wahhh menarik banget nih mba, bisa ikut pameran ya. Aku dulu gak sengaja pernah jadi oenjual tanaman daun. Dari kecil dirawat, gitu tumbuh besar dan cantik plus beranak pinak, bisa dapat duit. Sayang pindah rumah yg sekarang kecil. Gak bisa menyalurkan hobi lagi. Tanaman aja dulu aku bagi2, cuma bawa dikit

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...