Sabtu, 13 Mei 2017

Mesjid Agung Banten dan Keraton Surosuwan, Saksi Bisu Kejayaan Kesultanan Banten



Hari beranjak sore ketika saya, Pak suami dan anak-anak, sampai di pelantara parkir masjid Agung Banten. Perlu berputar-putar mencari tempat parkir karena bingung, ini tempat parkir atau area pasar. Kondisinya becek dan sesak dengan tenda-tenda pedagang yang tak rapih dan tak teratur. Ternyata tempat parkir dan area pedagang ditempat yang sama. Tidak kebayang kalau hari libur dan banyak pengunjung (kami kesana hari senin), cigana pabaliut. Dan tiba-tiba merasa menyayangkan karena terkesan kumuh, sementara di depan menjulang    masjid Agung Banten yang kokoh dan bersahaja.

Tentu saja saya mengerti keberadaan pedagang di tempat wisata tidak bisa dielakkan bahkan dibutuhkan dan  dapat menopang ekonomi warga sekitar tapi alangkah baiknya jika ditata sehingga rapih. Saya yakin pengunjung rela membayar uang parkir atau tiket masuk (jika kedepannya dikenakan tiket masuk) jika ditunjang fasilitas yang membuat nyaman pengunjung. 
Saat kami turun dari kendaraan tercium bau sampah yang menyengat. Sampah yang tercecer, bercampur tanah berlumpur dan air, komposisi yang pas untuk menghasikan bau. Jadi sedih, begini banget ya kondisinya, sungguh menyayangkan.
Tapi keadaan itu tidak membuat saya kapok kemari. Iya saya pengen kesini sekali lagi, agar bisa lebih lama melihat semua tempat bersejarah disini lebih detail. Buat apa? Karena saya suka hal berbau sejarah hehehe.
Sampai di selasar masjid, kami disambut dengan ramai oleh pedagang air mineral dan plastik untuk sandal. Penunggu kotak  sodaqoh tak mau ketinggalan.
Setelah melongok area jiarah dan makam keluarga kesultanan Banten, kami masuk ke masjid untuk sholat tahiyatul masjid.
Pintu depan berjumlah lima dan berukuran pendek
Kondisi dalam masjid langsung membuat suasana hati nyess. Berbeda dengan keadaan diluar yang hiruk pikuk dalam masjid lenggang, sangat lenggang.
Kekokohan masjid terlihat jelas, jika tak membaca sejarah saya tidak akan mengira usia masjid ini lebih 4 abad sejak didirikannya.

Mesjid Agung Banten
Mesjid Agung Banten adalah salah satu saksi bisu kejayaan Kesultanan Banten ratusan tahun silam. Dibangun pada masa awal berdirinya Kesultanan Banten oleh Sultan yang berkuasa saat itu yaitu Sultan Maulanan Hasanuddin, putra dari Sultan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) (1522-1970). Terletak sekitar 10 km dari kota Serang, untuk sampai lokasi ini sangat mudah baik jika menggunakan kendaraan pribadi maupun umum.
Lokasi Banten yang strategis yaitu  dipesisir dan merupakan salah satu pusat perdagangan di pulau Jawa, menjadikannya wilayah yang multi ethnis. Mungkin itu sebabnya atap dari masjid Agung Banten dipengaruhi arsitektur Cina dengan bentuk atap yang bertumpuk seperti pagoda. Menurut beberapa sumber masjid ini di arsiteki orang Cina bernama Tjek Ban Tjut.

Bagian dalam mesjid
Mesjid dilengapi dua serambi di sisi utara dan selatan bangunan utama. Keunikan lain arsitektur masjid Agung Banten adalah jumlah tiang penopangnya yang 24 yang melambangkan waktu dalam satu hari 24 jam, bentuk pintunya yang kecil dan pendek berjumlah lima menandakan rukun islam, sedangkan pintu yang dibuat pendek sehingga saat masuk kedalamnya kita harus membungkuk, sebagai penginggat bahwa kita harus merunduk di hadapan sang Pencipta.
Mesjid Agung Banten dilengkapi menara setinggi 24 meter dengan diameter bawah sekitar 10 meter, selain berfungsi sebagai tempat pengumandangkan Adzan, menara ini sempat berfungsi sebagai pengintai dan gudang senjata, saat Kesultanan Banten berselisih dengan VOC.

Keraton Surosowan
Tak jauh dari masjid Agung Banten terdapat Keraton Surosowan, dimana dulu para Sultan Banten tinggal dan berkuasa  tapi kini hanya menyisakan reruntuhan berselaput lumut dan rumput. Saksi bisu kejayaan Kesultanan Banten yang selama ratusan tahun berdiri dan tidak tunduk pada VOC pun setelah serangan meriam VOC menghancurkan sebagian keraton.  Pada masanya Kesultanan Banten adalah pusat perdagangan yang ramai dan mencapai puncak kejayaannya pada saat Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa. Kesultanan yang bukan hanya penguasai perniagaan juga dilengkapi armada perang yang cukup baik di jamannya, bahkan dapat pengupah orang Eropa sebagai pekerja.
Reruntuhan Keraton Surosowan

Belajar sejarah


Keraton dilengkapi tempat pemandian yang masih bisa kita lihat bekasnya berupa cekungan semacam kolam dengan tangga. 
Situs ini terbuka untuk umum tapi selalu dalam keadaan terkunci jadi jika ingin masuk ke dalam harus menghubungi petugas museum kepurbakalaan yang terletak disebrang bangunan. Saat kemari saya tidak sempat masuk museumnya karena kesorean. 
Konflik internalah yang kemudian berlahan tapi pasti meruntuhkan Kesultanan Banten, berawal dari perselisihan Sultan Ageng Tirtayasa (bertahta 1651-1682) dengan Sultan Haji putranya sendiri yang memilih bekerja sama dengan VOC. Politik adu domba dari VOC memperuncing konflik keduanya hingga meletus perang saudara.
Duh sedih banget ya. Politik adu domba ala VOC ini memang jurus paling manjur menghancurkan kerajaan-kerajaan di Indonesia pada waktu itu, hingga pecah perang saudara di beberapa kerajaan di Jawa dan membuat masyarakat dibodohi selama ratusan tahun. Kalau jaman sekarang yang mengadu domba berita hoax, isu yang dipolitisasi dan saling nyinyir pilihan politik di media sosial, terserah saya mau dibilang cocokmologi tapi adu domba ini memang efektif untuk meletupkan api.
Tahun 1808 HW Daendels memerintahkan penghancuran Istana Surosowan karena Sultan menolak perintah Daendels menyediakan tenaga kerja untuk membangunan Jalan Raya Pos (jadi keingetan pengen beli dan baca buku Jalan Raya Pos tulisan Pramoedya Ananta Toer) dan memindahkan ibu kota ke Anyer.

Boleh baca ; Cerita dibalik buku kolpri
Kesultanan Banten resmi dihapus tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris dengan dipaksanya  Sultan Muhammad turun tahta. 

Itulah sekelumit perjalanan liburan sekaligus belajar sejarah hari itu saya dan keluarga. Sangat berkesan dan berharap anak-anak ada bayangan saat saya membacakan eksiklopedi islam yang menyangkut kesultanan Banten. 


1 komentar:

  1. Wah asik banget mba bisa menelusuri sejarah ke tempatnya langsung

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...