Senin, 10 April 2017

Tiga Kisah Memesona


Kisah pada Suatu Hari
Pernah terpesona seseorang karena apa yang dilakukannya mengingatkanmu untuk melakukan kebaikan yang sama? Saya pernah, mungkin berkali-kali, yang membuat saya berpikir, mungkin ini cara Allah mengingatkan untuk saya melakukan kebaikan lebih banyak dan lebih sering pada siapapun, tanpa pandang bulu dan tanpa pamrih. Kebaikan yang mungkin nilainya tak seberapa bagi pemberinya tapi bagi penerimanya luar biasa. Seperti kejadian  yang saya alami hari sabtu kemarin, saat diburu waktu untuk segera memesan layanan angkutan umum online tiba-tiba sinyalnya on off,  cek quota masih banyak. Saya terus berusaha memesan angkutan online, berharap begitu klik pas ada sinyal. Kurang lebih selama 30 menit saya mencoba.Tapi yang terjadi malah muncul tulisan no internet connection, lalu tiba-tiba layar   handphone hitam. Akh, saya kehabisan baterai. Terpaksalah jalan kaki menuju ruas jalan besar yang jaraknya sekitar 500 meter dengan menenteng barang bawaan yang cukup berat.

Sampai di depan jalan raya saya berdiri menunggu angkot dengan pasrah. Ya pasrah karena lokasi saya di pinggiran kota dimana taksi jarang lalu lalang, angkot yang lewat hanya satu trayek dan itu pun suka lama atau penuh karena lebih suka ngetem di stasiun.


Menit menit berlalu, belum nampak juga angkot yang saya tunggu. Panas terik, debu beterbangan, melengkapi masa menunggu.  Tiba-tiba seorang yang saya taksir umurnya 20-an mendekat. Dari bajunya saya bisa menebak dia karyawan restoran yang tidak jauh dari tempat saya berdiri.
“Mau nyebrang, Bu?” tanyanya.
“Nggak, saya nunggu angkot .”
“Suka lama Bu.”
“Di sini nggak ada pangkalan ojek ya? Saya mau pesan ojek online tapi handphone mati.”
“Saya pesenin dari hp saya saja, Bu,” tawarnya sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya.
Lega sekaligus haru. Spontan harapan dan doa baik terbisik dalam hati untuk dia.

Kebaikannya sungguh menyentil saya. Selama ini saya merasa sombong dengan menganggap diri cukup baik dan peduli tapi  jika saya ada diposisinya, apakah saya akan peduli dengan sekitar atau sibuk dengan gadget, seperti yang kerap saya lakukan. Saat sendiri diperjalanan atau menunggu lebih sibuk dengan gadget daripada melihat kanan kiri. Padahal kepedulian dimulai dari hal kecil dan hal terdekat.

#MemesonaItu adalah ketika kita peduli pada sekitar, memulai kepedulian dari hal kecil dan terdekat. Dan saya  masih terus berproses untuk lebih peduli.

Kisah Ibu
Ibu saya seorang pedagang kue dan gorengan yang laris manis, tapi sudah beberapa tahun ini Ibu ‘pensiun’ alasannya karena memang sudah waktunya pensiun, Ibu sudah tua, semua anaknya Alhamdulillah sudah mandiri.  Pada jaman laris manisnya, sehari bisa menghabiskan 10 kg terigu untuk membuat penganan. Dari donat, bakwan udang, risoles, tahu isi dsb. Tugas  saya dan adik-adik waktu itu kepasar, ngiris sayuran untuk isian risoles dan mengantarkan ke warung-warung.

Walaupun laris manis, ada kalanya dagangan bersisa banyak bahkan sangat banyak. Pernah suatu kali (saya ingat betul) dagangan Ibu hanya laku 5 dari hampir seratus buah. Melihat Ibu begitu tegar, saya menahan tangis. “Belum rejekinya. Kalau belum rejeki dikejar dan ditangisi pun nggak akan dapat,” kata Ibu. Lalu  sisa jualan itu Ibu bagikan pada tetangga. Besoknya Ibu berjualan lagi seperti biasa.

Kalimat itu selalu terngiang-ngiang hingga sekarang. Kalimat yang menguatkan saya ketika rejeki yang sudah saya usahakan tidak datang atau hasilnya tak seberapa. “Kalau usaha pasti ada jalan.” Itu juga kalimat yang sering diucapkan Ibu, yang kini saya sadari kalimat yang sebenarnya untuk menguatkan dirinya dan membuat afirmasi positif.

#MemesonaItu adalah saat bisa ikhlas, berbagi dan tak menyerah menjemput rejeki. Kata ikhlas memang mudah diucapkan tapi implementasinya kadang sukar, terlebih jika menyangkut sesuatu yang harus kita lepaskan atau sesuatu yang kita harapkan tapi ternyata tidak dapat. Saya masih belajar ikhlas, tidak baper ketika rejeki yang rasanya hampir dimiliki ternyata bukan milik kita. Ikhlas saat harus kembali ikhtiar dan tidak menyerah.

Ibu memberi teladan agar perempuan berdaya, bukan semata karena materi, tapi supaya bisa lebih banyak berbagi.

me and my business

Kisah Buku
Ibu dan bapak saya tidak pernah membelikan buku selain buku pelajaran sekolah karena tak mampu. Beruntung saya bertemu Bu Purbo, perempuan setengah baya yang setiap sabtu minggu membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk kami anak-anak  kampung agar bisa meminjam buku-buku milik anaknya. Buku-buku yang melambungkan impian saya. Buku-buku yang membuat saya berani mewujudkan impian saya.

Saya menyukai buku, membaca dan mengoleksinya dengan susah payah. Saat kuliah nyambi memberi les privat hanya demi membeli buku yang saya sukai. Saya pelit meminjamkan buku. Saya menyayangi buku-buku saya. Tapi ingatan Bu Purbo membuat saya berpikir untuk berbagi inspirasi dengan buku. Berbagi impian agar anak-anak kampung (seperti saya saat kecil) bisa juga memiliki impian dan cita-cita besar. Merelakan buku-buku si kecil saya lecek, sobek bahkan tak kembali saat di pinjam anak-anak tetangga. Dengan harapan sebuah buku akan memberi keajaiban pada mereka.

#MemesonaItu adalah saat keberadaan kita bermanfaat minimal untuk lingkungan sekitar. Saya masih belajar dan berproses menjadi seperti itu.

Tampil #MemesonaItu
Tampil #MemesonaItu berarti menghadirkan hati, memesona di dalam (psikis) dan di luar (fisik). Bicara soal penampilan fisik saya selalu teringat kecerewetan Ibu soal kerapihan dan kebersihan. Rapih bukan berarti harus berpakaian bagus dan baru tapi terawat dan bersih. Ibu tidak mentolerir berpakaian sobek atau kancingnya lepas. Harus dijahit dulu baru dipakai. Begitu pun sepatu atau sandal kotor. Ibu akan ngomel-ngomel kalau melihat kami berpakaian asal dan dekil. Karena menurut Ibu berpakaian dekil dan asal bertanda mau dikasihani karena tidak mampu. Ibu paling tidak suka dikasihani, terutama karena keterbatasan materi.


#MemesonaItu secara fisik berarti tampil apa adanya namun rapih dan sopan.  

Itu Memesona versi saya, bagaimana dengan versimu Teman?


#MemesonaItu

6 komentar:

  1. Kisah-kisah inspiratif yg memesona. Soal buku...udah lama aku melupakan buku sejak baca dari gadget. Kangen buku lagi

    BalasHapus
  2. Kisah yang luar biasa. Sering banget diingatin sama suami ttg peduli sama sesama ini.

    BalasHapus
  3. mamahku pun cerewet urusan kerapihan anak2 perempuannya termasuk ke aku yg udah menikah dan punya anak ini, aku bersyukur selalu diingatin begitu

    BalasHapus
  4. betul mba, di saat ada org2 yg baik pada kita, kita pun akan terpesona pada kebaikannya. Maka jika ingin tampil memesona, berbuat baiklah walau hanya dgn tersenyum :)

    BalasHapus
  5. Memesona adalah saat Kerja Keras dan Pengabdian kita bisa memberikan manfaat seluasnya untuk Masyarakat, Bangsa dan Negara.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...