Jumat, 27 Januari 2017

Catatan 2016


Sedikit curcol, silahkan skip bagi yang tidak suka postingan curhat :D

Januari, masih belum terlambat donk ya kalau posting tentang 2016 dan harapan untuk tahun 2017. Bukan catatan semacam kalaedoskop ya teman hanya momen penting/berkesan yang saya alami di tahun 2016.


Suka duka 2016
Mom Blogger
Dalam per-blog-an, alhamdulillah tahun 2016 ada peningkatan menang lomba blog walaupun pemenang hiburan. Belum dapat nih hadiah cetar dari lomba blog *ngarep tapi usaha kurang maksimal*. Tapi lumayanlah jadi punya chopper dari hasil tukar voucher hadiah lomba blog, box mainan anak-anak, rak dinding dan sebagai.

Kepilih jadi mombassador SGM juga jadi bisa halan-halan ke Yogyakarta. Yang tertarik untuk ikut Temu Bunda SGM 2017, bisa baca tulisan Temu Bunda SGM 2016.

Mommy Life
Tahun 2016, mengawali kehidupan di tempat baru, setelah tiga tahun menggalau di Tangsel. Galau antara pindah lagi ke Bogor atau menetap di Tangsel (dengan resiko menjual rumah di Bogor). Pilihan yang dilematis dan pernah saya tulis di Living in the Village.

Saya lebih suka nyebut tinggal di Tangsel walaupun secara administratif masuk wilayah Kab. Bogor karena lebih deket ke Tangsel dan kalau bilang Gunung Sindur kesannya tinggal di gunung nun jauh di sana padahal gak ada gunungnya.

Tahun 2016, pertama adik masuk sekolah TK, Alhamdulillah tanpa drama di hari-hari pertama sekolah. Sejak hari pertama sekolah saya menunggunya di luar kelas (beberapa temannya ada yang menangis hingga harus ditemani dalam kelas) tapi jauh sebelumnya sudah diberi pengertan jika kelak sekolah memang harus masuk kelas tanpa Mama.

Tapi siapa sangka ternyata adik sebenarnya mengalami drama di minggu kedua sekolah, yaitu saat semua orang tua dilarang menunggu di sekolah.

Menjelang tidur siang tadi Adik saya bacakan buku seri Franklin yang berjudul Franklin Masuk Sekolah (yang sudah dibaca kesekian kalinya – sampai hapal kalimatnya), buku yang menceritakan kegelisahan Franklin ketika pertama kali masuk sekolah. Adik bilang, ”De pengen nangis waktu di  sekolah tapi ditahan. Kevin tuh Mah yang nangisnya kenceng banget. Kenzi juga mau nangis, terus nangis beneran. Di kelas jadi berisik.”
“Beneran Khalif mau nangis?”
“Iya tapi ditahan.”
Saya langsung memujinya. Sebelumnya dia tidak pernah cerita kalau hari – hari pertama sekolah membuatnya ingin menangis.

Di tahun 2016 juga saya mengawali karir baru sebagai pedagang bunga dan tanaman hias. AKhirnya tercapai cita-cita pengen wirausaha heuheu. Cita-cita yang hadir sejak saya punya anak. Ya,waktu masih kuliah sampai lulus, gak kepikiran punya wirausaha, pengennya kerja kantoran. Nah setelah punya anak, rasanya pengen di rumah ngurus anak terus dapat duit, selain duit dari Pak Suami maksudnya. Merasa leluasa memberi ortu kalau punya uang sendiri, bisa rutin pula.

Alhamdulillah sejauh ini usaha berjalan lancar malah diluar prediksi. Awalnya sekedar jualan bunga lalu ada permintaan mendekorasi sampai bikin buket anggrek bulan, diiyahin aja sekalian belajar. Dan memang tidak selalu mulus…

ready to deliver

Family Life
Hidup itu satu paket, ada suka ada duka. Berita duka tahun lalu adalah kabar Mbah Putri (nenek dari pihak Ibu) terserang stroke. Cukup membuat kaget karena selama ini mbah putri sehat kalau istilah sunda mah jajag waringkas. Tidak ada keluhan darah tinggi dsb. Memang beberapa bulan sebelumnya terdeteksi gula tapi masih terkendali dan mbah cukup disiplin mengikuti nasehat dokter.  Bahkan saat lebaran mbah putri  nampak segar bugar.

Stroke menyerangnya tiba-tiba, saat sedang memasak. setelah diperiksa di RS ternyata ada penyumbatan darah di beberapa titik. Setelah di pasang ring dan  terapi,  mbah putri kini sudah bisa duduk dan bicara.

Berita duka lain, Ibu yang mulai sakit-sakitan. Walaupun tidak sampai dirawat di RS tetap membuat saya melow. Ibu mulai terdeteksi kolesterol setelah sebelumnya asam urat. Ibu juga jadi lebih mudah kecapean. Padahal jika menilik usia, usia Ibu masih terbilang muda, 65 tahun.  Selain pola makan yang tidak sehat mungkin  efek masa muda Ibu yang diporsir kerja. Ibu bisa dibilang tulang punggung keluarga setelah Bapak berkali-kali gagal dengan wirausahanya. Kegagalan berkali-kali Bapak membuat sikap bapak pesimis dan skeptik. Beruntung Ibu cukup tangguh menghadapi situasi ini hingga kelima anaknya bisa tuntas sekolah sampai perguruan tinggi, kecuali si bungsu yang memilih langsung kerja.

Ibu menopang hidup kami dengan berjualan kue dan gorengan yang dititip di kantin sekolah dan warung, kami kelima anaknya terlibat aktif dari bagian ke pasar sampai antar mengantar ke warung. Ibu bangun pukul 2 pagi setiap hari lanjut dengan pekerjaan rumah. Tak heran kini fisik Ibu mudah lemah.*jadi sararedih*

Semoga Ibu selalu diberi kesehatan, sakitnya jadi penggugur dosa, dilapangkan rejekinya, diberi ketenangan dimasa tuanya, anak dan cucunya menjadi penyejuk mata dan hatinya.

Ampuni semua dosa Ibu ya Allah yang sengaja ataupun tidak sengaja. Jadikan setiap tetesan keringatnya saat menafkasi kami menjadi amal kebaikan dan penggugur dosa. Aamiin. Aamiin ya Allah. *kalau sudah begini suka berandai – andai . Andai saya tinggal satu kota sama Ibu.*

Minta doanya juga ya teman-teman dan semoga keluarga teman-teman juga selalu dalam keadaan baik dan sehat.


Semoga Allah selalu menjaga Mamah. Aamiin.

3 komentar:

  1. Tahun 2016, buat saya mah tahun gado-gado, Mak. Lomba gak banyak menang, da emang jarang ikutan. Keluarga Alhamdulillah anak-anak udah lebih mandiri. Hmmm.. apalagi ya? Move on aja deh untuk yang buruk-buruknya. Jadi yang lebh baik di tahun ini. Aamiin... :D

    BalasHapus
  2. Saya br tahu tentang usaha bunganya, keren :)

    BalasHapus
  3. Aamiiin Allahuma Aamiiin, ternyata bunda rina punya usaha bunga.
    Keren sukses terus ya bunda

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...