Senin, 19 Desember 2016

Dua Jam Jalan-Jalan di Yogyakarta

Disela kegiatan Mombassador SGM Eksplor 2016 saya kopdar  sama mba Wien, sobat di grup contesmania. Kopdar pertama saya dan mba Wien tahun 2013 ketika sama-sama menang lomba menulis Sariwangi yang berhadiah camping  di Sariater Subang, berlanjut ngobrol di grup WA hingga saat ini. Meminjam istilah mba Wien, kami memang memiliki kesamaan frekuensi, macam radio saja ya hahaha.



Bisa baca Cerita tentang Mombassador SGM Eksplor di Temu Bunda SGM 2016
Kalau saya merasa akrab walaupun jarang bertemu muka itu karena senyum dan tawanya mba Wien. Senyum sumringah dan sapaan ramahnya bikin lumer suasana hati yang galau hahaha. Mba Wien ini tipe orang yang easy going, semua dibawa happy, dan optimis, itu terpancar dari wajah dan senyum sumringahnya. Sempat khawatir tidak bisa kopdar sama mba Wien karena run down acara Mombasador belum juga saya terima sampai hari keberangkatak ke Yogya. Untunglah begitu sampai
Yogyakarta, di bis menuju Westlake Resort Hotel tempat peserta Mombasador menginap, kami dibagi selembaran run down acara. Alhamdulillah  jam 3 hingga jam 6 acara free karena peserta dari daerah lain belum datang.

Yang mau liburan ke Yogyakarta dan mencari penginapan, boleh intip review Westlake Resort Hotel di sini.

Jam 4 mba Wien dan suaminya Pak Jat menjemput saya dan mba Nining (peserta Mombasador yang ternyata teman mba Wien di kantor lama) di Westlike. Karena kami hanya punya waktu dua jam dan saya ingin jalan-jalan di Yogya, Mba Wien membawa saya ke Taman Sari dan Mesjid Agung Kotagede. 

Taman Sari Yogyakarta



Karena sore pintu masuk ke Taman Sari sudah tutup, tapi beberapa tempat dari komplek Taman Sari masih buka. Keliling komplek Taman Sari Yogyakarta bagi saya seperti berjalan di atas kepingan puzzle. 

situs Taman Sari diantara perkampungan
Dilanda penasaran seperti apa lanskap lengkap dari komplek Taman Sari Yogyakarta. Mungkin jika antar situs tidak ada perkampungan penduduk akan nampak jelas.  Menurut mba Wien karena kebaikan hati Sultan, tanah-tanah kosong di sekitar situs kini jadi perkampungan. Status tanahnya sendiri milik keraton jadi rumah yang dibangun di sini dilarang disewa atau diperjualbelikan.

Menurut artikel yang saya baca dari Wikipedia luas Taman Sari Yogyakarta   kurang lebih  10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatang gantung, kanal air maupun danau serta pulau buatan dan lorong bawah air. Taman Sari dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9.

Kami sampai di situs Pulo Kenongo dengan bangunan tinggi menjulang. Menurut artikel sejarah yang saya baca, Pulo Kenongo adalah pulau buatan yang dikelilingi danau buatan yang disebut Segaran. Danau itu kini sudah berubah menjadi perkampungan yang mengelilingi situs Pulo Kenongo.

abaikan kerumunan abegeh di belakang sana:)

Situs Sumur Gumuling dalam keadaan terkunci ketika kami kesana karena sudah tutup, menurut penduduk setempat jam kunjungan hanya sampai jam 4 sore. Saya hanya bisa mengintip lewat celah berjeruji. Sungguh membuat penasaran. Menurut mba Wien Sumur Gumuling adalah masjid yang dilengkapi semacam kolam untuk berwudhu. Pada zamannya, untuk sampai Sumur Gumuling harus melalui terowongan bawah air.

Terowongan bawah air adalah salah satu situs yang masih buka. Ini penampakannya;

pintu keluar

pintu masuk

salah satu situs di Pulo Kenango

Saya jadi berkhayal, membayangkan keluarga Keraton jaman itu menapaki jalan yang tengah kami susuri lengkap dengan pakaian kerajaannya. Membayangkan kemegahan Taman Sari pada jamannya, berdiri kokoh, sebagai bagian dari Istana.

Perjalanan kami lanjutkan ke Kotagede namun mampir dulu ke tempat yang konon merupakan tempat Sultan berburu Kijang. Dari atas bangunan Sultan melihat hewan buruannya, bagian bawah tempat hasil  hewan buruan.



Mesjid Agung Mataram Kotagede

Mesjid Agung Kotagede

Mesjid Agung Kotegede adalah masjid tertua di Yogyakarta, dibangun pada masa kerajaan Mataram sekitar tahun 1640 dan sampai saat ini mesjid masih digunakan untuk beribadah.  Nuansa Budha dan Hindu sangat terasa pada arsitektur mesjid Kotagede, terutama pada bentuk gapura. Menurut literatur yang saya baca, memasukkan unsur budaya Budha dan Hindu pada maesjid ini sebagai bentuk penghargaan Raja karena sebagian masyarakat setempat yang ikut membangun mesjid ini  beragama Budha dan Hindu. 

Gapura
Sedangkan bangunan mesjid sendiri berarsitektur jawa dengan bentuk limasan. Ciri bangunan limasan adalah atap berbentuk limas dan terdapat ruangan inti dan serambi.


komplek mesjid Agung Kotegede secara lengkap

Dikomplek masjid ini terdapat makan raja-raja Mataram. Sayang saya tidak bisa melihatnya karena sudah tutup. Jam menunjuk di angka 17.30 ketika saya sampai di sini. 

bagian dalam mesjid

Setelah puas berkeliling dan foto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke Sekar Kedaton. Dua jam yang sangat  berkesan dan menambah wawasan saya mengenai sejarah kota Yogyakarta. Terima kasih banyak mba Wien dan Pak Jat.

Mba Wien mengantar saya dan mba Nining ke Sekar Kedaton tempat acara pertama Mombasador dimulai. Peserta lain belum sampai ketika kami kesini. Jadi sembari menunggu yang lain kami puas-puasin berfoto. Resto ini instagramable banget, arsitektur dan desain interiornya bernuansa Jawa. 

Resto Sekar Kedaton

4 komentar:

  1. wuihh... asyiknya mba bisa ikut mombasador sgm. Bisa jln, bisa kopdaran, bisa refreshing hehehe... pengen banget ke taman sari yogya ini :)

    BalasHapus
  2. Sultan baik banget ya mak,aku belum pernah ke taman sari

    BalasHapus
  3. Jadi ini cerita dibalik kekuncinya diriku kemarin? buwhahaha...

    BalasHapus
  4. Kalau segaran atau danaunya masih ada, cakep kali yak. Sayang juga kalau udah jadi pemukiman seperti itu. Waktu terakhir ke Jogja ga mampir di sini. Padahal parkirnya ga jauh dari Taman Sari. Abisnya penuh, males. Seneng ya kalau berkunjung ke tempat2 sejarah begini

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...