Rabu, 07 Desember 2016

Impian - Impian Kecil yang Terwujud

Peringatan;  Postingan ini mengandung curcol

Assalamualaikum. Semangat pagi kawan.

Penghujung tahun. Merencanakan resolusi tahun depan? Saya tidak hahaha karena resolusi tahun depan masih menuntaskan resolusi tahun ini, resolusi tahun ini, menuntaskan resolusi tahun sebelumnya. Mungkin karena saya orangnya kurang keukeuh jadi walaupun udah ditulis impian dan resolusi, tetap saja melenceng. Saya tipe orang yang harus dipaksa. Dipaksa keadaan alias kepepet.


Itulah kelemahan saya kata Pak suami, makanya walaupun tidak bodoh prestasinya selalu biasa. Waktu jadi karyawan ya gitu-gitu aja jadi karyawan biasa. Jadi freelancer juga gitu, gak yang menonjol atau cetar. Dikritik suami baper? Saya tidak mungkin karena telah hidup bersama satu rumah satu tempat tidur, sama-sama tahu kekurangan masing-masing dan menerima hehehe. Dan Pak suami selalu punya cara membuat saya dalam keadaan kepepet hingga saya bisa melakukan sesuatu yang awalnya ditakutkan. Ya, saya tipe orang yang betah di zona nyaman.

Duh mau ngomongin apa sih ini.

Seperti judulnya mau ngomongin impian-impian kecil yang Alhamdulillah terwujud. dan untuk terwujudnya membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan hingga puluhan tahun.

Bike to kepepet
Bisa naik sepeda diusia menjelang 30 tahun.  Sebenarnya impian saya bisa naik sepeda sudah ada sejak kecil, terlebih saya fans berat seri semua buku petualangan anak Enid Blyton yang selalu menggambarkan tokohnya naik sepeda dengan setting pedesaan Inggris (semoga suatu saat bisa menjejak Inggris). Tapi apa daya, orang tua tidak mampu membelikan sepeda.

Jika minta macam-macam Ibu selalu bilang,”Udah bisa sekolah saja syukur.” Kalau udah begitu saya pasrah. Mau belajar pinjem teman juga takut. Takut rusak terus harus ganti. Melanjutkan mimpi bisa naik sepeda aja sambil baca buku Enid Blyton aja.

Setelah menikah saya membeli rumah (kpr maksudnya) di sebuah perumahan di Bogor dimana letak cluster tepat saya tinggal jaraknya sekitar 2km dari gerbang perumahan yang berhadapan langsung dengan jalan besar. Karena saya kerja otomatis tiap hari harus ngojek dari rumah ke depan perumahan. dan itu ternyata berat untuk keuangan kami. Maklumlah mulai nyicil rumah.

Jadilah saya  membeli sepeda bekas dan mulai belajar naik sepeda. Jadi transportasi dari rumah ke depan perumahan, naik sepeda lalu sepeda dititip di kantor marketing sebelum lanjut ke kantor dengan bis.

Jangan ditanya malunya belajar sepeda setelah jadi emak-emak. Pak satpam yang saban sore keliling cengar-cenger sambil menyemangi (tapi terasa diledek ) si mba pengasuh anak tetangga mesem-mesem, si kaka ketawa setiap melihat mamanya jatuh. Jatuh sampai paret, lebam dan keseleo. Akhirnya lulus bisa sepeda. Tapi perjuangan belum selesai. Sesuatu kalau kehujanan saat naik sepeda pulang ngantor. atau kemaleman karena lembur.

Setelah punya uang lebih kami membeli motor dan belajar motor. Alhamdulillah tercipta motor khusus perempuan (bodi kecil dan pendek) kalau tidak seumur-umur tidak bisa naik motor kayaknya karena kaki tidak sampai (dilema bertubuh mungil) . Belajar motor lebih menegangkan, pernah nabrak angkot (bukan diserempet angkot), hampir jatuh di genangan air dan malah ngegas jadilah si motor mencium Avanza. Ngeri-ngeri sedap lah apalagi jarak dari rumah ke kantor sekitar 15 km dan jalan yang dilalui jalan protokol kota Bogor yang ramai.

Finnaly impian bisa naik motor dan sepeda terwujud tanpa diduga. Impian bisa nyetir? Nunggu COP dari kantor paksu turun lagi hehehe.

Perpustakaan anak
Saya tidak akan pernah melupakan jasa seorang perempuan setengah baya yang merelakan buku koleksi keluarga dan anaknya dipinjamkan pada anak kampung macam saya puluhan tahun lalu. Cerita lengkapnya pernah saya tulis untuk lomba gado-gado majalah Femina tapi kalah.

Ini ceritanya Buku Bu Purbo

Sejak itu saya berkeinginan memiliki buku anak yang banyak untuk kemudian dipinjamkan secara cuma-cuma pada anak-anak yang tidak bisa membeli buku seperti saat saya masih kecil. Kenapa? Karena saya yakin buku bisa membuka wawasan si anak hingga berani bercita-cita. Alhamdulillah terwujud ketika kami tinggal disini (sebuah kampung pinggiran kota).

Ini cerita saya tinggal di tempat baru Living in the Village

Buku
Awalnya anak-anak sini terlihat kurang antusias dan  malu-malu seiring waktu mulai tak segan minta ijin pinjam atau sekedar baca ditempat.

Punya kendaraan roda empat
Tahun-tahun pertama nikah, saya dan suami suka ngobrol begini,”Kayaknya kita baru mampu beli kendaraan roda empat 10 tahun lagi kali ya atau lebih atau setelah kpr lunas.” Maklumlah walaupun saat itu kami sama-sama kerja, tanggungan kami lumayan. Ada Ibu suami yang semua pengeluarannya harus ditanggung suami secara penuh (resiko bersuamikan anak tunggal hahaha), saya harus bantu biaya adik-adik sekolah (resiko punya istri adiknya banyak hahaha).

Tapi Allah swt punya rencana tak terduga, tetiba Pak suami dapat tawaran kerja dari perusahaan mobil dan otomatis kami dapat COP (car ownership program). Jadi  ngerasain punya roda empat diusia empat tahun pernikahan itu sesuatu, walaupun mobil pinjaman kantor heuheu.

Hikmah untuk saya, genggamlah mimpi, berdoa dan berusaha lalu biarkan semesta menunjukkan jalannya.




1 komentar:

  1. impian ku masih ad ayang belum terwujud mbak, entahlah nanti tercapai apa enggak, tapi yang seperti dibilang Mbak Rina, sayapun percaya dengan kekuatan mimpi

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...