Rabu, 27 Januari 2016

Yuk menularkan minat baca

Buku di tanah air 

buku berpajak :(

Beberapa waktu lalu (lebih dari setahun) saya mengikuti gathering yang di adakan sebuah penerbit di mana buku saya  di terbitkan, dalam acara tersebut direktur utama penerbit berbicara mengenai perkembangan dunia penerbitan di tanah air. Penjelasan yang membuat saya mengerti kenapa saat ini tugas penulis  bukan hanya menulis tapi membantu mempromosikan buku/tulisannya.


Walaupun secara tidak tegas dikatakan ada  penurunan minat baca, namun data di penerbit menunjukkan fakta; dulu penerbit mencetak satu judul buku minimal 5000 eksemplar, tapi sudah beberapa tahun ini hanya 3000 itu pun menjualannya sulit, kecuali buku penulis yang memang sudah memiliki nama.

Apa karena orang berpindah ke ebook? Sepertinya tidak juga karena peningkatan penjualan atau jumlah orang yang mengunduh ebook masih rendah di banding pengguna gadget. Sebaliknya di beberapa negara maju, penurunan penjualan buku cetak di iringi penjualan atau pengunduh ebook, sebagai contoh peningkatan penjualan ebook di Amerika meningkat 30% (menurut data Amazon.com) seiring banyaknya pengguna gadget, sebaliknya di Indonesia masih di bawah 1%.

Angka cetak 3000 eksemplar untuk satu judul buku, menurut dirut penerbit  membuat sebuah penerbit di Korea tertawa karena jumlahnya dinilai terlalu  kecil di banding jumlah penduduk Indonesia.  Ehm, jangan heran ya jika negeri Ginseng ini mengalami kemajuan pesat, minat bacanya cukup tinggi dan kreatif menulis buku agar anak-anak suka baca salah satunya seri komik science yang judulnya ratusan dan terjemahannya membanjiri pasar tanah air, termasuk menjadi salah satu koleksi buku si kecil saya.

Perbandingan ini bukan semata mengagumi tapi semoga menjadi cermin, saat budaya baca harus bersaing dengan game dan media sosial, maka penulis, penerbit dan semua yang berkepentingan (termasuk orangtua)  di tuntut kreatif mengemas membaca buku/ebook menjadi sesuatu yang menarik dan fun terutama untuk anak-anak.

Buku sebagai parameter minat baca
Menurut standar Unicef, sebuah negara dianggap memiliki tingkat baca bagus bila 1 buku di baca oleh 5 orang. Bagaimana dengan di Indonesia?  1 buku di baca berapa orang? Tak perlu statistik menjlimet menurut saya, misal jika satu buku dicetak 3000 eksemplar dan menyasar pembaca perempuan usia 25-30 tahun yang kira-kira berjumlah 10 juta jiwa (data statistik dari BPS 2010 hasil googling), jika buku tersebut habis terjual berarti 1 buku di baca 33 orang.  Andaikan sasaran pembaca itu dikurangi setengahnya dengan pertimbangan akses dan daya beli, maka 1 buku di baca 16 orang.  

Kenapa buku/ebook jadi rujukan untuk menentukan minat baca? Sederhananya seperti ini;  membaca buku membutuhkan  effort khusus, hanya yang memiliki minat baca cukup yang mau membaca buku (dengan halaman puluhan) bandingkan dengan membaca majalah atau berita yang hanya sekitar 4 halaman untuk satu tema. Hanya yang memiliki minat baca cukup yang mau mengeluarkan uang untuk membeli buku atau usaha untuk meminjam entah ke perpustakaan atau teman.

Salah satu yang menyebabkan masyarakat di sebuah negara memiliki minat baca tinggi adalah dukungan pemerintah. Dari harga buku yang relatif murah, promosi, fasilitas (perpustakaan) dan kurikulum di sekolah.

Daripada menunggu pemerintah membuat kebijakan yang membuat masyarakat memiliki minat baca yang entah kapan karena pada kenyataannya buku tetap di kenai pajak, hanya buku agama dan sekolah yang bebas pajak, yang menyebabkan harga buku tinggi, mari tularkan minat baca mulai dari keluarga sendiri.

Menularkan minat baca pada lingkungan terdekat
Menularkan minat baca dapat dimulai pada  lingkungan keluarga, saya sendiri berusaha menularkannya pada anak-anak dan teman-temannya. Tapi menularkan minat  baca pada anak jaman sekarang butuh perjuangan lebih  karena  harus bersaing dengan game menarik di gadget dan tontonan.

Saya tahu anak-anak tidak mungkin di lepaskan dari gadget malah harus dikenalkan karena ini jamannya tapi saya percaya membekali mereka dengan pengetahuan dan hobi, salah satunya membaca,  membuat anak mampu mengendalikan diri (tidak addict gadgetan untuk game dan medsos) dan terbiasa menggunakan gadget untuk membaca (ebook) saat mereka memiliki gadget sendiri kelak.

Menurut saya minat baca masyarakat Indonesia tidak akan mengalami kenaikan berarti jika anak-anak sekarang  lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget tanpa dibekali minat baca, karena walaupun seharusnya gadget menunjang membaca (ebook atau interactive children book), anak lebih lebih tertarik dengan gamesnya.  

Batasi penggunaan gadget dan menonton
Jadi trik pertama dan utama saya untuk menumbuhkan (sedikit memaksa) minat baca anak-anak adalah dengan meminimalkan menonton dan penggunaan gadget – mumpung mereka belum minta gadget dan belum tahu ‘seru’nya dunia medsos J.

Anak-anak  tidak saya kenalkan pada tv tapi cd atau dvd khusus anak atau film anak-anak dengan jam menonton di batasi. Resikonya saya pun jadi tidak nonton tv. Saya pun tidak memberikan anak-anak gadget khusus. Game edukatif saya simpan di laptop, menonton youtube yang berisi lagu anak edukatif hanya di laptop dan dengan pengawasan saya.

 “Ma, waktu kecil mama suka baca buku gak?” tanya si sulung beberapa waktu lalu.
“Suka, baca buku itu seru!”
“Aku juga sekarang suka baca buku.”
Memang sudah beberapa bulan ini Kaka  mau membaca buku sendiri, bahkan kadang menukar jam tidur siangnya dengan membaca buku tanpa di minta. Awalnya  karena terpaksa daripada menunggu saya membacakan buku untuk adiknya dulu. Walaupun sudah bisa baca sejak kelas 1 tetap harus di bacakan Mama, sampai sekarang terutama di malam hari.

Ehm, apakah ini artinya misi saya membuat anak-anak suka baca buku berhasil? Belum, karena beberapa tahun mendatang tantangannya makin berat yaitu jika anak-anak sudah mulai ingin memiliki gadget sendiri lalu kenal media sosial.


Selain membatasi interaksi anak-anak dengan tontonan dan gadget saya melakukan hal berikut untuk terus memupuk minat bacanya;

Menetapkan jadwal membaca  
Saya menjadwalkan membacakan buku pada anak-anak saat menjelang tidur, yaitu tidur siang dan malam hari (setelah berdoa). Jika pun anak-anak menolak tidur siang saya tetap membawa mereka ke tempat tidur dan mengatakan ini jadwalnya baca buku.

Saya tidak membatasi buku yang dibacakan tapi biasanya 3 buku mereka sudah terlelap, kalau mereka belum juga tidur setelah sekian buku dibacakan, saya yang menghentikan karena mulut sudah pegal hahaha.

Gadget for ebook/interactive children book
Pada beberapa kesempatan membacakan buku melalui gadget yaitu ebook atau interactive children book, dengan begitu anak tahu bahwa membaca buku bisa melalui gadget.

Buku di sela aktivitas main
Karena interaksi anak-anak dengan gadget dan tv sedikit, saya bisa leluasa membacakan atau sekedar menerangkan isi buku di sela waktu mereka bermain. Ini biasanya saya lakukan pada si bungsu yang belum sekolah, karena belum ada aktivitas rutin.

Beberapa buku jadi rujukan ide main seperti buku mister maker, buku origami dan komik science. Misalnya, saya mengajak mereka membuka buku komik science lalu mengajak mereka menemukan bukti yang tertulis di sana. Misal mencari bunga lalu menunjukkan bagian-bagiannya seperti yang tertulis di buku.

Dimana-mana buku
Membuat suasana rumah suka buku, caranya letakkan buku ditempat yang mudah terlihat dan terjangkau anak-anak. Rutin membacakan buku dan menjadi contoh suka baca dengan membaca buku saat waktu luang.

Karena suasana penuh buku ini pula yang membuat teman-teman si kecil saat ke rumah pasti membuka-buka buku.

Kunjungan rutin  ke Tokbuk
Merutinkan kunjungan ke toko buku  dan tak harus toko buku besar lho, saya sering mengajak anak-anak ke lapak atau kios buku bekas, kalau beruntung ada juga buku anak dengan harga miring. Anak-anak juga jadi terbiasa dan tahu bahwa membeli buku tak harus baru dan tak harus di toko buku berAC.

memilih buku di tokbuk bekas 
Membuat acara hunting  sale buku anak seru. Jika ada sale kami memperbolehkan anak-anak memilih   buku  sesukanya. Oh ya walaupun tidak rutin saya selalu mengajak anak-anak jika ke pameran buku

Berbagi buku dan buku sebagai hadiah
Setiap kali Kaka di undang ke acara ulang tahun temannya saya selalu menghadiahi temannya buku. Dan saat sale membeli buku lebih untuk di berikan Kaka pada saudara sebaya.

Hipnosis dan sugesti, ini  menurut saya tidak kalah penting. Menanamkan pada anak  jika kebiasaan membaca bagus dan sangat berguna bagi mereka untuk saat ini dan nanti.

No excuse
Tidak memiliki buku, tidak memiliki uang untuk membeli buku, menurut saya bukan alasan untuk tidak baca buku, pengalaman tidak punya buku dan tidak mampu membeli buku tapi bisa menikmati banyak buku (waktu kecil) sampai terobsesi bisa memiliki buku tertentu (beberapa tercapai) pernah saya tulis di sini beberapa bulan lalu.

Intinya tinggal pinjem, dulu andalannya cuma perpustakaan milik pemerintah sekarang ada gadget, banyak lho ebook gratisan.

Salah satu orang yang  membuat saya membaca banyak buku hingga menginspirasi untuk berani bermimpi dan  ingin memiliki perpustakaan buku anak gratis, pernah di tulis di sini (tulisan untuk lomba gado-gado femina tapi kalah ;p).  Iya, saya suka ngomongin buku karena suka.

Ini buku koleksi keluarga saya termasuk di dalamnya buku-buku dari Penerbit Buku Perempuan , Stiletto.

ruang baca dan main
Karena rak tak muat jadi sebagian di simpan di box dan keranjang. Buku anak-anak di simpan di rak paling bawah.

Ini sebagian buku koleksi Stiletto Book, buku lainnya lupa di sebelah mana menyimpannya.



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Ultah ke 5 Penerbit Buku Perempuan Stiletto



rina susanti
twitter @rinasusanti
instagram @t_rinasusanti
email rina_fam@yahoo.com

2 komentar:

  1. hebat mbak, membina anak-anak minat baca mmg harus diajak terjun langsung ya :-)
    good luck

    BalasHapus
  2. Rina keren,pgn nerapin jg k ank2ku, beli2 buku lumayan tp pas bc nya suka mendadak lupa,di rmh ada 10 buku baru yg blm dibaca,parah,mdh2an habis ini jd semangat

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...