Jumat, 08 Januari 2016

Ngaliwet* di Dusun Bambu Family Leisure Park

Ke Lembang ya macet


ngaliwet di saung purbasri

*liwet adalah olahan nasi khas sunda yang di masak dengan cara, beras di masak bersama bumbu rempah yaitu bawang merah, bawang putih, daun salam, laos, biasa  ditambahkan juga ikan teri, irisan cabe rawit, daun bawang, lalu di masak dalam panci bulat bernama kastrol.

Lembang selalu menjadi tujuan wisata favorit di Bandung. Walaupun untuk bisa sampai ke sana terutama di musim libur lebaran atau akhir tahun, harus bermacet-macetan selama berjam-jam. Dan sepertinya orang tidak kapok dengan kemacetan itu.

Termasuk saya? Ehm, nggak juga sih, kalau ke Lembang di musim liburan saya berusaha tidak kesana saat puncaknya macet dan mencari jalan alternatif yang sekiranya tidak diketahui para wisatawan luar Bandung – walaupun tetap ya jalur alternatif ini macet tapi mendingan lah daripada lewat jalan setiabudi.

Apa sih yang menarik di Lembang? Konsep yang di tawarkan restorannya yang tidak sekedar makan, sebut saja misalnya Floating Market, D’Ranch, Rumah Strobery dan sebagainya dengan bonus udaranya yang segar, karena Lembang terletak di kaki gunung Tangkuban Perahu.


Awalnya ragu saat diputuskan makan siang di Lembang tepatnya Dusun Bambu sebelum berendam di Ciater.
“Macet gak?”
“Ya, macet da usumna,  nikmati we lah,” jawab adik saya pake bahasa sunda. Jadi ini ceritanya big family trip.

Masuk jalan Setiabudi mulai macet, kami mencoba jalur alternatif via geger kalong hilir, alhmadulillah tidak macet, kemacetan baru terasa setelah masuk jalan Kolonel Masturi melewati Curug Cimahi dan kemacetan itu ternyata di sebabkan kendaraan yang  keluar masuk Dusun Bambu, yang tepatnya terletak di Jl.Kertawangi (komplek komando) Cisarua Bandung Barat.

Ini pertama kali kunjungan saya ke Dusun Bambu dan lumayan surprise dengan luasnya area ini - diperkirakan katanya sekitar 15 hektar. Nama – nama tempat di sini menggunakan nama dan istilah dalam Legenda Sunda, seperti Saung Purbasari untuk restoran sunda, cafe Burangrang untuk Cafe, Lutung Kasarung untuk jempatan yang cukup panjang membentang di area ini dan lain sebagainya.

Karena  liburan, pengunjung membludak, agak kurang nyaman jadinya tapi ya di nikmati saja, karena setelah jadi perantauan di Tangsel, kesempatan saya ke Bandung hanya saat liburan seperti ini. Oh ya masuk ke area ini dikenakan tiket selain tiket parkir. Potongan tiket bisa di tukar dengan air mineral saat pulang (di pintu keluar).

Dari pintu masuk ke area tersedia angkot, tapi jalan kaki juga deket malah asik karena melewati pematang sawah,  pengalaman langka  lho terutama untuk  anak-anak yang lahir dan besar di kota.


asa waraas, kalau istilah sunda na mah :)

Waiting List 2 jam untuk  maksi
Setelah diskusi di putuskan kami makan di Saung Purbasari   dan ternyata harus waiting list 2 jam karena pengunjung penuh.

Setelah bermacet-macetan dan menahan lapar harus menunggu 2 jam? Tapi pilihan ke Cafe Burangrang kurang mewakili lidah yang kami yang orang sunda, kecuali para mantu hehehe.

Ngemil di jajan khatulistiwa dan main di playground
Jadilah kami menunggu 2 jam tapi tanpa menahan lapar donk karena ada deretan Jajanan Khatulistiwa (semacam food court) dan sesuai namanya pilihan makanan di sini banyak dan beraneka ragam, sampai saya bingung karena maunya banyak. Mau nyoba batagor, pempek, sate,  mie ayam, siomay...Oh ya untuk bisa jajan di sini, kita harus menggunakan kupon dengan kelipatan 2500. Jadi uang kita tukarkan dengan kupon jajan.

aneka jajanan yang asli bikin ngiler  dan banyak pilihan 
Bersebelahan dengan area Jajanan  ini ada 2  tempat main anak-anak, yaitu  play ground dan Rabbit Wonderland.
Area playground

area playground

rabbit wonderlan, bisa memberi makan kelinci dan ada labirin 

Sayangnya area permaian anak ini tidak beratap jadi cukup panas jika siang hari, di tambah rumput yang menjadi alasnya rumput sintetik, jadi rekomendasi saya jika berkunjung ke sini dengan anak-anak sebaiknya pagi atau sore, membawa bawa kaos kaki dan baju ganti.

Menunggu dua jam tidak terasa tapi cukup terasa di dompet hahaha....ya selain membeli jajanan juga tiket untuk masuk ke area permaianan ini, sebesar 50 ribu per anak.

Tapi bagi saya wort it lah, karena permainan di play groud cukup banyak, bervariasi dan tidak dibatasi waktu. Anak-anak terlihat antusias dan happy.

Ngaliwet di Saung Purbasari
Seperti judulnya, restoran yang menyajikan masakan sunda ini berupa saung-saung dengan view belakang adalah danau buatan. Dan kami di beri waktu dua jam untuk makan di sini, karena pengunjung membludak.


resto sunda ini terdiri dari beberapa saung 

saung-saung di tepi  danau 

view dari saung 


dalam saung 
Oh ya untuk bisa reservasi di tempat ini minimal transaksi 150 ribu yang merupakan paket nasi liwet untuk 6 orang. Jangan salah hitung ya itu untuk nasi liwet dan sedikit temannya hehehe. Jadi kalau untuk enam orang harga perorangnya standar restoran lah ya dan tergantung menu.

Menunya khas sunda banget, pepes asin peda, karedok, lalap sayur mentah, sambal, sayur asem, ayam goreng, gepuk goreng, krupuk aci, bacem tempe goreng dsb.

Nasi liwetnya bikin saya jatuh hati, berempah, gurih dan agak pedas. Kalau Ibu saya suka pepes pedanya :).


penampakan dengan menu belum lengkap dan belum nambah :D
nasi liwet

Pengannya foto-foto ala food fotograpi dulu sebelum di makan  tapi dikomplain keluarga dikiranya mau pamer di sosmed padahal mau buat review di blog heuheu.

Naik Sampan Sangkuriang
Setelah makan, santai di belakang saung yang langsung berhadapan dengan  danau buatan sekaligus kolam ikan. Anak-anak antusias memberi makan ikan. Ongkos naik sampan di hitung perorang sebesar 10 ribu rupiah.

sampan sangkuriang

rehat setelah makan
Sekali kunjungan rasanya tak cukup untuk menjelajah area taman, permainan  dan mencicipi banyak kuliner yang di tawarkan di sini. Saya masih penasaran ingin berjalan di Jembatan Lutung Kasarung, anak-anak masih penasaran masuk Taman Rabit, Ibu saya pengen lagi pepes pedanya,

penampakan jembatan Lutung Kasarung
Selfie di Taman Bunga
Untuk yang suka selfie, jangan lewatkan berfoto dengan latar belakang bunga-bunga yang cantik, tak usah khawatir merusak bunganya karena tersedia jalan setapak yang memisahkan deretan-deretan bunga cantik ini

selfie di taman bunga

Tersedia Penginapan berupa villa dan camping ground
Dusun Bambu juga menawarkan penginapan berupa vila dengan bangunan dari kayu dengan nama Kampung Layung dan area camping ground dengan istilah Sayang Heulang. Selengkapnya bisa di intip si situsnya Dusunbambu.com

Pengennya nginep di sini tapi berhubung kebanyakan peserta trip (adik-adik dan bapak) ingin merendam di air panas dan pak suami juga sudah menunggu di Ciater (meeting point - karena pak suami akhir tahun tetap kerja) kami melanjutkan perjalanan menuju Ciater Subang, tujuan bigfamilytrip selanjutnya.



noted;
semua foto dalam postingan ini dalah koleksi pribadi dan adik2 saya 

3 komentar:

  1. Penantian 2 jam mah ngga terasa kalau udah makan empek2 dua porsi ya, Mbak. Hahaha

    Asyik tempatnya.

    BalasHapus
  2. cakeeep tempatnya ya mbaa, pengen coba ah kalau main ke bandung, diusahakan jangan pas wiken kali yaaak

    BalasHapus
  3. maksimal 150 ribu atau minimal, Mbak? Berarti kalau order lebih dari 150 ribu gak boleh, ya?

    Pengen banget kesana. Tapi, kayaknya saya gak pengen wiken. Males penuhnya :D

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...