Selasa, 29 Desember 2015

SANLAT alternatif pengisi liburan sekolah

suasana

Seingat saya sanlat untuk anak sekolah (pesantren kilat selama 4 hari 3 malam – kegiatan belajar dan bermain berbasis agama dan dikemas sesuai usia anak) yang di adakan di Daarut Tauhid (DT) sudah ada sejak saya masih kuliah, dan selain DT  majelis Percikan Iman asuhan ust. Aam Amirudin juga rutin mengadakan, tapi untuk saat ini saya kurang tahu apa Majelis Percikan Iman masih mengadakan sanlat atau tidak. Lebih detail mengenai program kegiatannya bisa di lihat di www.sanlatmq.com.

Selain akhir tahun sanlat ini juga di adakan saat liburan sekolah menjelang Idhul Fitri, di sebutnya sanlat ramadhan.

Sanlat serupa tentunya tidak hanya ada di Bandung juga di kota lain dan bukan hanya majelis Daarut Tauhid yang mengadakan. Untuk Daarut Tauhid selain di Bandung diadakan juga di Jakarta.


Sejak ada sanlat itu  saya punya obsesi kecil, kalau punya anak mau diikutkan Sanlat. Membayangkan keseruannya bertemu teman baru, melakukan kegiatan baru dan tentu saja mendapat banyak pengalaman dan ilmu baru – teringat khayalan masa kecil, membayangkan keseruan  petualangan  dan sekolah asrama ala buku Enid Blyton.

Tapi setelah punya anak, misi saya mengikutsertakan anak sanlat bertambah, bukan sekedar petualangan tapi menambah wawasan agama dengan cara baru, kalau di analogikan secara sederhana seperti mengikutsertakan anak dalam wisata rohani tapi di sini anak tidak hanya melihat kegiatan rohani  tapi melakukan.

Seiring waktu saya lupa keinginan itu sampai tahun lalu melihat postingan foto saudara yang anaknya ikut sanlat di sana. Waktu saya tanya ternyata sanlat untuk anak mulai kelas 4 SD. Wah harus sabar menunggu 3 tahun lagi donk pikir saya.

Sampai beberapa minggu lalu teman grup kuliah memposting leaflet info sanlat dan ternyata ada untuk anak kelas 1, 2 dan 3 SD, bedanya dengan kelas 4 SD keatas, termasuk SMP dan SMA, sanlat untuk SD123 diadakan dan menginap  di sekitar mesjid Daarut Tauhid sedangkan kelas 4 SD ke atas di laksanakan outdoor (semacam camping) di Lembang.

Alhamdulillah keinginan ini di acc pak suami. Liburan ke pantai pun batal, tapi rela dan ikhlas, malah senang akhirnya Kaka ikut sanlat.

Memang anaknya mau ikut sanlat?
Saya berani menawari Kaka ikut sanlat karena melihat Kaka cukup mandiri mengurus dirinya sendiri, mudah berinteraksi dengan orang baru  dan tidak cengeng. Beda jauh lah sama saya saat seusianya yang masih cengeng dan Mama mainded hahaha.

Awalnya  Kaka menolak tawaran ikut sanlat walaupun sudah diterangkan apa dan bagaimana sanlat. Alasannya, tidak ada teman dan takut.

Alasan yang wajar dan saya yakin, banyak anak akan menolak dengan alasan yang sama. Tapi ada beberapa hal yang menurut saya kita sebagai orangtua harus memaksakan kehendak pada anak selama itu merupakan kebaikan tapi  dengan cara tanpa pemaksaan. Terlebih kehendak itu sebenarnya akan menyenangkan si anak tapi anak tidak mau mencoba karena takut. Dipaksa dengan cara diplomatis tentunya.

Dipaksa tapi tanpa pemaksaan, gimana caranya?
Saya dan suami memberi pengertian dan sedikit bayangan seperti apa dan bagaimana sanlat serta   keseruannya. Bertemu teman baru, Kakak pembimbing, pengalaman dan ilmu baru. Saya analogikan dengan buku petualangan science yang suka Kaka baca. Bukan kebetulan Kaka juga suka berkhayal mengalami petualangan seperti buku yang di bacanya itu.

Saya yakinkan Kaka ikut sanlat aman, karena jika ada apa-apa dia tinggal minta Kakak pembimbingnya telepon kami.  Alhamdulillah akhirnya Kaka bersedia ikut sanlat dengan senang hati.

Time to packing 
Membawa keperluan untuk kegiatan selama  4 hari 3 malam ternyata banyak juga. Baju muslim anak empat stel termasuk yang di pakai, baju  tidur, plastik untuk pakaian kotor, sandal jepit, sepatu karena ada acara outing, alqur’an, sajadah, alat tulis, minyak kayu putih, sisir, sapu tangan dan daleman.

Untuk memudahkan ganti baju, saya susun pakaian berikut dalemannya dalam satu lipatan, dan memberi tahu setiap  pakaian untuk dipakai hari apa. Karena khawatir celana panjang yang hanya bawa satu di pakai di hari yang bukan waktunya outing.

Packing ternyata membuat saya gelisah dan deg-deg an dasar ya Mama lebay. Anaknya tidur nyenyak dan tidak mikiran apa-apa, Mamanya yang tidak bisa tidur.

Go to Sanlat
Pendaftaran sanlat tidak pake ribet tinggal telepon untuk informasi detail lalu transfer biaya investasinya setelah konfirmasi, panitia akan mengirimkan form isian via WA.

Saat hari H dilakukan registrasi ulang. Registrasi tidak dilakukan di komplek masjid Daarut Tauhid tapi di SECAPA AD, komplek kantor militer angkatan darat yang terletak tak jauh dari DT. Area parkir yang luas sehingga tidak membuat macet.

Ini foto suasana saat registrasi ulang.  Registrasinya simple hanya menunjukkan bukti transfer dan mendata nama anak dan no telepon orangtua. Mengantri tapi tidak lama.

registrasi 

Perasaan saya antara antusias dan khawatir saat harus meninggalkan Kaka. Ternyata tidak mudah melepas anak belajar mandiri secara penuh. Atau saya Mama yang lebay hahaha, kasian anak, terlalu mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti, tidak ganti kerudung dan kaus kaki, tidak memasukkan baju kotor ke kantung plastik yang sudah di siapkan, lupa menyimpan kayu putih dsb.

memberi sedikit pesan untuk Kaka


teman sekelompok, baru kenalan
Investasi untuk sanlat SD kelas 123 sebesar 800 ribu rupiah, untuk peserta yang berdomisili di Jakarta panitia menyediakan jasa antar jemput investasinya jadi sebesar 1,2 juta (termasuk ongkos antar jemput anak).

Komunikasi panitia dan orangtua via grup WA
Saya membayangkan saat pertama kali sanlat untuk anak sekolah ini diadakan - saat komunikasi masih terbatas melalui telepon, pasti para orangtua was-was dan gelisah karena pengen update, kegiatan dan kondisi anak. Untuk yang berdomisili di Bandung mungkin tinggal mengintip tapi yang tinggal di luar kota? Duh pasti deg-deg an dan tidak sabar ya bertemu dan mendengarkan cerita si kecil tentang sanlatnya.

Jaman sekarang sudah ada WA, jadi panitia membuat grup WA untuk orangtua peserta sanlat, sehingga orangtua dan panitia bisa berinteraksi langsung dengan orangtua peserta serta mengirimkan foto kegiatan anak tapi ternyata oh ternyata tetap saja ya para Mama ini kepo dan rempong hahaha. Tidak sabar menunggu update kegiatan, foto anak-anak dan minta foto ini itu.

Ehm, jadi tidak sabar menunggu Kaka menceritakan secara langsung pengalaman sanlatnya. Mau tahu juga seperti apa keseruan sanlat anak SD dari foto yang di kirim panitia, curhat mama-mama di grup WA dan cerita langsung dari Kaka? Simak di postingan selanjutnya ya. Siapa tahu jadi rekomendasi untuk mengikutsertakan si kecil sanlat tahun depan.

seperti apa keseruan SANLAT Kaka? Intip postingan Nano-Nano Cerita SANLAT SD123

12 komentar:

  1. Allhamdulillah masih ada kegiatan seperti ini, waktu jaman aku kecil suka ikutan juga nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya biarliburannya ga nonton dan gadgetan melulu ini...

      Hapus
  2. liburan yang produktif ini mah, tetep dapet ilmu tapi anak2 juga seneng ya mak :)

    BalasHapus
  3. Wah kaka hebat... untung ada wa yah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada wa ..emaknya yang rempong heheh

      Hapus
  4. Balasan
    1. Kaka sok ngayal petualangan hehehe

      Hapus
  5. kegiatan positif asal harus kreatif agar anak suka

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah di kemas kreatif jd anak-anak senang malah ingin lagi

      Hapus
  6. Pengin mendaftarkan Sidqi ikut Sanlat juga mak :)

    bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...