Senin, 13 Juli 2015

Mitos dan Fakta Hidrasi di Bulan Puasa

berbuka dengan air putih

Setelah dewasa saya baru paham kecerewetan ibu soal minum air putih sebanyak 8 gelas sehari. Dengan ekspresi dan intonasi suaranya yang khas ibu selalu bilang,”Loba nginum supaya
 sehat.”

Dan Ibu selalu memastikan kami minum air putih setelah makan apapun hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Kepahaman yang membuat saya melakukan hal yang sama pada anak-anak.  
Tahun ini adalah ramadhan kedua Kaka (7 y) belajar puasa, dan saat sahur adalah saat tersulit membuatnya mau makan dan minum cukup karena rasa kantuk yang enggan dia lawan.
“Habiskan minumnya,” pinta saya seraya menyodorkan segelas air putih.
“Tadi kan udah.”
“Baru seteguk. Harus minum banyak air putih.”




Kenapa harus minum air putih banyak, sekarang kan puasa?
Kaka mengira karena puasa minum air putih juga berkurang seperti halnya makan yang di kurangi dari sehari 3 kali menjadi dua kali.

Faktanya, kebutuhan air saat puasa atau pun tidak sama, yaitu 8 gelas sehari karena 50-70% tubuh manusia adalah air. Air  tersebar dalam tubuh dan organ tubuh, sebagai contoh, darah mengandung 85% cairan, 80% otak adalah cairan dan sel terdiri dari 90% cairan, begitu pun organ tubuh yang lain. Air dalam tubuh juga berfungsi dalam proses metabolisme sel dan pencernaan.

Kuantitas air dalam tubuh harus di jaga keseimbangannya, itu sebabnya walaupun sedang puasa air yang di butuhkan tubuh sama dengan saat tidak puasa, yaitu sebanyak 8 gelas.
Tapi karena puasa, pemenuhan 8 gelas sehari dilakukan 2 gelas saat sahur, 2 gelas saat berbuka dan 4 gelas di malam hari.

Dari manakah angka 8 gelas sehari di peroleh?
Delapan gelas sehari setara dengan 2L. Angka 2L di patok sebagai kebutuhan tubuh akan air di dapatkan berdasarkan sebuah penelitian bahwa tubuh kita kehilangan cairan sekitar 1.5L setiap hari melalui pernafasan, keringat, buang air besar dan kecil. makanan yang kita konsumsi (sayuran, buah dan lauk pauk) diperkirakan menyumbang 20% dari cairan tubuh yang di butuhkan.

Bolehkah Minum Kopi Saat Berbuka Puasa?
“Ma, siapin kopi!” Kalau pak suami bilang seperti itu saya langsung teringat Bapak saya. Iya karena bapak saya pun kerap bilang seperti itu menjelang berbuka puasa.

Alih – alih menyiapkan kopi, Ibu malah menyodorkan segelas air putih dan saya melakukan hal yang sama dengan Ibu. Saya selalu meminta anak-anak dan pak suami berbuka dengan segelas air putih dulu.

Faktanya, Air putih merupakan cairan alami untuk menghidrasi tubuh karena tidak mengandung pemanis, pewarna atau pengawet. Mengkonsumsi air putih saat berbuka puasa dapat mengembalikan energi dan cairan yang hilang selama seharian berpuasa. Selain itu asupan air putih saat berbuka puasa berperan besar dalam mendorong pelaksanaan fungsi tubuh dengan baik, seperti melancarkan sistem pencernaan, memberikan energi, dan melindungi jaringan – jaringan tubuh yang sensitif.

Alasan jangan berbuka puasa dengan segelas kopi
Pertama, kafein yang terdapat dalam kopi dapat menyebabkan sakit maag pada perut yang kosong.

Kedua, kafein adalah zat yang bersifat diuretik atau pemicu buang air kecil. Artinya, jika kita meminum secangkir kopi kandungan airnya memang dapat menghidrasi tapi akan cepat di keluarkan kembali melalui buang air kecil. Karena kafein bersifat memicu buang air kecil, keinginan buang air kecil akan lebih sering di bandingkan cairan yang kita minum, otomatis cairan yang di keluarkan lebih banyak dari yang diminum.

Bukan berarti saat buka puasa tidak boleh meminum kopi lho, terutama untuk Anda penggemar kopi, hanya saja waktunya yang di rubah. Sebaiknya kopi di konsumsi dua jam setelah berbuka puasa sehingga tidak mengantuk karena kekenyangan.

Tapi  karena kafein dalam kopi bersifat memicu buang air kecil, jika minum kopi sebaiknya asupan air putihnya di tambah untuk mengganti cairan tubuh yang keluar akibat sering buang air kecil.

Berbuka harus dengan minuman yang manis?
Seorang teman pernah berseloroh, tandanya bulan puasa segera tiba, iklan sirup di televisi. Ada benarnya juga sih hahaha. Iklan dengan tagline yang menempel di benak semua orang termasuk anak-anak, ‘berbuka dengan yang manis’.

Ada yang bilang, ini akibat salah persepsi dari yang di contohkan Rasullullah saw.

Faktanya
“Adalah Rasulullah berbuka dengan rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat rutab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering , beliau meneguk air.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Kemudian orang mempersepsikan contoh ini dengan berbuka dengan yang manis, karena kurma identik dengan rasa manis. Padahal contoh Rasullullah di atas menunjukkan bahwa berbuka harus dengan makanan sehat. Rasa manis kurma berasal dari fruktosa yang mudah di cerna tubuh, masuk ke dalam aliran darah dan cepat mengembalikan energi.

Sedangkan manis dari sirup atau kolak berasal dari glukosa atau gula sintesis yang dapat meningkatkan kadar gula darah dan memicu rasa lapar. Itulah salah satu sebabnya orang suka kalap alias makan banyak saat buka puasa. Tak heran setelah puasa bobot tubuh meningkat.

Benarkah minum cukup dilakukan saat haus ketika buka puasa dan sekaligus banyak?
Tidak mudah merubah kebiasaan minum tidak pada saat haus. Untuk menyiasati itu saya membiasakan dengan selalu minum setelah makan apapun, saat bangun tidur, saat akan tidur dan malam ketika bangun untuk buang air kecil.

Yap, mengkonsumsi air putih sebaiknya tidak menunggu saat haus karena faktanya air yang kita minum membutuhkan waktu untuk berpindah dari lambung ke otot-otot tubuh. Jadi sebaiknya tidak perlu menunggu haus untuk mencukupi hidrasi. 

Di bulan puasa ini, saya mengkonsumsi air putih sesuai saran AQUA 2+4+2 yaitu 2 gelas saat buka, 4 gelas malam hari, dan 2 gelas saat sahur.

Trik minum 2+2+4
Agar tidak eungap* kalau istilah orang sunda, yaitu perasaan kenyang dan perut penuh, pemenuhan dua gelas saat buka dan sahur dapat di bagi menjadi dua kali konsumsi, satu gelas sebelum makan dan satu gelas sesudah makan.  Empat gelas di malam hari bisa di konsumsi sebagian di sela tawarih, jadi bawa botol aqua ke mesjid. Biasanya kan sholat tarawih empat rakaat – empat rakaat terus tiga rakaat witir, nah di sela itu bisa di minum.

Lebih baik buka dengan air putih atau  minuman bervitamin?
Puasa, menahan tidak makan dan minum selama kurang lebih 12 jam, membuat tubuh mengalami dehidrasi. Karena dehidrasi ini ada yang menyarankan untuk mengkonsumsi air bervitamin  saat berbuka dengan alasan untuk mempercepat hidrasi. Benarkah?

Faktanya, air kemasan yang mengandung vitamin seperti vitamin C atau fortified water perlu waktu lama terserap ke dalam aliran darah, terlebih biasanya minuman ini sudah di tambah gula, yang tentunya tidak baik jika di konsumsi banyak.

Kenapa AQUA
Dengan perannya yang sangat vital di dalam tubuh, air yang di konsumsi harus memenuhi standar mutu yang sudah di standarisasi dan terbukti baik untuk kesehatan. Air minum harus tidak mengandung senyawa pestisida, logam atau senyawa kimia berbahaya lainnya karena keberadaan senyawa-senyawa tersebut dalam menyebabkan keracunan atau mengacaukan metabolisme tubuh.

Aqua berasal dari sumber mata air pilihan dengan segala kemurnian dan kandungan mineral alami yang terpelihara. Aqua di kemas  dengan proses higienis dan telah di percaya sejak 1973 sekaligus sebagai pelopor minuman kemasan di Indonesia.

Pola #AQUA2+4+2
Pola minum 2+4+2 adalah kampanye Danone Aqua mengenai pentingnya menjaga hidrasi tubuh saat berpuasa. Rekomendasi 2+4+2 yaitu 2 gelas saat berbuka puasa, 4 gelas saat makan malam hingga menjelang tidur dan 2 gelas saat sahur, dengan demikian kebutuhan tubuh akan air sebanyak 8 gelas sehari atau 2L terpenuhi walaupun sedang puasa.

AQUA 242



Referensi
www. Aqua.com
www.aqua242.com
www.lifestyle.sindonews.com

4 komentar:

  1. Minum 2-4-2 bikin tubuh jadi lebih terjaga kelembapannya ya, mak. Sukses lombanya. :)

    BalasHapus
  2. betul mba, air putih sehari 8 gelas sangat dibutuhkan tubuh, apalagi saat puasa seperti ini. Saya pun termasuk cerewet pd anak2 ttg minum air putih ini

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...