Rabu, 04 Februari 2015

Dapur Impian

 dapur impian foto dari google
Walaupun saya tidak pandai memasak dan waktu gadis termasuk yang ogah nimbrung Ibu di dapur (lebih milih baca novel hehe), saya selalu bermimpi kelak jika punya rumah sendiri memiliki dapur yang luas, terbuka, nyaman, bersih dengan perabotan komplit.

Dan kini setelah memiliki rumah sendiri, sedikit demi sedikit saya berusaha mewujudkannya. Untuk membuat dapur terlihat luas dan lapang, saya tidak memberi sekat antara dapur dan ruang tengah (ruang keluarga). Sedangkan  biar terbuka, saya juga tidak memberi pintu atau sekat antara dapur dan sepetak tanah (sekitar  1x2) di sampingnya (ceritanya taman belakang tapi isinya malah jemuran hahaha).

Karena keuangan masih terbatas, dapur saya belum memiliki kabinet (rak berpintu) di atas maupun di bawah meja dapur dari tembok yang memanjang dan menyatu dengan bak cuci piring dan tempat kompor. Untuk mewujudkannya selain nabung, sering intip-intip buku desain dapur dan  membanding-bandingkan harga kabinet – mencari yang kira-kira sesuai kemampuan menabung. Sama hal dengan perabot dapur, masih jauh dari komplit. Jumlah gelas dan mangkuk sangat terbatas karena sering pecah dan enggan beli lagi.

Dapur nyaman tanpa ‘isi’ yang enak percuma donk ya, jadi saya juga bermimpi bisa masak enak dan sehat untuk keluarga (bukan jadi chef handal atau jago masak ya hehe) . Terlebih saya memiliki hobi baru sejak berstatus istri dan ibu dari dua anak, yaitu mengumpulkan resep, membeli buku resep diskonan, dan beli-beli peralatan masak dan baking diskonan. Sambil menunggu dapur impian saya terwujud saya mulai berusaha mewujudkan mimpi bisa masak enak dan sehat untuk keluarga.Terlebih saya memiliki beberapa alasan untuk bisa masak;

Pertama, belajar mata kuliah kimia bahan makanan saat kuliah membuat saya sedikit parno soal makanan kemasan instan semacam baso, chicken nugget, sosis, dsb. Untuk jajan di kaki lima pun gampang geli. Kalaupun  akhirnya beli makanan kemasan instan sangat saya batasi sebulan satu kali beli chicken nugget ukuran, sosis, dan baso isi 15 (untuk campuran mie goreng atau sup). Dan biasanya saya pilih yang harganya rada mihil dengan harapan kualitas lebih baik jadi lumayan menguras dompet.

Alasan kedua, tinggal di perumahan kecil dengan pengamanan ketat  membuat tukang jajanan  jarang masuk dan tak ada penjual masakan matang. Kalau delivery minimal membeli dua porsi, berarti sekitar  sebesar 50 ribu hanya cukup sekali makan, lebih boros kan

Agar bisa mewujudkan bisa masak enak – minimal enak untuk lidah saya dan keluarga- dan sehat, saya mulai mencoba beberapa resep dan membuat ‘planning’ memasak.

Awal bulan lalu saya membeli tepung bakso dari food blogger mak Diah Didi dan berhasil mempraktikkan  membuat somay dan baso ayam. Jadi untuk urusan baso, saya  tidak akan membeli lagi, tapi harus puas dengan baso ayam dan ikan karena untuk membuat baso daging saya belum punya prosesornya (serat daging sapi kasar jadi setelah di giling masih perlu memakai prosesor). Sebelum beli tepung bakso mak Diah Didi sempat beberapa kali bikin baso dan somay tapi gatot karena kekerasan atau terlalu alot.

somay homemade, penampakannya kurang menggiurkan ya 
Mengolah makanan sehat menjadi lebih menarik untuk anak-anak. Sejak kecil saya doyan makan ubi, baik goreng atau di kukus. Sebaliknya anak-anak ga mau, belum di icip-icip udah mengangkat bahu dan ngeloyor pergi. Jadilah mulai  mengolah ubi menjadi kelepon ubi atau bola-bola ubi. Karena baru pertama kali praktik hasil kelepon ubi  gak maksimal, penampakannya ga menarik; basah. Tapi untungnya Azka suka. Khalifah masih ga mau nyoba.

Ikan di olah bukan hanya dengan di goreng, tapi mencoba resep lain seperti ikan bumbu kuning, lebih sehat juga karena ikan di rebus dengan bumbu.

Coba resep baru. Menu yang di masak selama seminggu biasanya berputar di situ-situ terus, menu super praktis, standar dan sangat umum, tak heran anak-anak dan suami suka protes. “Mama, sup lagi sup lagi, bosen,” keluh Azka. “Di puji bacem tahunya enak, hampir tiap hari masak bacem tahu,” protes suami. Padahal resep masakan di koleksi.  Jadilah saya melawan malas untuk mempraktikkan menu baru. Seperti mencoba membuat tongseng daging sapi.

Baking. Dalam rangka menyediakan anak-anak cemilan karena seperti saya tulis di atas di sini cari tukang jajanan susah. Minimal seminggu sekali praktik resep baru, yaitu hari sabtu atau minggu. Bukan resep yang susah dan bertoping cream hanya cake biasa, seperti browies, bolkus, cup cakes, muffin (karena kalau di lihat dari buku resep yang saya punya, satu macam cake itu bisa 10 variasi). Beberapa foto praktikum kue di pamer di ig :D.







10 komentar:

  1. Semoga segera terkabul mimpinya ya mak amin :)

    BalasHapus
  2. Semoga segera terkabul mimpinya ya mak amin :)

    BalasHapus
  3. dapurnya cakeeeep...somaynya juga :)..semoga terkabul yaaa mak :)..good luck dengan GAnya...

    BalasHapus
  4. Semoga terkabul yaa mak, jadi laper lihat gambar makananbpagi-pqgi2

    BalasHapus
  5. Semoga terkabul dapur impiannya.. Kalo aku sih dapurnya pengen yg minimslis aja krn aku kurang pinter masak..

    BalasHapus
  6. Semangaatt..Mak!! :) Semoga terkabul mimpi dapur idamannya, trus jadi rajin masaknya.. :)

    BalasHapus
  7. Semoga segera terealisasiya mak mimpinya. Sayapun sama.. ingin banget punya dapur seperti ini. Sukses GA nya yamak :-)

    BalasHapus
  8. Aku juga gitu, skrg blm jago masak, tapi udah kepikiran pengen punya dapur yg bikin betah masak & eksperimen resep. Suka tertarik lihat foto2 desain interior dapur yg nangkring di internet. Ajarin masak, Mak... :)

    BalasHapus
  9. kalo punya dapur sesuai keinginan pasti masaknya lebih semangat ya mak...:)
    semoga tercapai impiannya ya mak ^_^

    BalasHapus
  10. ah andai ketika mampir disini ada siomaynya yang lezatos hehe, mak dapur saya kecil mak, tapi cukup puas karena deket taman, bersih pula alias gak dipake aka gak pernah masak hehe, semoga dapur impiannya segera terwujud ya. aamiin

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...