Minggu, 13 Juli 2014

Menghapus Stigma dan Diskriminasi Penyakit TB

Stigma penyakit TB
Penyakit menular identik dengan kemiskinan karena penyakit ini rentan menyerang orang dengan tingkat ekonomi rendah. Kenapa? Karena kemiskinan menyebabkan kualitas makanan yang dikonsumsi rendah dan ini berpengaruh pada daya tahan tubuuh. Daya tahan tubuh rendah rentan tertulari penyakit.
Karena kemiskinan rumah tempat tinggal menjadi tidak layak-sirkulasi udara dan sinar matahari tidak baik-, yang mengakibatkan kuman penyakit ‘betah’ tinggal di sana dan menulari penghuninya.

Kemiskinan juga menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan, sehingga mereka tidak tahu apa yang menyebabkan tertular dan tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika tertular.

Dan stigma itu pulalah yang melekat dengan penyakit menular TB. Padahal faktanya, TB juga menyerang anak dan balita dengan tingkat ekonomi cukup baik hal itu karena daya tahan tubuh mereka lemah.
Stigma TB dan kemiskinan yang begitu lekat membuat sebagian orang merasa gengsi saat di duga tertulari TB sehingga diagosa terlambat.

TB juga lekat dengan stigma penyakit  kutukan, akibat di teluh, tidak bisa disembuhkan dan mematikan. Stigma ini mengakibatkan orang yang menderita TB pesimis bisa sembuh. Sikap pesimis yang membuat mereka bermalas-malasan minum obat karena menurut mereka tidak akan sembuh.

Diskriminasi terhadap penderita TB
Stigma yang buruk memunculkan sikap diskriminasi masyarakat terhadap pasien TB. Pasien TB di kucilkan, dijauhi bahkan dipecat dari pekerjaannya. Diskriminasi yang secara tidak langsung memiskinkan penderita TB. Diskriminasi  juga akan  penderita TB pesimis bisa sembuh, sehingga mereka lalai minum obat lalu timbul penderita TB resisten obat. Efek besar dari stigma dan sikap diskriminasi terhadap TB adalah penyakit TB akan menjadi lingkaran masalah yang tidak pernah tuntas. Padahal menuntaskan penyakit TB adalah  pe-er besar yang harus dilakukan dengan dukungan dan partisipasi masyarakat.



Meluruskan Informasi tentang TB
Stigma dan diskriminasi ini muncul karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai TB. Makin kurang pengetahuan masyarakat terhadap TB, akan makin kuat stigma dan diskriminasi negatif terhadap TB.

Meluruskan informasi seputar TB bukan hanya tugas petugas kesehatan tapi semua masyarakat yang tahu agar deskriminasi tidak terjadi di masyarakat.

Hal-hal yang perlu di luruskan mengenai penyakit TB antara lain;
    1. TB dapat menular kapan dan pada siapa saja, baik orang miskin maupun tidak. Sehingga penting menjaga kesehatan diri dan lingkungan.
    2. TB bukan penyakit kutukan atau akibat teluh tapi disebabkan bakteri.
    3. TB dapat di sembuhkan dengan mengkonsumsi obat secara teratur.
    4. Untuk bisa sembuh dari TB tidak mahal karena obat tersedia gratis.
    5. Pentingnya keberadaan PMO
    6. Penderita TB sebaiknya menggunakan  masker.
Meluruskan stigma dan deskriminasi terhadap TB
Meluruskan stigma dan deskriminasi terhadap TB dapat dilakukan dengan cara tanpa menggurui dan cara ini biasanya lebih diterima. Seperti misalnya menjadikan TB bahan diskusi di sela kegiatan arisan atau pengajian ibu-ibu. Bekerja sama dengan  posyandu untuk mendatangkan petugas kesehatan dari puskesmas dan memberi penerangan mengenai TB  karena TB rentan terhadap anak dan balita.

Dengan semakin baik dan benarnya pengetahuan masyarakat mengenai TB, kondisi akan berbalik, masyarakat menjadi semakin tahu, tidak takut, stigma dan diskriminasi makin berkurang hingga akhirnya hilang. Yang timbul kemudian adalah rasa simpati dan empati yang membuat penderita TB optimis untuk sembuh dan memiliki harapan masa depan yang sama dengan orang sehat dan masyarakat menjadi lebih peduli pada sekelilingnya termasuk dalam hal menjaga kebersihan lingkungan dan dirinya.

referensi tulisan:
www.tbindonesia.or.id
www.depkes.go.id
www.blog.tbindonesia.or.id

2 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...