Minggu, 06 April 2014

Temukan TB di sekitar kita

Penyakit tuberculosis atau biasa di sebut TB, adalah penyakit menular yang paling mematikan di dunia setelah HIV/AIDS. Data WHO pada tahun 2013 menyebutkan penderita TB di Indonesia 185 per 100 ribu dan menempati urutan ke 4 dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia setelah India, China dan Afrika Selatan. Fakta yang mengerikan sekaligus menjadi warning, bahwa saatnya semua orang tahu dan peduli dengan TB sehingga penderitanya dapat disembuhkan sekaligus menghentikan mata rantai penyebarannya.

TB disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis dan batuk, bersin, air ludah atau hembusan nafas penderita dan tersebar ke udara. Bakteri TB yang ada di udara di hisap orang sehat secara tidak sengaja saat bernafas.

gambar bakteri TB dengan pembesaran
TB umumnya menjangkiti usia produktif (15-55 thn), banyak menyerang kelompok ekonomi lemah dengan tingkat pendidikan rendah. Namun dengan melihat penularannya yang sangat mudah, setiap orang berpeluang tertulari tanpa pandang bulu.

Mengenal Gejala TB
Setiap orang hendaknya mengenal gejala TB, agar jika ada kasus TB di lingkungan sekitar segera diketahui untuk mencegah penularannya. Temukan penderita  TB dengan gejala berikut ini;
  1. Batuk selama lebih dari 2 minggu disertai deman. Deman umumnya menyeranng di malam hari.
  2. Berkeringat di malam hari
  3. Bobot tubuh turun drastis dan tidak nafsu makan
  4. Batuk disertai dahak berdarah
Dugaan TB akan menguat jika;
  1. Lingkungan rumah orang yang di duga TB kurang terawat (tidak bersih atau kumuh) karena bakteri betah tinggal dan tumbuh subur di lingkungan kotor dan lembab.
  2. Ada salah satu keluarganya yang menderita (pernah) TB. TB bukan penyakit turunan tapi sangat mudah ditularkan terlebih dalam lingkungan satu rumah.



Gejala TB yang tak terduga
Namun beberapa orang yang terinfeksi bakteri  TB,  tidak menyadari dirinya telah terinfeksi. Seperti yang terjadi pada kakak sahabat saya, teh Yati (bukan nama sebenarnya), kami cukup akrab karena saya kerap main ke rumahnya dan selisih usia kami tidak jauh.  Hari ketiga demam, dokter meresepkan obat menurun deman, saat demannya tidak turun juga di hari ketujuh, dokter melakukan cek darah ternyata negatif tipoid ataupun DBD. Dokter kembali meresepkan obat penurun panas disertai antibiotik. Di hari ke sembilan demam, teh Yati memeriksan diri ke dokter lain atas rekomendasi temannya. Dan  dokter ini yang kemudian memberikan surat mengantar ke rumah sakit khusus paru-paru.

Dokter pertama tidak mendiagnosa TB karena kakak teman saya;
-Tidak mengeluhkan batuk, karena dia terbatuk-batuk hanya dini hari sehingga mengira batuk disebabkan udara dingin (alergi dingin).
-Tidak mengeluhkan berkeringat di malam hari karena di kira itu efek samping dari obat penurun panas.
-Tidak mengeluhkan berat tubuhnya yang turun karena dikira efek kelelahan karena bekerja sehingga  nafsu makan turun.

Dari hasil rontgen dan pemeriksaan laboratorium, teh Yati positif TB.  Teh Yati dan dan keluarganya sama sekali tidak menduga jika yang dideritanya penyakit TB karena tidak  ada yang mengidap TB di  keluarga atau tetangga sekitarnya.  Lingkungan rumah dan sekitarnya, bersih dan apik.

Kebanyakan orang, baru menyadari dirinya TB jika batuknya sudah lama tak kunjung sembuh (menahun) disertai batuk berdarah. Padahal itu adalah tanda TB sudah kronis.

Kepedulian pada lingkungan sekitar
Dengan gejala yang kadang tak di sadari itu adalah TB, hendaknya setiap orang yang memiliki pengetahuan tentang TB, membaginya pada keluarga, kerabat dan lingkungan sekitar dan  peduli jika  ‘melihat’ ada tetangga  tetangga sekitar menunjukkan gejala awal yang mirip TB, seperti tertulis di atas.

Caranya? Dengan menganjurkan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit sesegera mungkin. Jika penderita enggan memeriksakan diri karena berbagai alasan,  laporkan pada  RT dan petugas kesehatan di  puskesmas karena secara berkala mereka diberi pembekalan perihal kesehatan dari puskesmas).

Dukungan untuk penderita TB
Kakak sahabat saya mengalami ‘perawatan’ selama 6 bulan. Alhamdulillah, tiga belas tahun berlalu sejak dia dinyatakan positif TB,  tidak pernah kambuh lagi. Itu tak lepas dari dukungan keluarga dan sahabat.


Namun tak sedikit, penderita TB yang kehilangan semangat ketika di vonis TB. Merasa tak bisa sembuhkan atau akan kembali kambuh. Jika ini terjadi di lingkungan sekitar kita, tentu tugas kita terlibat dengan cara membesarkan hati penderita dan mengingatkan agar salah satu pihak keluarga penderita menjadi  Petugas Pengawas Obat (PMO) selain agar tidak menyebar juga bentuk kepedulian. Jika tak sanggup, karena berbagai alasan, kita bisa meminta bantuan petugas kesehatan dari puskesmas agar mereka bersedia ‘mentraining’ keluarga penderita menjadi PMO.  


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Competition Temukan, Sembuhkan Pasien TB
referensi tulisan ;
www.tbindonesia.or.id
www.depkes.go.id
www.wikipedia.com

1 komentar:

  1. harus waspada yambak, kalau ada yang kena TB harus segera ditangani

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...