Jumat, 25 April 2014

Melatih Empati

Pelajaran dari Dinda
Beberapa minggu lalu salah satu trending topik di beberapa portal berita, medsos dan televisi adalah status seorang gadis bernama Dinda.  Dinda pun di kecam banyak orang terutama perempuan dan kaum ibu. Buat yang belum tahu apa isi status Dinda bisa di googling.

Sebagai pengguna KRL walaupun tidak setiap hari, saya tahu dan merasakan rasanya berdiri berjam-jam plus berdesakan sampai saking berdesakannya, merasa tak perlu menegakkan badan karena badan sudah tertopang penumpang yang menghimpit kiri-kanan depan-belakang. 

Bisa mendapatkan tempat duduk itu seperti anugrah. Tapi betapa tak enak hati, walaupun pura-pura tidur, ternyata tepat di depan saya, seorang ibu berdiri membawa anak balita. Jadilah dengan (harus) rela saya memberikan tempat duduk saya.  Jujur sayja dalam hati sempat terbersit pikiran-pikiran; Duh kenapa sih si ibu di takdirkan berdiri di depan saya? Coba kalau tadi saya pilih bangku tengah ya atau coba kalau saya tidur beneran. Yap, saya memang bukan orang super baik dan tulus, jadi ya berandai- andai saya duduk dan tidur heheh. Namun di sudut hati yang lain, saya bahagia dan sedikit tersanjung dengan senyuman dan rasa terima kasih yang diungkapkan si Ibu.

Selasa, 15 April 2014

Obat anti tuberkolusis (OAT) tersedia gratis


Sekitar dua minggu lalu saya memposting tulisan bertemakan temukan tuberkolusis (TB), yang meliputi apa, bagaimana TB menjadi penyakit yang menyebabkan kematian dan bagaimana kita mengenali gejalanya. Tujuannya tak lain  agar kita aware terhadap lingkungan sekitar sehingga kita tahu  apa yang harus kita lakukan jika menemukan pasien yang diduga TB dan menghindari penularannya. Selengkapnya bisa di baca di link http://www.rinasusanti.com/2014/04/tb-ada-di-sekitar-kita.html
Walaupun TB merupakan penyakit mematikan dan menular, namun  bisa disembuhkan dan salah satu memutus mata rantai penularannya adalah dengan menyembuhkan pasien TB.
TB bisa disembuhkan
Dalam postingan sebelumnya saya menceritakan kakak sahabat saya, teh Yati, yang terkena TB, kejadian itu berlangsung belasan tahun lalu dan alhamdulillah sampai  sekarang kakak sahabat saya sehat, sudah berkeluarga dan di karunia anak. Bukti yang meyakinkan saya juga tetangga sekitar bahwa TB bisa disembuhkan.
Kesembuhan teh Yati tidak lepas dari  keinginannya yang  kuat untuk sembuh, disiplin melakukan pengobatan, mendapat dukungan dari keluarga dan sahabat dan doa. Itu yang saya lihat dari kasus teh Yati. Mental teh Yati sempat down dan minder saat di vonis TB, saat itu usianya baru 22 tahun dan tengah bekerja sebagai staff admisnistrasi di sebuah konsultan, untunglah keluarga membesarkan hati dan meyakinkannya bahwa dirinya bisa sembuh. Teh Yati memutuskan resign dari kantor selama pengobatan, tujuan tak lain agar dia konsen dan disiplin melakukan pengobatan (disuntik, mengkonsumsi obat dan di periksa dahaknya secara berkala  untuk mengetahui apakah kuman masih ada atau sudah mati). Pilihan yang berat karena teh Yati membantu membiayai adiknya yang tengah kuliah.
Obat anti tuberkolusis (OAT) gratis di seluruh puskemas dan rumah sakit pemerintah
Rentang waktu pengobatan yang cukup lama dan  mengkonsumsi obat setiap hari ini tak jarang membuat penderita yang pengetahuannya minim, dengan taraf ekonomi pas-pasan atau rendah  dan di tinggal daerah terpencil, merasa putus asa saat di vonis mengidap TB sehingga enggan berobat karena membayangkan biaya yang akan dikeluarkan besar. Sehingga mereka pasrah pada penyakitnya.
Kini, tak ada alasan bagi penderita TB tidak sembuh dengan alasan biaya karena obat anti tuberkolusis (OAT) tersedia gratis di puskesmas dan rumah sakit pemerintah.


Bagaimana cara mendapatkan OAT gratis?

Senin, 07 April 2014

Catatan Hati Pengantin

Walaupun suka menulis dan ingin bisa menulis dengan baik, saya tidak tertarik ikut kursus atau workshop kepenulisan walaupun gratis walaupun online. Untuk online malah saya gak minat karena waktu online saya gak bisa diprediksi kecuali tengah malam saat anak-anak tidur . Karena saat anak-anak melek gak bisa konsen online, pasti dicerokin.

Sampailah di  tahun 2012, saya melihat iklan di fb mengenai workshop kepenulisan yang diadakan Asma Nadia dan tertarik untuk ikut. Bukan workshop pertama yang diadakan Asma Nadia dan saya pernah juga baca iklan itu beberapa waktu sebelumnya, tapi dulu tak tertarik. Yang membuat tertarik bukan iming-iming tulisan yang menarik akan dibukukan (karena antologi tidak terlalu membuat saya ngebet- lebih ngebet nulis untuk dikirm ke media karena honornya jelas hehehe) ingin tahu rahasia kesuksesan Asma Nadia.

Workshop diadakan sabtu minggu, sempat galau juga karena itu jadwalnya family time – saat itu saya masih kerja kantoran jadi weekend itu sesuatu banget kalau dihabiskan sendiri. Tapi suami mendorong untuk ikut saat saya utarakan keinginan ikut. Jadilah dengan sedih haru (lebay) saya meninggalkan anak-anak.

Intinya seperti nasehat semua penulis, harus-wajib sering baca, sering latihan nulis hehe. Referensi tulisan ‘bukan hanya dari buku dan interaksi dengan orang juga film-film berkualitas yang ‘wajib’ di tonton.

Workshop menulis kedua yang saya ikuti gratisan yang diadakan majalah femina, ulasannya di sini. Workshop menulis ketiga dengan mentornya Maggie Tiojakin (nov 2013) walaupun bayar cukup mahal  tapi puas, ulasannya bisa dilihat di sini. Itulah enaknya workshop dengan narsum yang mumpuni, uang dikeluarkan sepadan. Dan rasanya sudah cukup ikut workshop nulis saatnya action!  Ini masih kurang action.

Tak di duga, dua tulisan saya masuk antologi seri Catatan Hati Asma Nadia terbaru yang judulnya Catatan Hati Pengantin. Pertanyaan selama ini saya pun terjawab. Bagaimana  orang-orang bisa masuk antologi Asma Nadia? Oh, ternyata harus ikut workshopnya dulu atau aktif di komunitas bisa menulis  tapi gak menjamin di muat juga lho.



Isinya bisa di tebak!Yap, suka dukanya tahun-tahun pertama pernikahan.

Minggu, 06 April 2014

Temukan TB di sekitar kita

Penyakit tuberculosis atau biasa di sebut TB, adalah penyakit menular yang paling mematikan di dunia setelah HIV/AIDS. Data WHO pada tahun 2013 menyebutkan penderita TB di Indonesia 185 per 100 ribu dan menempati urutan ke 4 dengan jumlah penderita TB terbanyak di dunia setelah India, China dan Afrika Selatan. Fakta yang mengerikan sekaligus menjadi warning, bahwa saatnya semua orang tahu dan peduli dengan TB sehingga penderitanya dapat disembuhkan sekaligus menghentikan mata rantai penyebarannya.

TB disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis dan batuk, bersin, air ludah atau hembusan nafas penderita dan tersebar ke udara. Bakteri TB yang ada di udara di hisap orang sehat secara tidak sengaja saat bernafas.

gambar bakteri TB dengan pembesaran

Rabu, 02 April 2014

Wordless Wednesday - Play Date

Azka always loved playing with her friends. Bermain dan berimajinasi

ghost



ide kreatif

Reading Challenge

"Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya."

—Ali bin Abi Thalib

Udah lama gak curcol di blog. Sibuk?! Lebih tepatnya sok sibuk. Sok sibuk ngeresensi buku, dengan niat mau ikutan indiva reading challenge (IRC), tapi minder  setelah ngintip beberapa peserta postingan reviewnya sudah puluhan bahkan ada yang mencapai 50 buku.

Penilaian berdasarkan banyaknya buku yang di review memang cukup besar 50%, sementara kualitas resensi 40% dan 10% interaksi.  Dengan 10% dari total review adalah buku-buku terbitan indiva. Jadi jika target review setahun 100 buku, buku indiva yang direview 10 buku, sedikit. Masalahnya jika ingin berpeluang  menang, harus review lebih dari 200 buku  karena  baru masuk bulan keempat banyak peserta yang sudah 50 an buku.  Kalau 200 buku, berarti buku indivanya 20. berhubung koleksi buku indiva saya hanya satu berarti tiap bulan harus beli sekitar dua buku indiva. Ini agak berat , berhubung budget pembelian buku setiap bulan terbatas (harus berbagi dengan buku anak-anak dan suami), sekitar 1-2 buku.   

Presentasi banyaknya buku jadi penilaian terbesar memang bukan tanpa alasan. Karena makin banyak buku yang direview makin banyak buku terbitan indiva yang di review. Yap, ini teknik marketing J

Jujur saja, walaupun ngakunya book holic saya baru ‘ngeh’ penerbit indiva sejak ada lomba review salah satu bukunya, akhir tahun lalu. Mungkin saya pernah liat buku terbitan ini di tokbuk tapi kurang aware. Kebanyakan buku-buku yang saya baca dan koleksi dari dua penerbit besar grup mizan dan grup kompas gramedia.

Dan saya tetap mau ikutan, saya harus setiap bulan beli buku indiva (karena gak punya stok koleksinya), 

Tapi kalau gak ikut event ini penasaran. Sampai curcol ini selesai ditulis, belum bisa memastikan maju atau mundur dengan tantangan ini hehe

pengennya punya rak buku kayak gini ;p
You are what you read?
Ketika saya membaca sebuah buku saya tidak pernah melihat pandangan politik, paham pemikiran atau keyakinan  sang penulis, kalau bukunya di recommend bagus pasti dibaca apalagi kalau dipinjemin alias gak usah beli.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...