Rabu, 26 Februari 2014

'Job Desc' ART

Kemarin saya kedatangan, tamu yang tak lain mantan art tetanga depan rumah.  Dia kemari untuk mencari pekerjaan. Setelah bertukar sapa, dia  meminta ijin menginap satu malam. Saya tidak keberatan karena ada memang ada satu kamar untuk art dibelakang.  Sebenarnya di dorong rasa kasian, di usianya yang tidak lagi muda – menjelang 50 an, masih mencari pekerjaan kesana-kemari.

Percakapan di bawah ini aslinya dalam bahasa sunda.
“Dikampung susah mencari uang. Suami gak kerja. Tadi sebelum ke sini saya mampir ke rumah  Ummi.” Saya gak tahu siapa Ummi yang di maksud tapi katanya rumahnya dekat mesjid komplek ini.
“Bi, kalau besok gak dapat kerjaan gimana?”
“Akh, kerjaan mah banyak neng. Malu kalau harus pulang lagi ke kampung.” Jawaban si Bibi cukup menohok saya, rasa optimis dan tekad mencari pekerjaan begitu kuat dan tidak ada sama sekali nada melow.



Saya menyarankan untuk menemui Bu X, tetangga yang saya tahu penyalur art.
“Saya pernah di carikan dia, gajinya emang gede tapi akh bibi mah mending gaji kecil tapi bisa sholat tenang.  Gaji gede tapi gak bisa sholat, bersihin tahi anjing, terus harus ngangkat galon ke lantai dua, karena kamar anak-anaknya di lantai dua.”

“Ngangkat galon ya sama tukangnya atuh Bi.” Kaget juga dengar tugas art ibu-ibu harus ngangkat-ngangkat galon. Di rumah tugas mengangkat galon (karena masih disper murah dan jadul, jadi posisi galon di atas, ya suami atau karyawan toko yang nganterin galon. Kalau darurat ya masak air).
“Dari hari pertama  kerja udah di kasih tahu, tugas bibi ngangkat galon. Bibi udah pengalaman sampai ke saudi neng, udah pernah ngadepin rupa-rupa majikan.”

“Di sini enak, nyetrika bisa sambil duduk. Bibi pernah punya majikan yang kalau nyetrika gak boleh duduk, kerja dari subuh sampai malam. Giliran istrirahat di marahin, gini katanya, kalau mau istirahat di rumah sendiri.”

Soal keterbatasan waktu sholat (bahkan tidak diberi waktu), makanan yang di jatah dan job dest ‘aneh’ memang bukan kali ini saya dengar seperti mencuci mobil. Helow, cuci mobil ya ke tukang cuci mobil aja kali ya...kalau niatnya buat memberi uang tambahan pada art, mungkin bisa dengan pekerjaan lain.

Art adik saya, Ai,  yang kini berusia 16 tahun , cerita waktu pertama kerja di bandung (usianya 13 tahun) di sebuah toko, melarangnya memakai jilbab, kalau sholat di buru-buru ( dan digerutui), makan di alas, suka mukul. Akhirnya Ai dan temannya (mereka bekerja bedua) nekat kabur dengan mengikhlaskan gajinya setengah bulan.
Berbeda dengan cerita teh Apong, art saya yang beberapa bulan lalu resign karena menikah, di tempat kerjanya dulu, gajinya gak jelas, malah nombok karena kalau mengantar anak majikannya ke sekolah, pake uangnya dengan alasan pinjam dulu tapi belum pernah diganti. Sampai dia akhirnya keluar kerja pun si majikan masih  berhutang gaji dan apa yang dibilang majikan saat teh apong pamit pulang.”Punten teu tiasa mayar.” Terjemahannya.”Maaf gak bisa bayar.”

Gak heran ya kalau banyak tkw sektor pekerja rumah tangga mencoba peruntungan di luar negeri.

Beruntunglah saya memiliki mama yang cukup cerewet bagaimana memperlakukan dan memperkerjakan art dengan layak, nasehat yang ditanamkan sejak saya kecil. Anjuran kalau di rumah anak, urusan saya – kerja kantoran bukan alasan.  Memberi gaji yang layak – jadi kalau gak mampu menggaji layak ya gak usah punya art. Kalau memungkinkan beri art keterampilan agar kelak jika sudah menikah bisa mandiri alias gak jadi art lagi, misalnya memasak atau bikin kue. Tak ada acara membangun art malam-malam untuk minta tolong mengerjakan sesuatu.  Menu  art sama dengan yang kita makan. Dan dilarang menyebut art dengan sebutan babu atau jongos.  Gak boleh nyuruh art untuk melakukan hal kecil yang bisa dilakukan sendiri seperti mengambil air minum (kecuali darurat atau sakit) dan itu saya terapkan pada anak-anak biar gak ngebosi dan jadi anak manja.




5 komentar:

  1. ART itu juga manusia harus ada job desc yang jelas ya. Kadang memang seharian mereka kerja gak berhenti

    BalasHapus
  2. maak banyak memang yang perlakukan art kurang baik. ayoo kampanyekan yang beginian agar terjadi sama-sama menguntungkan

    BalasHapus
  3. Si bibi suruh datang ke rumah mertua saya mak, lagi butuh ART. Kalo disini malah ksulitan cari ART. Udah diperlakukan baik banget, kok ngga betah aja ya, lebih milih kerja di pabrik gitu

    BalasHapus
  4. setuju Mak, ARTku alhamdulillah bisa bobo siang, kalau aku sedang di rumah. Aku juga ajarkan faiz untuk minta tolong jika dia tidak bisa mengambil sesuatu yang tidak terjangkau. Aku paling cerewet ke anakku, jangan sakitin si embak, dia udah nemenin kita dan bantuin kita. Si bibi itu kesihan amat, anak-anaknya kamana atuh?

    BalasHapus
  5. Kasihan benar kalau ada ART seorang Ibu paruh baya diauruh angat galon, cuci mobil.

    Majikannya tega bgttt.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...