Selasa, 26 November 2013

Cukup, Cupu dan Culun

Oleh-oleh family tea camp sariwangi, sesi family time bersama psikolog Ratih Ibrahim (2)

bersama 9 keluarga lain pemenang menulis kisah inspiratif momen 15 menit


Gak mau donk anak-anak kita jadi generasi Cukup, Cupu dan Culun, apa tuch...

Semua orangtua pasti tahu donk jika interaksi anak dengan game di gadget  atau nonton tv secara berlebihan ,walaupun isinya (katanya) edukatif, gak baik untuk pertumbuhan otak dan fisik anak.  Untuk saya sendiri, konsisten membatasi anak-anak nonton dan main game itu banyak godaannya. Saya tidak terlalu punya masalah dengan game karena anak-anak masih kecil dan  tidak memberi mereka gadget untuk main game tapi ada sedikit masalah dengan jam menonton. Walaupun dibatasi lebih seringnya saya memberi tolerasi  1 jam tambahan atau lebih. Alasannya banyak, saya lagi nanggung mengerjakan tulisan (ngejar dl aorderan tulisan atau lomba), lagi masak, lagi beres-beres, lagi asik bbm an....

Atau kehabisan ide untuk mencari kegiatan untuk anak-anak. Membuat kreasi udah,  membiarkan mereka ngubek-ngubek kolam ikan udah (sampai ikannya mati L), piknik-piknikan di taman udah. Sementara teman sebaya yang biasa main bersama mereka lagi tidak ada.

Sesi family time bareng Ratih Ibahim di acara teacamp sariwangi kemarin, bahasannya pas banget dengan masalah saya ini. Soal pentingnya quality time dengan anak-anak. Terlebih anak-anak sekarang banyak yang sibuk dengan gadgetnya.

Menurut Ratih Ibahim, kecanduan anak pada gadget atau nonton tv akan membuat anak tumbuh menjadi generasi cukup, cupu dan culun. Padahal persaingan global bukan lagi isu, tak lama lagi tak ada batasan negara untuk kesempatan mencari kerja. Kebayang kan klo generasi bangsa ini C, bukan tidak mungkin semua tenaga profesional di pegang tenaga asing.

Game sebaiknya semingu sekali dan waktunya dibatasi dua jam. Untuk menonton sama juga. Jadi orangtua harus konsinten. Terus bagaimana supaya anak tidak main game atau nonton? Beri kesibukan, kan ada tugas sekolah. Kalau tugas sekolah sudah selesai dan masih minta main game berarti kegiatan si anak kurang. Tambah tugas dan kegiatan dia dengan memberi les atau kursus dan melibatkan anak-anak dalam pekerjaan harian, seperti membereskan tempat tidur, menyiapkan sarapan dsb.

Kalau anaknya masih balita, orangtua dituntut kreatif, membuat kegiatan yang variatif untuk anak.
Bagaimana jika  ada perlawanan dari anak karena membatasan ini dengan mengamuk (tantrum). Anak  tantrum itu wajar. Jika orangtua konsisten lama-lama anak akan mengerti.

Kalau anak di bully lingkungan (teman-temannya)  bagaimana? Misal dikatain culun karena gak bisa dan gak tahu game atau film seri tertentu. Buat anak kita jadi trendsetter, beri atau kursuskan dengan skil yang membuat anak jadi  keren  tanpa game atau tv. Misal kursus musik, olahraga, skateboard dsb.

Intinya, sebagai orangtua saya dituntut  lebih kreatif dan rela berkorban (waktu) untuk mereka, mau capek, tega dan cerewet. Cari ide biar Azka dan Khalif tetap enjoy tanpa tv, tambah mainan atau memanfaatkan barang yang ada di rumah untuk dijadikan mainan. Anak sehat itu bukan yang suka duduk manis tapi bandel J.

Yap, daripada jadi generasi cukup, cupu dan culun.


Mengutip kata Ratih Ibrahim,  Mendekatkan anak-anak pada alam akan membuat mereka tumbuh kokoh. 

sore di depan tenda, menikmati singkong goreng plus teh hangat :)

2 komentar:

  1. Kebanyakan nonton tv dan main game lebih banyak dampak negatifnya daripada positifnya. langkah yang bagus kak dengan cara membatasi itu.

    BalasHapus
  2. asyik banget sih mbak andai aku ikutan ya :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...