Jumat, 14 Desember 2012

Quality Time


Saya sangat menyukai dan menikmati pekerjaan sebagai kontributor lepas sebuah majalah berthema parenting. Walaupun dikejar deadline dan untuk bertemu narasumber, berdesak-desakan di komuterline menuju Jakarta lalu  mencari-cari alamat yang dimaksud dengan menumpang ojek, saya enjoy saja.  Saya memang menyukai pekerjaan sampingan ini, pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan utama sebagai karyawan sebuah industri farmasi.

Kadang saya kesulitan membagi waktu antara pekerjaan kantor, anak-anak, suami dan menulis untuk sebuah majalah (kontributor lepas). Tapi yang pasti, waktu saya di rumah hanya untuk anak-anak dan suami jadi walaupun dikejar deadline saya harus mengerjakanan nya saat mereka tertidur.  Ya, walaupun saya menikmati pekerjaan menulis  saya tidak ingin bonding kami berkurang hanya karena pekerjaan. 



saya menyiasati waktu menulis yang terbatas itu, dengan  memanfaatkan waktu jeda diantara istirahat di kantor, dalam perjalanan, menunggu hujan reda saat pulang kantor (bogor sering hujan) atau menunggu narasumber yang tidak jarang mendadak mengundurkan jam bertemu karena beragam alasan.

menikmati layanan indosat mobile saat menunggu narasumber

Terhubung dengan koneksi internet di manapun menjadi keharusan karena Untuk persiapan wawancara atau melengkapi sebuah tulisan hasil wawancara seorang ahli saya mencari bahan terkait  dari internet. Setelah tulisan selesai meminta koreksi dan persetujuan dari narasumber sebelum akhirnya berakhir di meja editor. Deadline untuk sebuah tulisan maksimal lima hari, jadi saya harus benar-benar bergerak cepat dan tepat dengan hasil bagus, untuk itu gadget yang saya miliki selalu Stay MobileWith Indosat termasuk layanan Indosat Super WiFi

di sela acara annual dinner di sebuah hotel di Jakarta minggu lalu tetap bisa memastikan email tulisan sudah di koreksi narsum dengan layanan indosat super WiFi








Senin, 10 Desember 2012

(Hutang) Review Buku


Agak sulit mengimbangi membaca buku dengan menulis reviewnya ujung-ujungnya waktu yang saya jadikan kambing hitam. Padahal kalau dipikir-pikir masih ada waktu jika niat hehehe.

Jujur, kalau diminta memilih antara mereview buku dan menuliskan ide di kepala, saya memilih yang terakhir karena rasanya lebih mudah. Walaupun tidak mau dibilang sukar menulis review perlu mikir agak kuat termasuk, memikirkan kalimat pembukanya. Jadi saya bisa bermenit-menit nongkrong depan lapi dengan layar putih alias kosong hanya menunggu dan mencari ide untuk kalimat pembuka. Yap, saya tidak bisa mereview buku dengan mencomot bagian sana-sini lalu menempelnya jadi sebuah tulisan. Persepsi saya harus masuk, pendapat saya harus masuk, kritik saya harus masuk terutama fiksi (walaupun yang ini lebih banyak diedit sendiri, khawatir dikira sentimen hehe). Ya, bisanya cuma kritik bikin buku aja belum pernah, gimana coba kalau ada yang bilang begitu. Pengalamannya berdasarkan blbanyak buku fiksi dalam negeri dan terjemahan terutama yang nyastra (sedikit narsis) heheh.  

Nah, karena kecepatan untuk mereview rendah jadilah hutang buku yang perlu di review menumpuk. Finaltinya saya tidak bisa dapat buku gratisan promo penerbit  di Blogger Buku Indonesia. Kalau pun bisa minta malu, apalagi kalau ditodong,”Buku kemarin review nya mana?”

Jadi saya bayar satu dulu, diusahakan setiap minggu bayar satu review.


Jumat, 07 Desember 2012

Ummi Edisi November 2012

Ini adalah tulisan saya yang dimuat di majalah Ummi di rubrik nuansa perempuan edisi november 2012.





 Versi sebelum diedit oleh Ummi yang sempat saya posting di sini, di hapus , karena alasan penting ;)

Berminat untuk kirim tulisan ke rubrik ini, kirim saya ke kru_ummi@yahoo.co.id beserta data diri dan foto.


Senin, 03 Desember 2012

Sifat anak dan Gen


Postingan narsis dan promo, tulisan saya dimuat di majalah AB sebagai kontributor lepas.Edar 23 november - 9 desember 2012.



Sempat dibuat heran dengan sifat seorang anak yang berbeda dengan kedua orang tuanya atau anak anda sendiri yang mengalaminya. Cek faktanya di AB edisi ini. Dengan konsultan ahli tulisan adalah Prof. Dr. dr. Wahyuning Ramelan SpOG Departemen Biologi Medik FKUI - RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta

Kamis, 15 November 2012

Kontes foto obsesi mama

Ngiler setiap kali ada foto kontes anak walaupun hadiahnya tidak seberapa karena yang penting kan si kecil bisa mejeng hahaha

Jadilah saya suka iseng-iseng mengikutsertakan foto si kecil untuk ikutan kontes dan gak pernah menang hahaha

Lalu saya berkenalan dengan banyak mama yang suka kontes (kontes apa saja termasuk foto) dan dari mereka saya tahu rahasianya kenapa mereka menang. Karena mereka mempersiapkan foronya dengan baik. Mulai persiapan sesi foto sampai properti yang akan digunakan saat foto.

Wah wah selama ini saya ikut kontes foto hanya dari foto-foto jempretan sana-sini yang spontan.
Nah, karena ingin juara jadilah di akhir pekan saya dan anak-anak siap-siap untuk berfoto dengan juru foto suami. Lokasi teras rumah.

Tidak semulus dugaan.  Khalif rewel dan gak mau dilepaskan dari gendongan. Azka awalnya menolak di foto. Setelah dirayu mau tapi menolak di sisir rambutnya.   


Akhirnya tidak ada satupun foto yang dihasilkan bisa ikutkan kontes foto.

Rabu, 14 November 2012

Hak Janin

Edar 12 - 25 November 2012

Janin memiliki hak yang sama dengan manusia termasuk dalam hal hukum dan kesehatan. Tulisan ini hasil wawancara dengan ST. Dr. Finekri Abidin. SpOG., KTM. Kepala Dept. Obsetri dan Ginekologi Direktorat Kesehatan TNI-AD. Rumah sakit pusat angkatan darat Gatot Soebroto, Jakarta






Senin, 05 November 2012

Meretas Mimpi Para Perempuan Desa (Juara I lomba blog VOA periode November 2012)


Kisah pilu dari negeri tetangga


Saya yakin, perasaan marah, sedih, miris dan sesak yang saya rasakan dan bergumal jadi satu dalam hati,  saat membaca berita mengenai selembaran iklan obral murah jasa pembantu rumah tangga asal Indonesia (TKW) di http://www.voaindonesia.com/content/migrant-care-iklan-tki-on-sale-tidak-boleh-ditoleransi/1535294.html dirasakan juga warga Indonesia lain, terutama kaum perempuan dan ibu. Berita itu dimuat situs VOA Indonesia pada  pada tanggal 29 oktober 2012. 

Berikut adalah berita yang saya kutif dari VOA; Selembaran itu ditempel di arena publik seperti jalan, di depan toko dan depan kedai. Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah, persoalan iklan ini harus dibicarakan secara serius kepada pemerintah Malaysia dan negeri jiran itu menurut Anis harus memintaa maaf.  Selain itu pemerintah Indonesia, juga harus aktif menekan Pemerintah Malaysia untuk menyelidiki kasus selebaran itu.




Ini memang bukan kekerasan fisik seperti yang kerap dialami TKW  tapi sama menyakitkannya dengan berita pemukulan, penyiksaan, pecehkan yang dilakukan para majikan TKW tapi sama menyakitkannya.  TKW dianggap komoditas layaknya barang.

Berikut adalah data dari Migrant Care:
Data resmi yang yang dikeluarkan pihak KBRI Arab Saudi dan KBRI Kuwait, jumlah buruh migran yang melarikan diri ke KBRI untuk mencari perlindungan dari tindak kekerasan dan perkosaan majikan mencapai sekitar 3.627 orang pertahun. Belum termasuk puluhan mayat buruh migran Indonesia yang meninggal dan tidak bisa segera di kirim ke ahli waris Indonesia.

Di Malaysia, politik anti migran pemerintah Malaysia merepresi buruh migran Indonesia yang tidak berdokumen di Malaysia. Untuk mengusir buruh migran Indonesia tak berdokumen, pemerintah Malaysia tak hanya menerbitkan peraturan tertulis juga melancarkan Ops-Nyah yang mengerahkan tentara dan polisi Malaysia bersenjatakan lengkap. 

Di Hongkong TKW menerima gaji dibawah standar. Di Taiwan banyak gaji yang tidak dibayar dan PHK sepihak. Di Singapura, selain penyelundupan, kerentanan yang dialami oleh buruh migran ditunjukkan dengan banyaknya angka kematian. Semester pertama tahun 2007 ini, sudah 120 buruh migran Indonesia meninggal dunia.

Pulang ke tanah air, di Terminal khusus buruh migran Indonesia, praktek pemerasan berlangsung secara sistematik, baik yang bersifat resmi maupun liar. 



Nyatanya, berita duka itu tidak menyurutkan langkah para perempuan di beberapa daerah  untuk mengadu nasib di luar negeri. 

Dari data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Pra-Pemberangkatan (BNP2TKI) pada tahun 2008 jumlah TKI 4,3 juta di mana  72% adalah perempuan dan 92% bekerja sebagai PRT. Dan menurut data Organisasi Badan buruh Internasional (ILO), tahun 2009, 6 juta PRT berasal dari Indonesia.
Artinya terjadi peningkatan dan peningkatan ini memang terjadi dari tahun ke tahun.

Kenyataan ini bertolak belakang dengan perkembangan ekonomi Indonesia yang dinilai mengalami meningkatan, bahkan menurut salah satu pengamat ekonomi Indonesia dari Univeristas Indonesia, dalam sebuah seminar ekonomi beberapa waktu lalu, menyebut Indonesia adalah negara yang ‘seksi’ untuk para investor asing, ini dibuktikan dengan masuknya beberapa perusahaan besar internasional diantaranya perusahaan otomotif yang tumbuh subur. Indonesia dinilai merupakan  market yang menjanjikan.



Akar Masalah

Pekerja rumah tangga saya yang berasal dari sebuah desa di kota dodol Jawa Barat. Dia bercerita, perempuan-perampuan di desanya menikah mulai usia 13 tahun dan menyandang status janda sebelum usia 20 tahun. Perceraian umumnya di picu karena kekurang dewasaan mereka menghadapi masalah dan faktor ekonomi. Rata-rata pemuda di desa ini bekerja ke kota sebagai kuli dan buruh bangunan.  Sedangkan perempuan sebagai buruh tani, bercocok tanam ala kadarnya atau pekerja borongan memayet kerudung atau membuat bulu mata dengan ongkos lima ratus rupiah persatu barang.

Ketika perceraian terjadi atau karena dorogan ekonomi, para perempuan ini memutuskan menjadi pekerja rumah tangga di kota atau ke luar negeri. Walaupun untuk bekerja ke luar negeri mereka harus menggadaikan atau menjual tanah leluhur.

TKW  yang sukses bekerja di luar negeri dibuktikan dengan membangun rumah yang besar dan memiliki beberapa sepeda motor. Kesuksesan yang memicu perempuan lain untuk melakukan hal yang sama.

Cerita yang hampir serupa saya dengar dari mama saya sendiri sepulang beliau dari kampung halamannya di Jawa Timur, katanya banyak perempuan sana yang menjadi TKW ke Hongkong dan Singapura.

 

Negara kita ‘seksi’ tapi kesenjangan sosial di negeri ini pun mengalami peningkatan, begitu kurang lebih sang pengamat ekonomi  berkata. 

Artinya jurang pemisah antara di kaya dan si miskin semakin dalam. Kemiskinan dan kebodohan.

Perlindungan hukum dari negara dan Berani membuat target

Masalah beragam penyiksaan termasuk  pelecehan  gaya baru, menganggap tenaga kerja Indonesia sebagai barang dagangan dan bukan manusia seperti dalam selebaran iklan yang beredar di Malaysia adalah karena  minimya perlindungan yang diberikan oleh Negara.

Sejatinya sikap tegas   pemerintah  setiap kali pelanggaran hukum terhadap TKW terjadi bukan sekedar ditunjukkan dengan retorika, hanya dijadikan debat politik dan adu argumen. Tapi diikuti langkah nyata seperti membekali para TKW dengan pengetahuan mengenai hak-haknya sebagai buruh migran dan memberi mereka kemudahan akses  melapor jika hak mereka di langgar.     Jangan sampai karena alasan politik, pemerintah mengalah secara halus pda negara tetangga padahal persoalan TKW adalah masalah harga diri bangsa. 

Langkah kedua,  sudah saatnya pemerintah membuat target untuk mengurangi jumlah pengiriman TKW ke luar negeri sertiap tahunnya. Dengan target besar, dalam lima atau sepuluh tahun, tidak adalagi pengiriman TKW ke luar negeri kecuali sebagai tenaga profesional.

Bukan langkah mudah tapi harus berani memulainya karena sebenarnya target penghentian pengiriman tenaga non profesinal ke luar negeri sejalan dengan pembangunan nasional, yaitu mencerdaskan dan memakmurkan masyarakat.

Merentas Harapan

  1. Pendidikan murah berkelanjutan dan pencarian bakat
Melanjutkan cerita pekerja rumah tangga saya. Di desanya, sekolah cukup sampai sekolah dasar, karena untuk masuk smp, walaupun gratis, mereka tetap harus membeli buku ditambah lagi untuk mencapai smp terdekat, mereka harus berjalan kaki selama kurang lebih setengah jam.

Sekolah menengah atas adalah kemewahan yang sia-sia karena tidak menjamin mereka mendapat pekerjaan layak. 



Dengan pembangunan yang belum merata sampai ke desa-desa, ijasah mereka tentu tak ada artinya terlebih jika ijasah itu di bawa ke kota. Ujung-ujungnya tetap sebagai kuli di kota. Alasan yang logis ketika akhirnya mereka memilih menikahkan anak gadis mereka di usia muda.

Data  UNESCO tahun 2011, di Indoensia  kelompok usia sekolah, sedikitnya setengah juta anak usia sekolah dasar (SD) dan 200 ribu anak usia sekolah menengah pertama (SMP) tidak dapat melanjutkan pendidikan. Fenomena ini  memengaruhi rendahnya  education development index Indonesia yakni peringkat 69 dari 127 negara.

Pendidikan gratis atau murah berkelanjutan (sampai jenjang perguruan tinggi) menjadi keharusan di dukung pencarian bakat anak-anak daerah yang berprestasi, tanpa melihat gender, untuk mendapat beasiswa sekolah ke kota besar.


  1. Membantu mereka menggali potensi desa dan membangun jiwa entrepreneur
Pekerja rumah tangga saya, sempat terkejut ketika kami menyajikan kacang mete sebagai penganan di hari lebaran. Dan keheranan ketika saya katakan kalau emping terbuat dari buah melinjo dengan proses yang sederhana. Di desanya banyak tumbuh jambu mede liar dan bijinya dianggap sampah. Begitu pun buah melinjo. Giliran saya yang mengerutkan kening, karena kedua penganan itu harga perkilogramnya lumayan.

Setiap daerah memiliki potensi tapi kebanyakan warganya tidak tahu dan di dalam diri mereka pun tidak ada jiwa entrepreneurship. 





Ini bukan hanya tugas pemerintah tapi setiap warga Indonesia yang peduli dan memiliki akses dan pengetahuan itu menyebarkannya ke daerah-daerah. Termasuk saya, yang menyarankan prt kami mengumpulkan biji jambu mete yang telah dikeringkan dan saya bersedia menjadi penampungnya.

  1. Membentuk Lembaga Pendidikan Keterampilan agar semua perempuan desa berdaya
Kursus menjahit di daerah umumnya mahal karena jika perempuan bisa menjahit mudah mendapat pekerjaan di perusahaan konfeksi. Tapi kemampuan menjahit untuk membuka jasa menjahit pakaian sendiri bukan pilihan bijak karena ongkos jahit dinilai mahal dibanding membeli baju jadi yang harganya super murah. 



Menggerakkan program PKK secara kontinyu dan berkelanjutan ke desa – desa dengan keterampilan yang variatif dan disesuaikan dengan permintaan pasar.

  1. Sosialisasi kesehatan reproduksi dan pentingnya pendidikan
Pilihan menikah di usia dini (mulai 13 tahun) selain karena faktor ekonomi juga karena keterbatasan pengetahuan soal kesehatan organ reproduksi. Mereka tidak tahu jika organ reproduksi anak belum siap untuk melakukan hubungan seks, hamil dan melahirkan. Secara psikologis anak pun belum siap berumahtangga, tak heran jika usia pernikahan umumnya pendek. Untuk itu penting mensosialisasikan dampak negatif menikah di usia dini dan ini bisa dilakukan melalui program posyandu. 




Kesuksesan seorang  warga yang mencari nafkah di kota atau luar negeri umumnya tidak menggerakkan orang tersebut untuk memberikan pendidikan layak (sekolah) pada anak - anaknya. Artinya, sekolah atau pendidikan tidak menjadi skala prioritas walaupun mereka mampu. Hal ini karena mereka masih menggunakan pola pikir lama, bahwa sekolah tetap berujung menjadi kuli di kota. Peran guru menjadi penting yaitu menanamkan pola pikir baru pada anak-anak didiknya bahwa menuntut ilmu sepanjang hayat adalah penting dan dianjurkan dalam agama karena ilmu yang membentuk masa depan mereka, dunia dan akhirat. 

 Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes blog VOA



*foto-foto diunduh dari google
referensi : situs voa Indonesia
                situs migran care
                kementrian pendidikan dan kebudayaan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...