Minggu, 04 Desember 2011

Pro Kontra Imunisasi

Soal pro dan kontra imunisasi bukan hal baru ternyata (saat awal-awal jadi mom merasa ini isu baru). Berawal dari sebuah pamplet, sekitar dua tahun yang lalu saya dan suami ikut seminar kontra imunisasi. Keluar dari ruang seminar kami dibuat ragu dan limbung dengan imunisasi yang sudah diberikan pada si kecil dan yang akan diberikan (waktu itu si kecil Azka berumur 1 tahun lebih). Soal kehalalannya, motif politik dan ekonomi di balik vaksin dan efek negatif yang mungkin timbul. Namun dibalik keraguan diimunisasi saya khawatir terjadi apa-apa dengan si kecil jika tidak diimunisasi salah satu sebabnya mungkin karena kami sekeluarga (kelg saya dan suami) adalah produk imunisasi. Saya teringat cerita mama yang harus berjalan cukup jauh (waktu itu kami tinggal di sebuah kota kabupaten) untuk bisa mengimunisasi kami di sebuah puskesmas. Sedikit mata kuliah  biologi dan mikrobiologi di bangku kuliah membuat saya pun mengerti kerja vaksin imunisasi dan bagaimana mendapatkannya.

Dengan berjalannya waktu (terhitung setelah mengikuti seminar kontra imunisasi) keraguan saya terhadap beragam argument kontra imunisasi menguap dalam arti saya menyerahkannya pada yang kuasa. Ini hanya bentuk usaha saya sebagai orang tua melindungi anaknya karena jika berharap dari kekebalan tubuhnya sendiri saya khawatir terlebih ada masanya si kecil susah makan dan pilih-pilih makanan.

Satu tahun berselang saya ikut seminar soal (pro) imunisasi yang diadakan sebuah majalah berthema parenting. Ini  mengusir kekhawatiran saya soal imunisasi untuk si kecil karena faktanya tidak semenyeramkan yang disodorkan golongan yang kontra imunisasi. Ok memang ada efeknya negatifnya yang disebut dengan istilah KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) seperti demam dsb tapi untuk efek negative yang fatal perbandingannya sangat kecil.


Di acara seminar itu diceritakan juga mengenai daerah di beberapa kota kecil yang sebagian besar warganya menolak mengimunisasi anaknya dengan alasan tidak halal dan berefek negative (persis argument yang dilontarkan pasa seminar kontra imunisasi), sementara pengetahuan sebagian besar warga masyarakat kota-kota kecil ini soal gizi, ketahanan tubuh anak dan kebersihan minim. Akibatnya tercatat lebih dari 5 anak terserang wabah polio. Kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab? Bagaimana masa depan anak-anak ini?
Nah, sedikit bicara soal  motif politik atau ekonomi yang selama ini dijadikan bahasan di kalangan yang kontra, saya jadi teringat banyak produk yang kita konsumsi tidak lepas  dari motif itu;   produk obat lain, makanan, minuman, film, fashion…yang banyak diimport dari luar dan kita kadang merasa bangga menggunakannya bahkan merasa itu jadi produk lokal karena pabriknya ada disini.
Soal kehalalan, fatwa mui sudah menghalalkan, dimana tentunya keputusan itu sudah diambil dengan ‘ilmu’ yang mereka miliki. 

Dari kedua seminar yang saya ikuti itu, saya merasa lebih bisa bijak menilai berbagai argument yang pro maupun yang  kontra imunisasi.  

Menjaga kekebalan tubuh anak dengan makanan bergizi, memelihara kebersihan adalah hal penting dan  tentunya yang tak kalah penting berdoa untuk kesehatan dan kebaikannya, bismillah.

Ingin tahu lebih banyak soal pro kontra imunisasi coba  link ini  muslim.co.id

3 komentar:

  1. halal haram tentu ada sebabnya. halal haram tentu karena juga sudah ada aturannya. di satu sisi imunisasi baek untuk tubuh, tapi jelek di sisi lain. terutama dapat mengurangi kecerdasan anak. dan sebenarnya imunitas anak sejak lahir hingga dua tahun itu sudah tercipta sejak lahir, dan imunitas itu ditambah lagi dg asi yang menjadi makanan anak yang sangat luar biasa sehat dan bergizi. ponakan2 saya dan anak2 saya tidak berimunisasi sebenernya bukan kajian halal haram saja, tapi karena keilmiahan imunitas anak yang ada pada anak. salam

    BalasHapus
  2. salam kenal :) setuju mas...sayangnya tidak semua anak punya imunitas yang baik (karena tergantung gizi, faktor lingkungan dss termasuk ASi yang tidak semua ibu memiliki ASI cukup untuk buah hatinya atau karena satu lain hal tidak bisa memberikan ASI - yang terakhir kenyataan yang menyedihkan n bikin stress seorang ibu ...

    bagi saya imunisasi hanya sebuah alternatif 'berusaha'.
    salam...

    BalasHapus
  3. Salam kenal Mbak....
    Halal haram vaksin memang jadi perdebatan tapi untuk masalah politik, ekonomi rasanya tidak menjadi biang ya. Kalo masalah ekonomi jelas lebih murah mencegah daripada mengobati, masalah politik? Vaksin dasar semua buatan negeri sendiri kecuali vaksin yang harganya ratusan ribu rupiah di dokter praktek. Vaksin mengurangi kecerdasan? Rasanya nggak sampai begitu deh, kalo mengurangi kekuatan kuman sih iyah.....

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...