Sabtu, 10 Desember 2011

oleh-oleh miniworkshop parenting : Bicara Efektif pada Anak



Beautiful mind is learning parent. kata itu menurut saya cukup mewakili inti dari miniworshop yang diadakan majalah ayahbunda di café Kintamani Bogor siang tadi dengan narasumber Alex Sriwijoeno seorang psikolog dan inspiring speaker.  Yap, saya merasa dicubit, disindir bahkan di tampar dengan materi yang diuraikan pembicara. Apa yang selama ini saya ‘komunikasikan’ dengan si kecil ternyata banyak salahnya. Dan bukan tidak mungkin kesalahan-kesalahn yang saya buat tanpa saya sadari (karena tidak tahu ilmunya) ini berkontribusi  negative pada  pembentukan karakter, pribadi dan pola pikirnya. Contoh sederhananya adalah, saya lebih banyak memposisikan diri sebagai orang tua ketika berbicara/mengkomunikasikan sesuatu dengan anak. Misal, soal disiplin yang saya terapkan pada si kecil perihal gosok gigi dan bersih2 sebelum tidur atau lamanya menonton. disiplin yang saya ajarkan dan terapkan Alhamdulillah berhasil. Sudah hampir satu tahun saya tidak perlu ‘bersitegang’ dengan si kecil Azka ketika memintanya menggosok gigi sebelum tidur (bahkan jika saya lupa dia yang mengingatkan). Tapi cara saya ketika pertama kali menerapkan disiplin salah. Saya memaksa kadang degan nada tinggi. Atau dengan penekanan, “Azka harus nurut sama mama”. Atau bahkan ancaman, gak diajak jalan-jalan lah dsb. 

Bahkan jarnag terpikirkan oleh saya untuk memposisikan tubuh untuk selalu sejajar dengannya saat bicara. Hanya saat si kecil sedih saja saya biasanya bicara sambil berlutut agar mata kami sejajar.
Padahal pilihan kata-kata manis, positif  atau pikiran jernih (beautiful mind) akan membentuk anak jadi memiliki pikiran yang jernih juga dan ini tentu berpengaruh pada cara berpikir dan sikapnya kelak. Ya, karena mereka adalah copycat kita, orang tuanya.


Sebagai orang tua kadang saya merasa tidak perlu menjelaskan panjang lebar pada anak karena merasa dia belum menngerti atau sebaliknya saya merasa tidak perlu mendengar alasan dia kenapa tidak suka sayuran? Tapi menekankan harus suka sayuran karena bla…bla…bla…

Saya mengaku dan dengan bangga berkata, sayang anak tapi saya masih keberatan dan mendesah kesal ketika hendak berangkat kerja (dengan pakaian dan jilbab sudah rapih) tiba-tiba si kecil berteriak mau pup dan minta dicebokin mama. 

Akh, ternyata saya masih jauh dari smart mom. Masih harus terus belajar dan belajar. Menjadi mama ternyata proses belajar tanpa henti.

8 komentar:

  1. wah asyik nih bunda, mana oleh-oleh workshopnya :D

    BalasHapus
  2. aahh..saya belum jadi ibu...
    suatu saat tentu saya akan rasakan yg mb rasakan ya...semoga saat hari itu datang, saya sudah jauh lebih siap...^_^

    BalasHapus
  3. Aku juga kayaknya musti belajar itu -,-
    Buat praktekin ke adekku :D

    BalasHapus
  4. @auraman: oleh2nya perlu belajar lagi jadi mama yang sabar...heheh
    @nick: ayo disiapkan dari sekarang dengan banyak baca buku :D
    @Una: wah ganti nama ya...iya biar jadi berantem terus sama adiknya ya Una...

    BalasHapus
  5. ya memang harus menyejajarkan saat berbicara ini lebih efektif buat anak. dan ini harus ditahu ama orang tua. pasti kegiatan yang penuh pengetahuan baru ya

    BalasHapus
  6. Jiahhh ahaha, "iya biar jadi berantem terus sama adiknya ya Una.." Waduh kalau biar jadi berantem terus wkwk~

    BalasHapus
  7. @una : sori ..harusnya biar gak berantem terus sama adiknya komunikasinya harus efektif hehehe

    BalasHapus
  8. @rusdi : betul mas...pnasasumbernya juga ok :)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...