Kamis, 29 Desember 2011

Main Hujan


Saat kecil, saya  iri ketika hujan tiba dan melihat teman-teman yang juga tetangga saya berhujan-hujanan ria. Ya, saya ingin sekali hujan-hujanan tapi mama selalu melarangnya sebelum sempat saya mengucapkan keinginan saya. Saat yang saya tunggu-tunggu agar bisa hujan-hujanan adalah hujan turun tepat saat jam sekolah bubar. Saya akan melepas sepatu dan kaos kaki lalu bergegas pulang. Walaupun mama sudah mewanti-wanti untuk tidak pulang saat hujan tapi menunggu dijemputnya (jarak dari rumah ke sekolah dekat bisa ditempuh dengan berjalan kaki). Saya akan berbohong dengan berkata,”Tadi hujannya turun di tengah jalan.”
“Kenapa nggak berteduh?”
“Tanggung, Ma.”
“Kalau sakit bla....bla...”

Kini, saat si kecil Azka minta hujan-hujanan saya sesekali mengabulkannya dengan syarat kondisi badannya sehat, tidak ada petir dan saat hujan akan reda. Saya melarangnya hujan-hujannya saat hujan baru saja turun karena saya yakin hujan zaman sekarang dengan banyaknya polusi kendaraan bermotor dan pabrik jadi bersifat asam dan ini yang menyebabkan penyakit bukan hanya flu juga gatal pada kulit. Syarat terakhir, hujan-hujanan harus lengkap memakai sepatu boot, jas hujan dan payung. Sebenarnya ini tidak termasuk katagori hujan-hujanan kali ya, tapi syarat terakhir itu sepertinya tidak memberatkan Azka. Mata si kecil akan mengerjap sumringah saat saya membantunya mengenakan jas hujan dan sepatu boot.

Jumat, 23 Desember 2011

Hari Ibu : Pamit



“Mama kerja dulu ya, Sayang.” Foto saya di depan rumah yang diambil sekitar dua tahun yang lalu. 

Di satu sisi harus (butuh maksudnya hehehe) menunaikan tugas kantor di sisi lain beragam kekhawatiran berkecamuk di pikiran. Amankah si kecil dengan si mba nya? Bagaimana kalau si kecil jatuh? Bagaimana kalau si kecil dicubit atau dibentak? Bagaimana….? Bagaimana…..?

Dilema ibu bekerja? Kisah klasik dan klise tapi saya yakin semua ibu bekerja pernah atau mungkin masih  mengalami perasaan ini tapi hidup adalah pilihan. Menjadi working mom, full day mom, mama sabtu minggu atau working at home mom, for your children you are the best mom. There is no way to be perfect mother, and a million way to be a good one (Jill Churchil).

Dan apapun pilihan mama haruslah diperjuangkan. Saya berharap tak lama lagi bisa bekerja dari dan di rumah. Alasannya bukan sekedar ingin melihat moment-moment terbaik perkembangan si kecil lebih dari itu (mengutip ungkapannya Ainun Habibie (istri BJ Habibie) , ingin dan harus turut serta membentuk karakter dan kepribadiannya.  Celebrating mother, everyday and everywhere.



Potret ini di ikut sertakan dalam Kontes Perempuan dan Aktivitas yang di  selenggarakan  oleh  Ibu Fauzan dan  Mama Olive

Senin, 19 Desember 2011

Obrolan Serius


Tiga hari yang lalu saya dan suami terlibat obrolan serius, saat itu hampir tengah malam dan suami baru pulang kerja. Berawal dari seorang agen asuransi yang minta datang ke rumah weekend ini (kami bertemu saat asuransi mengadakan acara di sebuah mall).

Percakapan pun melebar sampai rencana keuangan untuk rentang waktu lebih jauh terutama menyangkut biaya pendidikan anak-anak (duh, biaya sekolah sekarang aja mahal ya apalagi nanti). Memang agak riskan jika tanpa perencanaan matang soal yang satu ini. Entah bagaimana akhirnya percakapan berlanjut ke soal jumlah anak. Suami tetap menginginkan tambah satu lagi (huwaaa padahal masih terasa ‘goncangannya’ saat jahitan operasi pertama di robek lagi untuk ngeluarin dede bayi) lalu soal idenya untuk saya membeli laptop yang sebenarnya bukan sekali ini saja ide itu terlontar.

Terus terang selama ini saya belum terpikir untuk memiliki laptop pribadi karena pc yang saya gunakan sekarang sudah cukup canggih terlebih setelah belum lama di up grade. “Gak ada duit akh,” kata saya. Sebenarnya kalau dihitung-hitung dan ditabung (masih tersisa dalam jumlah tak seberapa) honor saya beberapa waktu berselang cukuplah untuk membeli laptop acer atau lenovo dengan spesifikasi standar. Tapi saat itu dan sampai kini yang  terbayang di benak saya adalah kitchen set. Jadi saat hari sabtu berikutnya dan ternyata saldo saya bertambah. Saya langsung bilang ke suami,”Bi, lihat-lihat kitchen set yuk.”

Saya tidak hobi memasak tapi harus masak setiap hari (selain irit saya tidak cocok beli di luar karena biasanya masakan di kebanyakan warnas  pake msg belum lagi higienitasnya – ke parnoan ini terlebih karena saya terbiasa makan masakan mama bahkan saat kuliah bekal makan siang dari rumah supaya irit). Saya ingin dapur saya enak dan nyaman untuk nongkrong baca buku selain sesekali bereksperimen dengan resep baru.

“Jadi mau beli kitchen set atau laptop nich.”
“Gak cukup duitnya buat belu laptop mah.”
“Aa pinjemin. Sisanya boleh di cicil.”
“Beli laptop atau kitchen set ya?” guman saya
“Dua-duanya aja.”
Saya mencibir.
 “Kalau beli laptop bisa beli kitchen set kalau beli kitchen set gak bisa beli laptop.”
 
Jujur, sebenarnya saya tidak berani beli laptop karena jika saya memiliki laptop saya merasa terbebani untuk secara maksimal memanfaatkannya. Bukan sekedar untuk ngenet atau nulis-nulis yang gak jelas.
Dan suami tahu betul ketakutan saya itu tanpa pernah saya katakan. Ya, dia tahu mental istrinya yang ‘payah’ soal  keberanian menghadapi tantangan yang satu ini.

Pilihan Kendaraan untuk Berlibur

Senin, 12 Desember 2011

Enjoy Maternity Leave : Me Time


 

Setelah lebih dari dua mingu sejak pemesanan akhirnya buku-buku yang saya pesan sampai. Walaupun gak kapok beli buku via online tapi sepertinya jika selama ini menunggunya mikir dua kali.  Harganya memang lebih murah lebih-lebih jika beli lebih dari dua buku tapi rasanya tidak sebanding dengan masa menantinya.  Ketiga buku yang saya pesan buku-buku berthema parenting, dua diantaranay saya beli  setelah baca resensinya. Ditengah makin sempitnya waktu me time (setelah jadi mama dari dua anak) keinginan untuk baca n nulis kok nambah ya?  Btw,semoga rejeki buat nambah  ilmunya dan nambah waktu buat anak-anak juga  nambah  heheheh.

Buku lain yang menemani me time selama masa cuti melahirkan ini adalah buku-buku yang dipinjamkan mbak Arin.. Kami janjian ketemu waktu acaranya miniworkshop Bicara Efektif pada Anak. Sambil mendengarkan narasumber  sesekali kami bikin diskusi sendiri mengenai buku-buku yang kami bawa untuk ditukar pinjam hehehe…lebih tepatnya mengomentari dan mengkritik buku-buku yang kami bawa. 

 

Dhila13 Photo Challenge: Inspirasi

Ini adalah Pa Suparmin dan kios Buku dan Majalah bekasnya. terletak di belakang terminal baranang siang Bogor. Pilihan tempat yang saya pikir kurang tepat karena jalan di depannya selalu macet oleh angkutan umum, tempat mangkalnya para pengamen dan anak jalanan, deretan kanan dan kiri kios ini didominasi warung nasi, kelontong, tempat penitipan motor dan toilet umum. sementara pengunjung terminal kebanyakan pekerja (kerja di jakarta) yang pergi pagi pulang malam.

Di dorong naluri hobi lama saat masih kuliah di Bandung dulu (berburu buku bekas berkualitas dengan harga miring) suatu sore sepulang kerja saya mampir.  kami terlibat obrolan, tepatnya saya yang nanya ini itu hehehe. Namanya Suparmin dan sudah lima tahun berjualan buku di tempat ini, sebelumnya berjualan buku dan majalah bekas juga di Jakarta. Dan ketika saya tanya alasannya jualan buku,"Karena saya suka membaca."

Jawaban yang sederhana namun saya pikir butuh keberanian. Saya yang ngaku suka buku dan suka nulis pun belum berani membuka kios buku (tanpa modal dan jaringan kuat) atau melepaskan label karyawan untuk jadi full time writer (walaupun disupport suami) karena membeli buku dan membaca masih menempati prioritas ke sekian (atau mungkin tidak ada dalam prioritas) pada kebanyakan masyarakat negeri ini.


“Foto disertakan pada Bukan Kontes Biasa: TASBIH 1433 H di Blog Dhila13.”

Sabtu, 10 Desember 2011

oleh-oleh miniworkshop parenting : Bicara Efektif pada Anak



Beautiful mind is learning parent. kata itu menurut saya cukup mewakili inti dari miniworshop yang diadakan majalah ayahbunda di cafĂ© Kintamani Bogor siang tadi dengan narasumber Alex Sriwijoeno seorang psikolog dan inspiring speaker.  Yap, saya merasa dicubit, disindir bahkan di tampar dengan materi yang diuraikan pembicara. Apa yang selama ini saya ‘komunikasikan’ dengan si kecil ternyata banyak salahnya. Dan bukan tidak mungkin kesalahan-kesalahn yang saya buat tanpa saya sadari (karena tidak tahu ilmunya) ini berkontribusi  negative pada  pembentukan karakter, pribadi dan pola pikirnya. Contoh sederhananya adalah, saya lebih banyak memposisikan diri sebagai orang tua ketika berbicara/mengkomunikasikan sesuatu dengan anak. Misal, soal disiplin yang saya terapkan pada si kecil perihal gosok gigi dan bersih2 sebelum tidur atau lamanya menonton. disiplin yang saya ajarkan dan terapkan Alhamdulillah berhasil. Sudah hampir satu tahun saya tidak perlu ‘bersitegang’ dengan si kecil Azka ketika memintanya menggosok gigi sebelum tidur (bahkan jika saya lupa dia yang mengingatkan). Tapi cara saya ketika pertama kali menerapkan disiplin salah. Saya memaksa kadang degan nada tinggi. Atau dengan penekanan, “Azka harus nurut sama mama”. Atau bahkan ancaman, gak diajak jalan-jalan lah dsb. 

Bahkan jarnag terpikirkan oleh saya untuk memposisikan tubuh untuk selalu sejajar dengannya saat bicara. Hanya saat si kecil sedih saja saya biasanya bicara sambil berlutut agar mata kami sejajar.
Padahal pilihan kata-kata manis, positif  atau pikiran jernih (beautiful mind) akan membentuk anak jadi memiliki pikiran yang jernih juga dan ini tentu berpengaruh pada cara berpikir dan sikapnya kelak. Ya, karena mereka adalah copycat kita, orang tuanya.


Sebagai orang tua kadang saya merasa tidak perlu menjelaskan panjang lebar pada anak karena merasa dia belum menngerti atau sebaliknya saya merasa tidak perlu mendengar alasan dia kenapa tidak suka sayuran? Tapi menekankan harus suka sayuran karena bla…bla…bla…

Saya mengaku dan dengan bangga berkata, sayang anak tapi saya masih keberatan dan mendesah kesal ketika hendak berangkat kerja (dengan pakaian dan jilbab sudah rapih) tiba-tiba si kecil berteriak mau pup dan minta dicebokin mama. 

Akh, ternyata saya masih jauh dari smart mom. Masih harus terus belajar dan belajar. Menjadi mama ternyata proses belajar tanpa henti.

Minggu, 04 Desember 2011

Pro Kontra Imunisasi

Soal pro dan kontra imunisasi bukan hal baru ternyata (saat awal-awal jadi mom merasa ini isu baru). Berawal dari sebuah pamplet, sekitar dua tahun yang lalu saya dan suami ikut seminar kontra imunisasi. Keluar dari ruang seminar kami dibuat ragu dan limbung dengan imunisasi yang sudah diberikan pada si kecil dan yang akan diberikan (waktu itu si kecil Azka berumur 1 tahun lebih). Soal kehalalannya, motif politik dan ekonomi di balik vaksin dan efek negatif yang mungkin timbul. Namun dibalik keraguan diimunisasi saya khawatir terjadi apa-apa dengan si kecil jika tidak diimunisasi salah satu sebabnya mungkin karena kami sekeluarga (kelg saya dan suami) adalah produk imunisasi. Saya teringat cerita mama yang harus berjalan cukup jauh (waktu itu kami tinggal di sebuah kota kabupaten) untuk bisa mengimunisasi kami di sebuah puskesmas. Sedikit mata kuliah  biologi dan mikrobiologi di bangku kuliah membuat saya pun mengerti kerja vaksin imunisasi dan bagaimana mendapatkannya.

Dengan berjalannya waktu (terhitung setelah mengikuti seminar kontra imunisasi) keraguan saya terhadap beragam argument kontra imunisasi menguap dalam arti saya menyerahkannya pada yang kuasa. Ini hanya bentuk usaha saya sebagai orang tua melindungi anaknya karena jika berharap dari kekebalan tubuhnya sendiri saya khawatir terlebih ada masanya si kecil susah makan dan pilih-pilih makanan.

Satu tahun berselang saya ikut seminar soal (pro) imunisasi yang diadakan sebuah majalah berthema parenting. Ini  mengusir kekhawatiran saya soal imunisasi untuk si kecil karena faktanya tidak semenyeramkan yang disodorkan golongan yang kontra imunisasi. Ok memang ada efeknya negatifnya yang disebut dengan istilah KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) seperti demam dsb tapi untuk efek negative yang fatal perbandingannya sangat kecil.


Di acara seminar itu diceritakan juga mengenai daerah di beberapa kota kecil yang sebagian besar warganya menolak mengimunisasi anaknya dengan alasan tidak halal dan berefek negative (persis argument yang dilontarkan pasa seminar kontra imunisasi), sementara pengetahuan sebagian besar warga masyarakat kota-kota kecil ini soal gizi, ketahanan tubuh anak dan kebersihan minim. Akibatnya tercatat lebih dari 5 anak terserang wabah polio. Kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab? Bagaimana masa depan anak-anak ini?
Nah, sedikit bicara soal  motif politik atau ekonomi yang selama ini dijadikan bahasan di kalangan yang kontra, saya jadi teringat banyak produk yang kita konsumsi tidak lepas  dari motif itu;   produk obat lain, makanan, minuman, film, fashion…yang banyak diimport dari luar dan kita kadang merasa bangga menggunakannya bahkan merasa itu jadi produk lokal karena pabriknya ada disini.
Soal kehalalan, fatwa mui sudah menghalalkan, dimana tentunya keputusan itu sudah diambil dengan ‘ilmu’ yang mereka miliki. 

Dari kedua seminar yang saya ikuti itu, saya merasa lebih bisa bijak menilai berbagai argument yang pro maupun yang  kontra imunisasi.  

Menjaga kekebalan tubuh anak dengan makanan bergizi, memelihara kebersihan adalah hal penting dan  tentunya yang tak kalah penting berdoa untuk kesehatan dan kebaikannya, bismillah.

Ingin tahu lebih banyak soal pro kontra imunisasi coba  link ini  muslim.co.id

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...