Jumat, 09 September 2011

Endorsement


 Parodi oleh Samuel Mulia adalah kolom yang jarang saya lewatkan untuk di baca di kompas Minggu. Minggu 14agustus lalu themanya agak menggelitik. Yang belum sempat baca saya copas sedikit ya ( dengan versi saya). Ceritanya Samuel Mulia teringat salah seorang temannya yang beberapa waktu lalu menerbitkan buku dan meminta eder  seorang penulis ternama tapi tunggu punya tunggu sang penulis kesohor tidak membuatkan endorsement  dan ini membuat penulis pemula pesimis karena pikirnya tentu ‘harga’ buku akan beda jika di tanpa endorsement.

Well, ini mengingatkan saya pada beberapa buku yang belakangan ini bertabur endorsement yang membuat saya sebagai konsumen tertarik untuk baca alias beli. Trik marketing berhasil. Memang ada buku yang isinya sesuai di tulis….ada juga yang bikin saya mengerutkan kening seraya berujar dalam hati….’buku bagus menurut loe belum tentu bagus menurut gue’ atau ‘ini buku biasa banget sich’. 

Kembali ke tulisan Samuel Mulia, dikritik tentu saja sikap penulis yang tidak  pede dengan tulisannya sendiri sehingga merasa sangat perlu endorsement, terlebih dari orang ‘terkenal’ .

Apa ini yang menjadi salah satu sebab literasi di Indonesia kurang kritik? Bukan hanya terbatas karya sastra lho.  Sejujurnya saya pun kurang berani dalam mengkritik buku (dalam bentuk tertulis dan dipublikasi di blog atau media social) terlebih buku orang ternama alias memang pernah membuat buku bermutu dan best seller. Pertama, karena budaya dikritik belum menjadi bagain dari budaya bangsa ini, jadi kalau sedikit dikritik harus siap balik dihujat dan saya belum siap terlebih kapasitas hanya sebagai pembaca.

Berdasarkan pengalaman saya dari membeli dan membaca buku,  tidak semua buku yang ditulis penulis yang sempat menuliskan buku bagus dan best seller atau bertabur endorsement    tulisan  di buku berikutnya bagus dan bermutu. Kecuali beberapa penulis yang memang sudah mumpuni.  Pada akhirnya waktu sendiri yang akan menentukan apakah sebuah buku (karya tulis) benar-benar berkualitas atau best seller karena promo dan penulisnya yang sudah popular terlebih dahulu.

Buku atau karya tulis yang bagus dan bermutu bisa bertahan melintasi zaman, sebut saja buku seri klasik karya  Lucy M. Montgomery  yang tetap menarik dan terasa bobotnya walaupun sudahberumur 100 tahun. Atau buku-buku sastrawan dunia misalnya Hemingway, Tolstoy atau Pramoedya Ananta Toer.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...