Minggu, 02 Oktober 2011

Jadi Kontributor Lepas

Tulisan yang mejeng di AyahBunda Edisi 14 Bulan Juli 2011

Tulisan sebelum di edit oleh editor AB
Konsultan dr Ny. Erry, SpM., MKes. Peneliti di Puslitbang Depkes Jakarta dan dokter mata di RS Hermina Bogor  dan RS Hermina Depok
  1. Wortel Membuat Mata Sehat
Kita pikir mengkomsumsi banyak wortel dapat membuat tajam penglihatan
Faktanya  bukan hanya wortel, dalam hal ini beta karoten, nutrisi yang dibutuhkan mata tetapi juga lutein dan zeaxanthin zat yang banyak ditemui pada sayuran berwarna hijau tua seperti brikolo, bayam, kale dan kuning telur. Pada mata khususnya retina (macula lutea) terdapat sel-sel fotoreseptor batang dan kerucut yang berfungsi untuk mata beradaptasi terhadap terang, gelap dan kontras, nutrisi yang terdapat pada wortel (carotein) dan sayur hijau (lutein dan zeaxantin) bekerja secara biomolekular di dalam sel-sel fotoreseptor sehingga penglihatan lebih kontras dalam melihat objek yang berwarna.
Yang tidak kalah penting adalah memberikan nutrisi yang seimbang pada si kecil untuk menjaga kesehatannya.
  1. Mata bening adalah mata yang sehat
Kita pikir si kecil bermata bening mengindikasikan bahwa matanya sehat.
Faktanya mata sehat secara anatomis belum tentu sehat secara fungsional, begitu pun sebaliknya. Mata disebut sehat secara fungsional bila tajam penglihatannya optimal.
Penglihatan anak sejak dini harus optimal sesuai dengan usianya, karena masa perkembangan tajam penglihatan yang sangat pesat terjadi pada usia kurang dari lima tahun.
Anak-anak sering  tidak menyadari bahwa dirinya  memiliki masalah dengan tajam  penglihatannya sampai ia menginjak bangku sekolah, terlebih jika hanya satu mata yang tajam penglihatannya tidak baik.  Akibatnya mata yang tajam penglihatannya tidak baik ini tidak digunakan untuk melihat sehingga menimbulkan mata malas (lazy eyes) dikemudian hari. Jadi jika si kecil tidak dibawa ke dokter mata untuk dilakukan screening,  tidak akan terdeteksi.
Beberapa ciri mata sehat secara anatomis diantaranya; kedudukan bola mata lurus dan simetris, kelopak mata tenang,  tidak nampak benjolan, turun atau bengkak, lapisan permukaan bola mata jernih, halus dan rata. Lebih dari itu mata sehat adalah mata yang memiliki tajam penglihatan yang seimbang antara kiri dan kanan.
  1. Masalah mata pada anak
Kita pikir masalah mata pada anak hanya mata minus (miopi atau rabun jauh) dan penggunaan kaca mata terlalu dini pada si kecil akan memperburuk penglihatannya.
Faktanya ada beberapa gangguan refraksi  mata yang mungkin terjadi pada si kecil selain rabun jauh yaitu rabun dekat (hipermetropia) yang bisa dikoreksi dengan kacamata plus dan  astigmatism yang bisa dikoreksi dengan kaca mata silindris.
Koreksi yang dilakukan sejak dini pada si kecil akan menghindarinya dari mata malas dan ambliovia.  Salah satu penyebab ambliovia adalah akibat dari mata malas yang terlambat dikoreksi sehingga tajam penglihatan tidak optimal walaupun sudah dilakukan  koreksi dengan pengunaan kaca mata (plus atau minus).
Jika si kecil telah menggunakan kaca mata perlu dilakukan pemeriksaan rutin setiap 4 atau 6 bulan sekali karena anatomis mata anak masih berkembang, ada kecenderungan  sumbu bola mata berubah yang menyebabkan ukuran lensa kaca mata bertambah, berkurang atau mungkin tetap.

  1. Mata Juling
Kita pikir masalah mata juling pada si kecil tidak bisa dikoreksi
Faktanya  mata juling atau strabismus adalah kelainan mata ketika kedua mata tampak tidak searah ketika melihat satu objek. Selain faktor keturunan mata juling bisa disebabkan oleh mata malas (lazy eyes). 
Perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter untuk menentukan apakah mata juling diakibatkan kelainan otot mata (biasanya genetis) atau mata malas.  Jika karena mata malas koreksi dilakukan dengan penggunaan kata mata minus atau plus. Jika karena kelainan otot koreksi dilakukan dengan operasi.
  1. Ukuran Mata
Kita pikir si kecil yang bermata besar (belo) lebih tajam penglihatannya dibanding  yang bermata sipit
Faktanya ukuran mata bersifat anatomis dan tidak  berpengaruh pada tajam penglihatannya. 
  1. Jarak Pandang Bayi
Kita pikir bayi yang baru lahir tidak bisa melihat.
Faktanya bayi baru lahir dapat langsung melihat hanya saja ia sulit memfokuskan pandangnya. Itu sebabnya selama 2-3 bulan pertama bayi nampak tidak bisa melihat.  Jarak pandang bayi baru lahir adalah 25-30 cm artinya jika kita meletakkan objek yang lebih dekat atau jauh dari rentang tersebut akan nampak samar-samar dalam pandangannya.
Baru pada usia 3 bulan bayi bisa terus menatap benda yang bergerak dari satu sisi ke sisi lain sejauh 180 derajat. Jadi tajam penglihatan dan anatomis mata bayi akan berkembang sesuai usinya.
  1. Warna Mata
Kita pikir mata berwarna lebih baik dari hitam putih
Faktanya mata bayi baru kadang terlihat bening kebiruan, dengan bertambahnya usia matanya menjadi bening bersih. Berbeda dengan mata orang dewasa yang kadang terlihat kusam, kecoklatan atau kekuningan. Yang membedakan warna tersebut adalah sclera atau putih mata. Bayi dan anak-anak sclera masih tipis dan memunculkan warna yang mendasarinya sehingga nampak sedikit biru.  Pada orang tua, deposit lemak pada sclera dapat membuatnya terlihat sedikit kuning.
  1. Kebutaan pada Anak
Kita pikir kebutaan pada anak tidak bisa diditeksi dini
Faktanya kebutaan ada yang bersifat genetis. Kebutaan yang terjadi pada anak yang tidak dibawanya sejak lahir dapat diditeksi dini.  
            Beberapa masalah yang mungkin dialami bayi yang biasanya mengarah kepada masalah
            mata. Di antaranya:
  1. Bayi terlahir prematur atau berat badan rendah. Bayi-bayi ini biasanya terpapar oksigen tinggi sehingga mengalami problem retina mata. Lakukan pemeriksaan dengan RetCam.Namun tidak semua bayi premature mengalami hal seperti ini.
  2. Bayi tidak memberikan respon ketika terjadi perubahan dari gelap ke terang atau sebaliknya.
  3. Bola mata tidak normal sejak lahir (dari segi bentuk, ukuran dan gangguan gerakan)
Setelah 4 bulan bayi masih juling atau tidak ada kontak mata saat bertatapan meskipun pada jarak dekat.

  1. Buta Warna
Kita pikir buta warna dapat disembuhkan
Faktanya buta warna bukan ketidakmampuan si kecil membedakan warna-warna tapi ketidakmampuan melihat warna-warna tertentu atau seluruh warna sehingga dimatanya hanya nampak warna hitam, putih dan abu-abu.
Kebanyakan buta warna bersifat diturunkan (dari ayah atau ibu). Salah satu penyebabnya adalah kelainan atau kerusakan pada sel kerucut yang terdapat pada retina. Retina memiliki tiga sel kerucut yaitu untuk warna merah, biru dan hijau. Jika sel kerucut berfungsi sebagian (hanya memiliki 2 sel kerucut) maka penderita hanya bisa membedakan warna-warna tertentu misalnya merah hijau atau kuning biru dan tidak bisa melihat warna-warna turunannya (sekunder). Jika sel kerucut sama sekali tidak berfungsi (hanya memiliki satu sel kerucut) maka maka penderita buta warna benar-benar tidak tahu warna-warna yang dilihatnya, penderita hanya bisa melihat hitam, putih, dan abu-abu, ini yang disebut buta warna total.
  1. Penyakit pada mata
Kita pikir  Mata merah dan bintilan pada si kecil hanya disebabkan infeksi
Faktanya selain disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau jamur, keluhan mata merah dan bintilan pada si kecil bisa juga disebabkan oleh alergi.
Jika si kecil bermata merah, sering menggosok-gosokkan mata tapi tidak mengeluarkan kotoran kemungkinan besar si kecil alergi terhadap debu.
Sedangkan bintilan bisa juga disebabkan oleh alergi makanan berprotein tinggi. Ini terjadi jika si kecil tidak mengkonsumsi makankan berprotein (lauk) dan sayuran dengan seimbang.

  1. Wortel sebagai Obat
Kita pikir mengkomsumsi wortel dapat menyembuhkan beragama penyakit mata dan gangguan refraksi mata (rabun jauh, rabun dekat atau astigmatism)
Faktanya Vitamin A pada wortel menjamin regenerasi sel lebih baik dan antioksidannya mampu menangkal infeksi. Jadi jika si kecil sakit mata karena infeksi mengkomsumsi wortel bukanlah obatnya. Infeksi bisa disebabkan virus, bakteri, jamur atau protozoa dan mengobatannya dengan antibiotik.
Sedangkan gangguan refraksi  mata disebabkan bayangan yang dibentuk lensa mata tidak tepat jatuh di retina mata. Koreksi dilakukan dengan penggunaan kacamata.
            Konsumsi vitamin A berlebihan dapat menimbulkan kelainan dapat menyebabkan mual,  
            kelainan fungsi hati dan menggangu penyerapan calcium oleh tulang.

 Point Penting Lain

Jika kita melihat gejala-gejala berikut ini pada si kecil, mungkin ia memiliki masalah dengan tajam penglihatannya;
  1. Sering menyipitkan mata ketika melihat sesuatu
  2. Sering berkedip atau menggosok-gosokkan mata ketika melihat sesuatu
  3. Melompati satu baris atau beberapa kata ketika membaca
  4. Melihat kesatu sisi dengan berlebihan (memiringkan kepala)
  5. Posisi duduk salah ketika membaca buku





2 komentar:

  1. mbak kalo bikin artikel esai ini harus disertakan referensinya,apa tidak ? Kira2 ketentuannya di AB utk artikel BABY ini berapa ya mbak. Thks bgt, apalagi tulisan mbak sangat menginspirasi ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh dicantumin boleh nggak, panjang tulisan sekitar 4 halaman mba...

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...